Wednesday, December 15, 2010 

Suporter Beo,Budaya Korupsi dan Opini di BBC Siaran Indonesia



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


"Prestasi tim sepak bola Indonesia dalam Piala AFF sangat menggembirakan sejauh ini.Antara lain menang atas Malaysia 5-1 dalam penyisihan Grup A.

Indonesia akan menghadapi Filipina dalam semifinal 16 Desember 2010, setelah menggilas Laos 6-0, juga dalam babak penyisihan.

Apakah keberhasilan tim Indonesia ini karena pelatih Alfred Riedl atau ada faktor lain?

Apakah Indonesia perlu pula menambah pemain naturalisasi untuk meningkatkan prestasi?"

Itulah pertanyaan menarik yang diajukan dalam kolom Forum-Ungkapan Pendapat dari situs Radio BBC Siaran Indonesia. Hari Minggu lalu, 12/12/2010, saya ikut berperan serta menyuarakan opini tentangnya.

Isi komentar saya, tidaklah baru.
Saya sebut komentar beo.
Karena sudah berkali-kali saya tulis di blog ini pula.

Bahwa prestasi timnas kali ini tetap saja masih memiliki fondamen yang lemah. Ini prestasi yang kebetulan saja naik,berkat olesan balsem dengan tampilnya pemain naturalisasi seperti Christian Gonzalez dan Irfan Bachdim.

Tetapi secara keseluruhan, bangunan itu tetap mudah crumble, mudah runtuh dan rapuh, seperti balon berisi air yang jatuh di punggung landak.

Dibuat lumpuh korupsi. Karena menurut saya, seperti juga saya ungkapkan untuk kolom serupa, di Radio BBC Siaran Indonesia pula di tahun 2006 (4 Juli 2006) bahwa : "Indonesia itu Brasilnya Asia”, kata Peter Velappan, Sekjen Konfederasi Sepakbola Asia (AFC). Pemain sepakbola Indonesia, lanjutnya, bermain dengan intelejensia dan bakat unik yang langka di dunia.

Bakat pemain Indonesia lebih hebat dibanding Korea Selatan atau Jepang. Pendapat Velappan itu dimuat di majalah Asiaweek (5/6/1998), yang menyoroti sepakbola Asia Tenggara yang tidak mampu bicara dalam Piala Dunia 1998 di Perancis itu.

Pada tahun 50-an dan 60-an, lanjut Velappan, tim-tim top Asia masa kini seperti Korea Selatan, Jepang, Arab Saudi, Kuwait sampai Emirat Arab, jangan bermimpi bisa menaklukkan tim-tim Asia Tenggara.

Tetapi karena korupsi dan salah urus yang berlarut-larut selama puluhan tahun, membuat persepakbolaan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kini ibarat terbuang dari percaturan dunia.

Selama budaya korupsi sulit terkikis di Indonesia, jangan mimpi sepakbola Indonesia mampu ikut berbicara di tingkat dunia !"

Hari Selasa (14/12/2010) malam, saya dapat telepon kejutan. Dari London. Yang menelepon adalah mBak Endang Nurdin, penyiar Radio BBC Siaran Indonesia.Rupanya opini saya itu tidak cukup bila hanya ditulis. Tetapi harus saya suarakan sendiri.

Beberapa menit sebelum kick off semifinal AFF 2010 itu, sekitar jam 18.15 WIB, suara dan opini saya (mudah-mudahan) jadi disiarkan oleh Radio BBC Siaran Indonesia.

Eforia dan buta. Mari kita saksikan apa yang terjadi dalam pertandingan semi final Piala AFF 2010 nanti. Baik pertandingan tanggal 16 Desember atau pun tanggal 19 Desember 2010

Siapa tahu, pasukan Azkals yang merasa diperlakukan secara tidak adil oleh Asean Football Federation (AFF) karena harus bertanding kandang tidak di Manila melainkan di Senayan, termotivasi untuk mengamuk dan menghancurkan impian molek yang terlanjur menggelembung di kepala jutaan publik sepakbola Indonesia yang haus akan kejayaan.

Publik bola Indonesia yang sangat mudah terbius, tidak sadar, atau terbutakan, bahwa demi strategi bisnis semata mengapa skuad Azkal Filipina itu "dikalahkan" sekaligus "dipaksakan" untuk bermain di kandang musuhnya, di Indonesia.

Kita tahu, penduduk Indonesia yang jauh lebih besar, dimana sepakbola menjadi kegemaran publik secara meluas, patut diduga kejayaan timnas Indonesia akan sangat berpengaruh positif bagi masa depan bisnis perusahaan otomotif yang menjadi sponsor utama AFF 2010 kali ini.

Dengan memakai pandangan kacamata kepentingan bisnis seperti ini,kita tidak tahu cerita sejati dibalik mukjijat dan eforia yang membawa timnas kita melenggang begitu mulus, hingga mampu mencapai babak semifinal tanggal 16 Desember 2010 nanti untuk mengarungi laga leg pertamanya.

Pencinta sepakbola yang cerdas, Anda punya pendapat kritis tentang semua slintat-slintut yang terang-benderang semacam ini ?
Saya tunggu !


Wonogiri, 15 Desember 2010

Labels: , , , , , , , ,

Sunday, January 10, 2010 

Suporter Idiot dan Membongkar Gurita, Cephalopod, Nautilus, Oktopus Sampai Ubur-Ubur Bisnis Hitam dan Korupsi Tujuh Generasi di Tubuh Sepakbola Indonesia




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Hanya bermimpi? “Cahaya itu telah musnah dari kehidupan kita,” demikian sebagian pidato radio Jawaharlal Nehru (1889–1964), 30 Januari 1948. Perdana Menteri India itu tampil di depan corong radio untuk mengumumkan kabar mengenai terbunuhnya Bapak India, Mahatma Gandhi. Lanjutnya, “kini yang ada adalah kegelapan di mana-mana.”

Itulah potongan buku dari karya Richard J. Walsh, Nehru on Gandhi (1948). Nehru sendiri adalah juga seorang pengarang buku. Karyanya yang berjudul Glimpses of World History ia tulis ketika harus mendekam beberapa kali di penjara. Totalnya selama 10 tahun, dari tahun 1921 sampai 1945, sebagai resiko sebagai pejuang kemerdekaan melawan kolonial Inggris.

Tokoh terkenal lain, seperti dipajang dalam The Book of Lists (1972), yang mampu menulis ketika berada di balik jeruji adalah novelis Spanyol, Miguel de Cervantes Saavedra (1547–1616). Ia melahirkan karya terkenalnya, Don Quixote.

Karl (Friederich) May (1842-1912), penulis Jerman, merampungkan novelnya tentang kepala suku Indian Winnetou dan kehidupan west frontier Amerika yang tidak pernah ia kunjungi, juga di penjara antara tahun 1865-1874. Adolf Hitler (1889–1945), diktator Jerman itu, merampungkan karya Mein Kampf, saat ia meringkuk di penjara benteng Landsberg tahun 1923.

Cerita-cerita itu mengingatkan ujaran dari Bung Hatta bahwa jeruji penjara tidak akan mampu membelenggu pengembaraan sesuatu ide atau pikiran seseorang. Bung Hatta yang waktu mudanya suka sepakbola, tergabung dalam klub sepak bola Young Fellow. Pemainnya terdiri anak-anak Belanda dan pribumi. Klub ini pernah menjadi juara Sumatera selama tiga tahun berturut-turut semasa Hatta menjadi anggotanya.

Bung Hatta, yang dilahirkan tanggal 14 Agustus 1902 di desa Aur Tajungkang, kini jadi bagian pusat kota Bukit Tinggi, adalah gelandang tengah, sesekali dia menjadi bek, yang tangguh. Orang-orang Belanda memberinya julukan onpas seerbar, sukar diterobos begitu saja.

Kondisi di sebalik jeruji penjara sebagai wahana untuk berkontemplasi dan mengembarakan gagasan rupanya juga mengilhami salah satu tokoh PSSI kita masa kini. Ia dijebloskan sekitar 2,5 tahun di penjara karena melakukan korupsi, tetapi begitu keluar ia langsung mencanangkan cita-cita besar : Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Sosialisasi impian itu antara lain pernah berwujud banner di yang terpajang di pinggir stadion Senayan. Bertuliskan : www.wcindonesia2022.com.

Bagi awam, alamat situs seperti itu mudah memancing kesalahfahaman berskala internasional. Ketika saya cek di Oxford Reference Shelf (CD-ROM), huruf “wc” itu dimaknai sebagai : watch committee, water closet, water cock, without charge. Sedang huruf “WC” selain disebut sebagai nomor polisi di Inggris untuk kota Chelmsford, juga berarti war cabinet, war council, water closet.

Bagi kita yang awam, situs itu mudah dikonotasikan sedang memromosikan Indonesia sebagai water closet-nya Piala Dunia di tahun itu pula. Tempat kencing dan beraknya para pemain sepakbola kelas dunia ? Atau, bila saja Piala Dunia 2022 itu bisa berlangsung di Indonesia, maka boleh jadi prestasi tim sepakbola kita juga hanya sekelas derajat keberadaan fasilitas sekelas water closet juga.

Tanda-tanda ke arah itu, bukankah bau water closet tersebut, apalagi yang ada di gedung-gedung kantor pemerintah dan fasilitas umum di Indonesia, kini sedang kita nikmati aromanya bersama-sama ?

Di SEA Games Laos 2009, kita kalah dari tuan rumah. Lalu dicukur oleh Birma. Dalam penyisihan Piala Asia 2011, kita pun tersingkir. Bermain di kandang, Ponaryo Astaman dan kawan-kawan nampak ibarat pemain anak bawang yang kehilangan akal, hanya frustrasi, ketika benar-benar kesulitan merebut bola dari lawan sepanjang permainan.

Bahkan akhirnya, seorang suporter idiot menambah keruh konstelasi pertandingan. Ia nyerobot masuk lapangan,menggiring bola, tetapi juga tetap gagal menceploskan gawang ke kubu Oman. Media-media massa kita yang juga ketularan wabah idiot justru mengglorifikasikan ulah bodoh semacam itu sebagai perbuatan hero.Katanya, ulah itu sebagai koreksi bagi PSSI dalam pengelolaan sepakbola Indonesia.

Seribu suporter idiot semacam dia pun bukan solusi yang dibutuhkan untuk kebangkitan sepakbola Indonesia. Malahan, kuat kecurigaan bahwa ulah suporter bebal tersebut hanyalah trik, yang selama ini laku keras di Indonesia sejak era Orde Baru.

Ulah murahan darinya itu semata sebagai misdirection, pengalih isu, atas kegagalan Bambang Pamungkas, Boaz Solossa dan kawan-kawan itu. Plus, tentu saja, kegagalan besar Benny Dolo, Chandra Solekan, Andidarusalam Tabusala sampai Nurdin Halid pula.

Itu nampak dari fokus media massa kita yang mencaplok mentah-mentah aksi sebiji suporter yang berulah itu. Bila kita mendapat sanksi dari FIFA, maka kegagalan demi kegagalan dari Nurdin Halid dan rezimnya selama ini segera mampu tak terlihat menonjol di balik kabut ulah bebal suporter bersangkutan.


Demo ke KPK ! Suporter Indonesia, gunakan harta berharga titipan Tuhan yang demokratis itu, yang ada di antara kedua telinga Anda. Cari dan temukan solusi yang lebih cerdas bila Anda ingin secara serius dan tulus dalam memajukan dunia sepakbola Indonesia.

Saya ingin memberikan satu iuran gagasan : silakan beramai-ramai berdemo ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kuningan itu.

Desak agar Pak Bibit Samad Rianto, Pak Chandra Hamzah dan koleganya, untuk segera melakukan aksi penyadapan massal terhadap para pelaku industri sepakbola Indonesia. Termasuk para juru propagandanya yang suka menulis dan tampil di layar kaca dengan sering menghambur-hamburkan kata-kata hiperbola dalam memoles citra pertandingan sepakbola kita.

Lalu, tayangkan di televisi.
Dan terutama pada beragam media sosial di Internet.

Lalu desak pula Depkumham untuk membangun fasilitas penjara-penjara baru khusus untuk insan-insan pelaku industri sepakbola itu.

Dari hasil rekaman itu kita berpeluang mengetahui kebobrokan paling dalam dan paling masif dalam dunia sepakbola kita.

Walau saya yakin dan bercampur kuatir, wartawan sepakbola Indonesia tak akan ada yang mampu menuliskannya, siapa tahu momen dahsyat itu akan menggugah penulisan banyak buku.

Misalnya berjudul : Membongkar Gurita, Cephalopod, Nautilus, Oktopus Sampai Ubur-Ubur Bisnis Hitam dan Korupsi Tujuh Generasi di Tubuh Sepakbola Indonesia.

Siapa tahu pula, meminjam kembali kata-kata Nehru, saat itu cahaya yang telah lama musnah dari kehidupan sepakbola kita akan kembali. Suporter sepakbola Indonesia, never give up the dreams. Jangan berhenti bermimpi dalam ikut terus memajukan sepakbola Indonesia.


Wonogiri, 10 Januari 2010

si

Labels: , , , , , , , , , , , ,

"All that I know most surely about morality and obligations I owe to football"



(Albert Camus, 1913-1960)

Salam Kenal Dari Saya


Image hosted by Photobucket.com

Bambang Haryanto



("A lone wolf who loves to blog, to dream and to joke about his imperfect life")

Genre Baru Humor Indonesia

Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau, Buku humor politik karya Bambang Haryanto, terbit 2012. Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau! Pengarang : Bambang Haryanto. Format : 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-97648-6-4. Jumlah halaman : 219. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : Februari 2012. Kategori : Humor Politik.

Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau ! Format: 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-96413-7-0. Halaman: xxxii + 205. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : 24 November 2010. Kategori : Humor Politik.

Komentar Dari Pasar

  • “HAHAHA…bukumu apik tenan, mas. Oia, bukumu tak beli 8 buat gift pembicara dan doorprize :-D.” (Widiaji Indonesia, Yogyakarta, 3 Desember 2010 : 21.13.48).
  • “Mas, buku Komedikus Erektus mas Bambang ternyata dijual di TB Gramedia Bogor dgn Rp. 39.000. Saya tahu sekarang saat ngantar Gladys beli buku di Bogor. Salam. Happy. “ (Broto Happy W, Bogor : Kamis, 23/12/2010 : 16.59.35).
  • "Mas BH, klo isu yg baik tak kan mengalahkan isu jahat/korupsi spt Gayus yg dpt hadiah menginap gratis 20 th di htl prodeo.Smg Komedikus Erektus laris manis. Spt yg di Gramedia Pondok Indah Jaksel......banyak yg ngintip isinya (terlihat dari bungkus plastiknya yg mengelupas lebih dari 5 buku). Catatan dibuat 22-12-10." (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :21.30.05-via Facebook).
  • “Semoga otakku sesuai standar Sarlito agar segera tertawa ! “ (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.50.05).
  • “Siang ini aku mau beli buku utk kado istri yg ber-Hari Ibu, eh ketemu buku Bambang Haryanto Dagelan Rep Kacau Balau, tp baru baca hlm 203, sukses utk Anda ! (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.22.28).
  • “Buku Komedikus Erektusnya sdh aku terima. Keren, mantabz, smg sukses…Insya Allah, suatu saat kita bisa bersama lg di karya yang lain.” (Harris Cinnamon, Jakarta : 15 Desember 2010 : 20.26.46).
  • “Pak Bambang. Saya sudah baca bukunya: luar biasa sekali !!! Saya tidak bisa bayangkan bagaimana kelanjutannya kalau masuk ke camp humor saya ? “ (Danny Septriadi,kolektor buku humor dan kartun manca negara, Jakarta, 11 Desember 2010, 09.25, via email).
  • “Mas, walau sdh tahu berita dari email, hari ini aq beli & baca buku Komedikus Erektus d Gramedia Solo. Selamat, mas ! Turut bangga, smoga ketularan nulis buku. Thx”. (Basnendar Heriprilosadoso, Solo, 9 Desember 2010 : 15.28.41).
  • Terima Kasih Untuk Atensi Anda

    Powered by Blogger
    and Blogger Templates