Tuesday, March 01, 2011 

PSSI, Sanksi FIFA dan Revolusi Mengubah Dunia




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


"Kami Berusaha Lindungi PSSI dari Hukuman FIFA."
Itulah tajuk berita dari situs Inilah.com yang merupakan pernyataan dari Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid (1/3/2011).

Di tengah goncangan publik sepakbola Indonesia yang hendak menghendaki dirinya lengser dari singgasana PSSI, ucapannya itu sepertinya bernada heroik. Nasionalistis. Cerminan sikap patriotis.

Tetapi bila Anda mampu mengingat kinerja dirinya selama ini, kiranya memperoleh sanksi dari FIFA atau pun tidak, sepakbola Indonesia tetaplah terancam berstatus paria apabila tetap di bawah kepemimpinannya.

Status paria itu tidak hanya di tingkat Asia, apalagi dunia. Di tingkat Asia Tenggara pun, seperti di Piala AFF 2010 yang lalu, kita tidak pernah memperoleh posisi terhormat.

Mengapa ?

Hampir 4 tahun lalu, saya menulis di blog saya ini betapa senyatanya PSSI itu alergi terhadap pertandingan internasional. PSSI pimpinan Nurdin Halid lebih bergairah mengutak-utik sepak bola domestik, karena di sanalah uang besar itu berada.

Terkait hal satu ini saya ingat lelucon Yahudi tentang seseorang penjudi yang selalu menang dalam berjudi kartu. Tetapi selalu kalah dalam taruhan pacuan kuda. Mengapa selalu kalah dalam judi pacuan kuda ? Karena kuda-kuda pacuan itu tidak bisa dikocoknya !

Nurdin Halid dan rejimnya jelas tidak mampu “mengocok” hasil-hasil pertandingan tim kita di ajang internasional. Tetapi untuk sepak bola domestik, ia mampu melakukannya.

Ia pernah bilang dengan bangga bahwa kompetisi di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, baik dalam jumlah klub mau pun luas wilayahnya. Itulah proklamasi pengesahan betapa Nurdin cenderung memilih menjadi katak dalam tempurung. Atau burung dalam sangkar yang berpikiran bahwa cat biru atap sangkarnya sebagai langit jagat rayanya.

Itulah dunia nyata Nurdin Halid kini.
Itulah pula dunia bisnisnya, PSSI Nurdin Halid Inc., yang dipertahankan sekuatnya dengan setia bersama kroni pendukungnya.

Sebagaimana seperti simpul Indonesian Corruption Watch, bahwa PSSI Hancur Ketika Dipimpin Narapidana Korupsi, maka lebih baik bila PSSI diberi sanksi oleh FIFA.

Asal dengan imbalan : Nurdin Halid dan kroni-kroninya terdepak dari kursi singgasana empuk PSSI yang mereka kangkangi selama ini.

You say you want a revolution.
Well you know ; we all want to change the world.”

Semoga potongan lirik lagu “Revolution” (1968) dari The Beatles itu mampu menjadi salah satu pemompa semangat segenap pemangku kepentingan dunia sepakbola Indonesia yang kini melakukan revolusi.

Memenuhi panggilan sejarah.
Ketika Anda semua kini sedang mengubah dunia !


Wonogiri, 1/3/2011

Labels: , , , , , , , , ,

Tuesday, February 22, 2011 

Akhir Dari Hari-Hari Sepakbola Indonesia Mati !



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


The Day the Music Died
Hari Ketika Musik Mati

Charles Hardin Holley, atau Buddy Holly, salah satu legenda dan perintis musik rock. Ia dilahirkan 3 Februari 1936 di Lubbock, Texas, bermain band sejak usia 13 tahun. Kemudian ia membentuk kelompoknya bernama The Crickets, meluncurkan lagu seperti “That’ll be the day” dan “Oh Boy !” yang direkam oleh Decca Record.

Lagu terkenalnya yang lain termasuk "Maybe Baby”, dan solo hitnya "Peggy Sue" yang terkenal. Tanggal 3 Februari 1959, Buddy Holly bersama rekannya Ritchie Valens, The Big Bopper, dan pilot yang menerbangkan pesawat bertempat duduk empat orang itu, mengalami kecelakaan fatal. Pesawat mereka jatuh sesudah lepas landas dari bandara dekat Mason City, Iowa.

Tragedi kematian Buddy Holly itu kemudian telah mengilhami penyanyi Don McLean untuk menulis lirik, “Something touch me deep inside / The day the music died”, yang ia abadikan dalam lagu “American Pie” (1972) yang terkenal.


The Day Italian Football Died
Hari Ketika Sepakbola Italia Mati


Tanggal 4 Mei 1949, jam 5 sore, sebuah pesawat terbang Fiat yang berpenumpang 31 orang telah menabrak gunung Superga yang terletak di luar kota Turin, Italia. Sebagian besar penumpangnya adalah anggota tim klub sepakbola Torino. Berjulukkan The Grande Torino, Torino Agung, karena tim hebat ini sebelumnya telah memenangkan tiga kali juara di Serie A dan berpeluang untuk merebut juara keempat kalinya. Mereka juga mendominasi tim nasional Italia, karena sembilan anggota skuad Torino ini bergabung di dalamnya.

Kekuatan dominan sepakbola Italia, hari itu, tiba-tiba terenggut begitu saja. Tragedi ini tidak ada bandingnya dalam sejarah olahraga, dan tetap meninggalkan luka dalam hingga kini. Berbeda dengan tragedi jatuhnya pesawat terbang yang menewaskan skuad Manchester United di Munich, klub sepakbola Torino nampak sulit bangkit meninggalkan bayang-bayang tragedi masa lalunya ini.

Lima puluh tahun kemudian, penulis Alexandra Manna dan Mike Gibbs menuliskan kembali kisah tragedi tersebut dan pengaruhnya sampai kini dalam buku mereka, The Day Italian Football Died : Torino and the Tragedy of Superga (2000).

The Day Indonesian Football Died
Hari Ketika Sepakbola Indonesia Mati

Itulah judul tulisan yang saya posting di mailing-list ASSI (Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia), 25 Februari 2002. Judul itu muncul di kepala ketika membaca posting Sigit Nugroho, Ketua ASSI, mengenai tragedi kematian Beri Mardias (saat itu baru dikenal sebagai Berry Padang, karena ia suporter tim Semen Padang) yang tewas dikeroyok kelompok suporter lawannya di seputar Senayan, Jakarta. Ia yang kelahiran Padang 11 Desember 1979, lulusan SMP, berdomisili di Gang Penghulu, Jatiwaringin, Pondok Gede Bekasi itu, meninggal dalam usia 23 tahun.

Adalah seorang Jock Stein, pelatih legendaris Glasgow Celtic, pernah bilang bahwa sepakbola tanpa suporter hanyalah omong kosong. Terinspirasi ucapan Stein, lirik puitis lagu “American Pie”-nya Don McLean yang menjadi favorit sejak tahun 1972, juga judul bukunya Alexandra Manna dan Mike Gibbs, kemudian mendorong saya spontan menulis untuk di-posting dalam milis ASSI : “Saya merasa, terbunuhnya seorang suporter kesebelasan di Indonesia adalah sama dengan tewasnya sepakbola Indonesia”.

Tetapi hari sepakbola Indonesia mati tidak hanya terjadi saat seorang suporter bernama Beri Mardias mati. Juga saat Suhermansyah, suporter Persebaya, yang tewas terinjak-injak massa saat laga PSIM vs Persebaya di Stadion Mandala Krida Yogyakarta, Februari 1995. Atau ketika enam orang suporter PSIS tewas tertabrak KRL dan 12 orang lainnya cedera, di Lenteng Agung Jakarta, April 1999.

Kemudian peristiwa Mei 2001, seorang suporter PSIS tewas dihakimi massa setelah puluhan suporter PSIS melakukan penjarahan di Stasiun Manggarai Jakarta, usai mendukung timnya di Bogor. Memang belum ada catatan sejarah mengenai kecelakaan pesawat terbang yang menimpa tim sepakbola Indonesia sebagaimana bencana yang merenggut nyawa Buddy Holly atau pun tim Torino, Italia.

Tetapi di tengah berkobarnya eforia Piala Dunia 2002 di Korea dan Jepang (31 Mei – 30 Juni 2002), yang sesama bangsa Asia, rasa ingin tahu mengenai posisi Indonesia di tengah percaturan sepakbola dunia, berakhir dengan jawaban betapa kematian yang lebih dalam serasa menyelimuti sepakbola Indonesia.

Saat itu, dengan yakin, telah saya masukkan kata kunci “Indonesia football” pada fasilitas penelusur (search engine) dalam situs FIFAworldcup.com, situs resmi Piala Dunia 2002. Jawabannya mengagetkan. Sekaligus mengecewakan. Mirip tamparan. Sebab jawaban yang muncul secepat kilat itu hanyalah penolakan otomatis dari situs bersangkutan. Isinya ringkas. Telak. Menyatakan bahwa tidak ada satu pun informasi yang dikandungnya mencocoki dengan subjek yang saya ajukan.

Aroma kematian sepakbola Indonesia terasa begitu merujit-rujit hati saat itu, ketika mendapati realita betapa media sepakbola berskala global tidak mempunyai sesuatu cerita apa pun tentang sepakbola Indonesia.

Karena penasaran, saya ngotot memasukkan kata kunci yang sama pada mesin penelusur umum yang lebih terkenal, Google. Jawaban yang berupa anotasi-anotasi, kali ini muncul. Tetapi yang agak signifikan, sekaligus paling gres, subjek informasi dari salah satu anotasi itu justru mengenai peristiwa bentrokan parah dan berdarah antarkelompok suporter sepakbola Indonesia.

Dalam hal ini antara Viking (Bandung) vs The Jakmania (Jakarta) seusai bersama Aremania (Malang), Pasoepati (Solo) dan regu ASSI (saya ikut di dalamnya), bergairah mengikuti kuis Siapa Berani ? di televisi Indosiar, 12 Maret 2002.

Saya masih ingat, atas ide brilyan Aremania, menjadikan kuis ini nuansanya berbeda dibanding hari-hari lainnya. Sungguh mengharukan dan membanggakan, tetapi buntutnya justru ironi, karena semua para peserta kuis yang suporter Indonesia itu sebelumnya nampak kompak bersamaan menyanyikan lagu heroik, “Padamu Negeri”.

Anotasi hasil penelusuran Google lainnya, kemudian, bahkan tidak terduga memunculkan nama Mursyid Effendi dalam kaitannya dengan sepakbola Indonesia. Tetapi artikel tersebut sebenarnya tidak membahas khusus sepakbola Indonesia. Melainkan mengenai tim Thailand, calon superpower sepakbola Asia.

Artikel yang ditulis oleh Mike Lee, Desember 2001, di situs www.footballculture.net, menceritakan kebangkitan tim Thailand yang dilatih Peter Withe, asal Inggris, setelah reputasi tim nasionalnya tercoreng saat berlangsungnya perempat-final Piala Tiger 1998, di Hanoi, Vietnam. Peristiwa aib yang sama sekaligus melibatkan tim nasional Indonesia !

Peristiwa hitam itu terjadi ketika tim Thailand yang melawan Indonesia, yang sama sekali tidak menggubris etika dan roh olahraga itu sendiri, yaitu sportivitas, dengan justru berusaha mati-matian agar tim mereka memperoleh kekalahan pada akhir pertandingan. Tujuannya, agar mereka terhindar untuk bertemu dengan tuan rumah di semi-final.

Saat skor menunjukkan 2-2 pada masa perpanjangan waktu, pemain Indonesia, Mursyid Effendi, sukses menembak ke arah gawangnya sendiri. Kiper Indonesia saat itu tidak berusaha menepis. Tetapi justru banyak para pemain Thailand yang berusaha menjaga gawang timnas Indonesia agar tidak kebobolan

Skandal Mursyid Effendi, yang ternyata skenarionya dirancang masak oleh fihak manajer tim dan jajaran PSSI, sekarang menjadi batu nisan abadi, penanda hitam suatu hari tewasnya sepakbola Indonesia.

Persis sama dengan tragedi kematian sepakbola Indonesia yang bersumber dari motif kerdil, yang pekat melatarbelakangi preseden “sepakbola gajah” tahun 1988 di tanah air. Dalam pertandingan terakhir putaran kedua kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI Wilayah Timur, 21 Februari 1988, tuan rumah Persebaya dibantai oleh Persipura, 0 – 12.

Kekalahan busuk penuh rekayasa ini merupakan balas dendam tak langsung Persebaya atas PSIS Semarang, sehingga juara bertahan 1986/1987 tersebut tidak dapat lolos untuk berlaga di putaran final di Senayan.

Fast Forward 2003. Hari-hari sepakbola Indonesia kembali mati. Pada bulan Juni 2003, dalam daftar peringkat yang dikeluarkan resmi oleh FIFA, Indonesia menduduki peringkat 89 di antara 204 negara di dunia. Di atasnya terdapat Thailand pada peringkat 65, Cina di nomor 68, dan jangan coba bandingkan dengan Jepang atau Korea Selatan yang sudah kelas dunia. Keduanya sama-sama nangkring anggun di peringkat 24.

Tetapi peringkat itu bagi Indonesia sama sekali tidak ada artinya dalam kenyataan. Bahkan merupakan anomali dan menerbitkan ironi. Mari kita jajarkan bukti.

Timnas U-23 Pra-Olimpiade Athena kita digusur tim lemah Lebanon dengan agregat 2-5, bulan Juni 2003. Padahal Lebanon hanya berperingkat 121. Lalu timnas U-18 kita juga gagal dalam turnamen ASEAN Football Federation (AFF) 2003 di Ho Chi Minh City, Vietnam. Timnas kita hanya mampu menang 1-0 atas Kamboja (peringkat 170) dan Filipina (184), tetapi dibantai 0-3 oleh tuan rumah Vietnam yang sebenarnya dalam daftar FIFA berada pada peringkat yang lebih rendah (95).

Ironi terbaru meledak pada Kejuaraan Sepakbola Liga Champions ASEAN LG Cup 2003, Juli 2003, di mana Indonesia menjadi tuan rumah. Wakil Indonesia, Persita Tangerang dan Petrokimia Putra, disingkirkan oleh satu tim yang sama, Kingfisher East Bengal (India) dengan 1-2 dan 7-8 pada perempat final dan semifinal. Dari tayangan televisi nampak kedua tim wakil Indonesia itu benar-benar kalah kelas, juga kalah cerdas, walau India dalam peringkat FIFA sesungguhnya berada pada nomor 129. Atau 40 tingkat di bawah Indonesia !

Kesebelasan wakil-wakil Indonesia berguguran, digusur habis oleh tim-tim asal negara yang dalam peringkat FIFA justru berada di bawah kita. Mengapa hal buruk itu terjadi ? Seperti halnya tipikal orang Indonesia yang konon paling pintar mencari kejelekan dan kekurangan fihak lain, saya sempat tergoda untuk menghujat : apakah FIFA begitu goblog dalam menentukan peringkat Indonesia yang senyatanya ? Siapa yang tahu.

Mungkin kita harus mencari jawab dengan melihat indikator lain, di luar sepakbola, untuk dapat melihat bopeng diri kita sendiri. Lihat, data terbaru keluaran UNDP (Program Pembangunan PBB) mengenai peringkat pembangunan manusia 2003. Terkuak bahwa Indeks Pembangunan Indonesia berada pada nomor 112 dari 175 negara. Di Asia Tenggara, Indonesia terpuruk di bawah Thailand (74), Filipina (85) dan Vietnam (109), walau masih di atas Kamboja (130) atau pun Myanmar (131).

Akar dari seluruh carut-marut bobroknya prestasi sepakbola dan pembangunan manusia Indonesia, tidak lain adalah akibat meruyaknya korupsi. Menjelang Piala Dunia 1998, Sekjen Asian Football Confederation (AFC), Peter Velappan, sempat mengenang kejayaan tim-tim sepakbola Asia Tenggara.

Bahkan ia sebutkan, Indonesia yang memakai bendera Dutch East Indies saat itu, adalah tim Asia pertama yang berlaga di Piala Dunia 1938. “Pada era 50 dan 60-an, tim-tim Asia jangan bermimpi mampu menaklukkan tim Asia Tenggara”, katanya. Tetapi kini, sepakbola Asia Tenggara hanya memble, underachiever, prestasinya, karena korupsi dan pengelolaan yang tidak kompeten.

Padahal, “Indonesia adalah Brasil-nya Asia”, tegasnya. “Pemain-pemain Indonesia bermain dengan intelejensia dan bakat unik yang tiada sama di dunia. Bakat-bakat mereka lebih baik dibanding pemain Korea atau Jepang, tetapi mereka dan organisasi sepakbolanya tidak mempunyai tekad bulat dalam memerangi korupsi yang membelitnya”.

Revolusi PSSI 2011. Hari-hari ini Ibu Pertiwi, tanah air Indonesia, memanggil putra-putri terbaiknya untuk saling bergandeng tangan. Untuk meneguhkan semangat dan karya guna menyelamatkan masa depan sepakbola Indonesia. Berusaha membangkitkannya kembali. Dengan merebutnya dari kangkangan rejim otoriter, yaitu penguasa PSSI yang dikenal sebagai tokoh yang korup, Nurdin Halid, beserta kroni-kroninya.

“Tidak diragukan lagi bahwa sekelompok pribadi yang cerdas, warga negara yang peduli, yang mampu mengubah dunia, dan hanya itulah yang selama ini terjadi,” demikian kata antropolog terkenal Margaret Mead (1901-1978).

Ucapan itu semoga memberi kita kekuatan dan keteladanan. Kita dapat berkaca dari kiprah anak-anak muda patriotis seperti Wael Ghonim dan Khaled Kamel dengan akun Facebooknya telah mampu membuat sejarah. Mampu menyatukan bangsa, sehingga menggulirkan revolusi untuk berhasil merobohkan diktator yang telah lama bercokol di Mesir.

Ibu Pertiwi kini memanggil putra-putri yang terbaik untuk bersatu, menyingsingkan lengan baju, untuk tujuan yang sama. Menggalang kekuatan guna merobohkan rejim korup dalam tubuh sepakbola Indonesia yang syahwatnya untuk berkuasa sudah pada tahap yang tidak lagi bisa ditoleransi oleh akal sehat dan rasa keadilan.

Selamat berjuang, saudara satu jiwa, suporter sepakbola Indonesia.
Agar sepakbola Indonesia segera bangkit kembali dari kematian yang panjang.
Kita dan Anda semua mampu membuat sejarah !


Wonogiri, 21-22/2/2011

Labels: , , , , , , , , , , ,

Wednesday, December 29, 2010 

AFF 2010,Chappy Hakim dan Budaya Korupsi Kita


Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at)yahoo.com


Eforia sepakbola. Indonesia mabuk kemenangan. Di arena olahraga yang menjadi favorit berat warganya. Di Piala AFF 2010.

Tetapi ketika impian itu terancam terempas, tidak banyak yang mau berusaha menggali akar penyebab mengapa semua bencana itu terjadi.

Di antara warga Indonesia yang terpanggil untuk membedah tragedi kekalahan timnas Indonesia 3-0 saat ditekuk Malaysia pada laga leg pertama final Piala AFF, di Bukit Jalil 26 Desember 2010, adalah Chappy Hakim. Ia pensiunan marsekal, pernah menjabat sebagai KSAU, dan kini aktif sebagai blogger Kompasiana yang kemudian karya-karyanya diterbitkan sebagai buku.

Ulasan menarik dia berjudul Belajar Dari Tragedi Bukit Jalil, yang antara lain merujuk semacam excuse dari pelatih timnas, Alfred Riedl, yang berkali-kali mengatakan bahwa timnya itu sebagai tim yang "belum jadi."

Chappy Hakim menulis : "Sejatinya,jawaban dari hal tersebut sudah diutarakan oleh sang pelatih Alfred Riedl dari sejak awal. Dia berulang kali mengatakan bahwa tim ini sebagai tim yang “belum jadi”. Maknanya adalah, dalam meraih prestasi olahraga, harus diingat bahwa tidak akan pernah sukses itu diraih dengan tiba-tiba. Sukses dalam olahraga tidak bisa tidak harus dijalani melalui tahapan-tahapan berlapis yang harus dilakoni.

Kematangan satu tim sepak bola hanya akan diperoleh dari pengalaman bertanding yang panjang.Kekompakan dalam kerja sama tim hanya akan dapat diraih dari seringnya mereka bermain bersama, tidak hanya latihan, tetapi juga lebih-lebih dalam bertanding.

Tidak hanya bertanding di kandang sendiri, tetapi juga bertanding di kandang lawan. Tidak hanya satu dua kompetisi yang harus diikuti, tetapi juga harus banyak dan sering mengikutinya.Juara hanya dapat diraih dengan “jam terbang” yang cukup."

Bemper seksi Chappy. Pendapat Chappy Hakim di atas adalah pendapat yang masuk akal. Tetapi nampaknya dia kurang menyadari betapa dunia persepakbolaan Indonesia telah hidup lama dalam kubangan "atmosfir busuk" selama ini. Bukan hanya belitan budaya instan yang hidup di kepala para suporter dan semua pemangku kepentingan dunia sepakbola kita, termasuk melakukan naturalisasi Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim sebagai upaya menelan pil ajaib mendongkrak prestasi, tetapi terdapat "lubang hitam" lainnya yang lebih dahsyat.

Fenomena "lubang hitam" itu sudah sering saya ungkapkan berkali-kali. Tetapi, tidak ada salahnya saya tuliskan lagi,untuk menanggapi buah pemikiran Chappy Hakim tadi. Inilah pendapat saya selengkapnya :

“Bemper” seksi yang dipasang Pak Chappy Hakim (beda dengan milik Jupe) dengan merujuk pendapat Alfred Riedl bahwa timnya adalah tim “yang belum jadi,” menarik untuk terus dibincangkan. Namun ijinkanlah saya ingin menambahi, betapa “penyakit” sepakbola Indonesia lebih serius dan lebih kronis.

Sering sekali untuk blog saya ini, saya mengutip ucapan Sekjen Asian Football Confederation (AFC), Peter Velappan, di majalah Asiaweek (5/6/1998) menjelang Piala Dunia 1998.

Ia tegaskan : “Indonesia adalah Brazilnya Asia. Pesepakbola Indonesia bermain dengan intelejensia dan bakat unik yang tidak ada duanya di dunia. Bakat-bakat mereka lebih baik dibanding pemain Korea atau Jepang. Pada era 50 dan 60-an, tim-tim Asia jangan bermimpi mampu menaklukkan tim Asia Tenggara.” Tetapi dalam setengah abad terakhir tim-tim Asia Tenggara, termasuk Indonesia hanya bisa memble berat.

Karena menurutnya, "akibat pengelolaan manajemen yang amburadul dan dan tidak bisa membersihkan dirinya dari belitan budaya korupsi." Ada foto Rocky Putiray lagi melompat (ditulis sebagai Perry Sandria), dengan teks : "Pemain Indonesia banyak yang berbakat, tetapi pengaturan skor meruyak dimana-mana."

Penyakit kronis persepakbolaan kita lainnya, kita bisa belajar dari Freek Colombijn, antropolog lulusan Leiden, mantan pemain Harlemsche Football Club Belanda, mengungkap bahwa posisi sepak bola Indonesia dalam percaturan dunia kini berada dalam posisi periferi, pinggiran.

Dalam artikel "View from the Periphery : Football in Indonesia" dalam buku Garry Armstrong dan Richard Giulianotti (ed.), Football Cultures and Identities (1999), ia menggarisbawahi keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia sebagai akibat masih meruyaknya budaya kekerasan di teater sepak bola kita dan belum kokohnya budaya demokrasi di negeri ini. Seolah memberi garis bawah realitas itu, seorang Emil Salim baru-baru ini menyebutkan bahwa demokrasi di Indonesia ibarat anak-anak yang masih berusia 2-3 tahun.

Tanggal 8/1/2005 dan 16/1/2005, sebagai warga Wonogiri saya ikut mendukung timnas di final Piala Tiger 2004. Baik di Senayan mau pun di Kallang, Singapura. Saat itu saya memakai kaos bertuliskan slogan, "I Believe The Withe Magic." Saya percaya akan kepiawaian dan "daya magis" pelatih timnas saat itu, Peter Withe yang asal Inggris. Toh kita gagal. Padahal, sebelum melatih timnas kita Peter Withe berjaya melatih tim Thailand.

Kalau dia mampu sukses hebat melatih tim Gajah Putih, mengapa dirinya gagal total ketika melatih tim Indonesia ? Pertanyaan itu dan ucapan Peter Velappan atau pun Freek Colombijn, terus saja berdengung di telinga saya bila timnas berlaga di ajang internasional. Sampai saat ini.

Mungkin akan kembali mengeras bila nanti Alfred Riedl gagal membuahkan keajaiban di Senayan, Rabu Malam, 29 Desember 2010."

Apa pendapat Anda ?


Wonogiri, 29 Desember 2010

Labels: , , , , , , ,

Sunday, March 28, 2010 

Tionghoa Surabaya, Sepakbola, dan Suporter Indonesia




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


“Sepak bola,” demikian kata Nelson Mandela, “merupakan aktivitas yang paling mampu mempersatukan umat manusia.”

Merujuk negerinya dengan sejarah kelam tergencet politik apartheid yang panjang, kemudian bangkit dalam rekonsiliasi, dan di bulan Juni 2010 mendatang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, ucapan Bapak Afrika Selatan itu terasa membiaskan kebenaran. Sepak bola memang mempersatukan dan Indonesia pun sempat merasakannya.

Eduardo Galeano, novelis asal Uruguay dalam Football in Sun and Shadow (2003), yang menulis panorama sepak bola dunia dengan kaya konteks, berdegup dan indah, telah menyandingkan nama Indonesia dalam tiga kali Piala Dunia. Tahun 1938, 1966 dan 1998.

Dirunut dari momen yang mutakhir, bara gairah Piala Dunia 1998 yang kembali diadakan di Paris, ternyata di Indonesia tersaingi oleh kobaran api, derak puing, air mata dan kematian. Peristiwa mengerikan itu akibat politik bumi hangus yang sebagian memakan korban etnis Cina, mengiringi tumbangnya diktator Soeharto.

Surut tiga puluh dua tahun sebelumnya, ketika penyelenggaraan Piala Dunia 1966 di London, Inggris, Indonesia tergenang banjir darah. Noda-noda darah itu tersembunyi mengiringi langkah sepatu lars Soeharto naik ke puncak untuk mencengkeram Indonesia.

Hanya pada tahun yang disebut pertama, 1938, nama Indonesia benar-benar disebut Galeano terkait dalam pesta sepakbola dunia di Perancis itu. Di sinilah ucapan Nelson Mandela boleh jadi punya makna bagi kita. Karena tim yang dikirim ke Perancis itu, walau di bawah bendera pemerintahan Hindia Belanda, terdiri beragam etnis bangsa.


Oportunistis ? Sebuah buku baru yang ditulis R.N. Bayuaji berjudul Tionghoa Surabaya Dalam Sepakbola 1915-1942 (Ombak, 2010), punya cerita menarik. Utamanya, menyebutkan bahwa dalam tim tersebut terdapat pemain orang Belanda, Tionghoa dan Bumiputera (h.88).

Keberadaan tiga etnis tersebut memang mencerminkan trikotomi organisasi sepakbola era kolonial saat itu. NIVU (Nederlandsch Indische Voetbal Bond) untuk etnis Belanda, HNVB (Hwa Nan Voetbal Bond) bagi keturunan Tionghoa dan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) untuk kaum bumi putera. Yang menarik dicatat adalah, menjelang Piala Dunia 1938 tersebut telah terjadi perbenturan kepentingan antara NIVU versus PSSI.

“Pihak PSSI bersikukuh bahwa wakil di Piala Dunia adalah PSSI bukan NIVU, akan tetapi FIFA mengakui NIVU sebagai wakil Dutch East Indies. Ir. Soeratin (Ketua PSSI saat itu) menolak memakai nama NIVU karena ketika NIVU mempunyai hak, maka dalam penentuan komposisi materi pemain yang menentukan adalah orang-orang Belanda. Perjanjian tersebut lantas dibatalkan oleh PSSI.” (h.77-78).

Urusan sepakbola telah bercampur politik, juga nasionalisme. Bagaimana posisi etnis Tionghoa saat itu dalam urusan sepak bola ?

R.N. Bayuaji menyimpulkan, “Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh kalangan sepak bola Tionghoa di Hindia Belanda…Akibat perselisihan itu, pemain Tionghoa Surabaya dapat ikut serta dalam rombongan pemain yang memperkuat Dutch East Indies (NIVU) untuk mengikuti Piala Dunia. Kesempatan yang datang mungkin saja tidak akan terjadi untuk kedua kalinya, sehingga bagi sepak bola Tionghoa hal itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin.” (h.87).

Itukah cerminan sikap oportunistis etnis Tionghoa ? Yang senantiasa sigap mengail di kolam yang keruh ? Yang juga terjadi tidak hanya dalam kancah sepak bola, baik di jaman dulu dan juga di masa sekarang ?

Yang menonjol dalam buku yang diterbitkan berdasar skripsi karya R.N. Bayuaji di Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga itu, adalah jajaran fakta upaya untuk naik kelas, upward mobility, bagi etnis Tionghoa sebagai bangsa kelas dua (bersama Arab) melalui jalur sepak bola. Bahkan terungkap ujaran betapa kaum Tionghoa saat itu dinilai “lebih Belanda dibandingkan bangsa Belanda itu sendiri.”

Sementara interaksi mereka dengan bangsa kelas tiga, kaum bumi putera, hanya muncul sekilas-sekilas dan itu pun teramat kabur dalam buku ini. Walau juga muncul jargon nasionalisme dalam sepak bola kaum Tionghoa saat itu, dengan manifestasi aksi penggalangan dana melalui pertandingan sepakbola, tetapi dana itu ternyata digunakan untuk “meringankan beban kesengsaraan” warga leluhurnya di Tiongkok Utara (h.111-112).


Jauh panggang dari api. Dalam konteks di atas, kata pengantar Freek Colombijn, antropolog lulusan Leiden dan mantan pemain bek kanan Harlemsche Football Club di Belanda, membuat saya kecewa berat. Pandangannya bahwa buku ini menekankan bahwa masyarakat Cina, melalui sepak bola, justru terintegrasi dengan masyarakat lainnya, masih jauh panggang dari api.

Entah mungkin karena keterbatasan waktu (dikejar tenggat skripsi) atau visi, interaksi antara etnis Tionghoa dan bumi putera di lapangan sepak bola di era itu sama sekali belum ia gali.

Atau justru dengan teknik reading between the line, mengungkap makna yang tersembunyi, wilayah yang tidak atau belum disentuh penulis itu boleh jadi merupakan cerminan betapa problematika antara etnis Tionghoa dan pribumi sebagai masalah laten yang belum selesai. Hingga kini.

Etnis Tionghoa yang di masa kolonial itu dipatok sebagai bemper pemerintahan Belanda, demikian juga di masa Soeharto, akhirnya stereotip yang melekat adalah kuatnya orientasi mereka untuk lebih dekat kepada penguasa daripada kepada rakyat. Mereka baru ngeh terhadap rakyat bila terjadi kerusuhan dan huru-hara berbau SARA, yang memakan korban dari mereka.

Terakhir, bagi saya yang berkomentar dari kacamata seorang suporter, buku ini juga menyiratkan betapa sejarahwan sepak bola masih belum memasukkan suporter dalam radar dan perangkat rekaman mereka. Bahkan seiring tumbuhnya perkumpulan olah raga di Surabaya oleh etnis Tionghoa saat itu, juga sepakbola, suporter menjadi latar belakang yang kabur. Penjelasan berbunyi, “Konflik yang terjadi berupa perkelahian dan kekacauan karena sepak bola, bahkan kerusuhan antarsuporter, bukanlah suatu hambatan dalam membina dunia persepakbolaan.” (h.81).

Tak ada penjelasan secara rinci, misalnya dengan mengambil rumus penulisan berita 5W+1H terkait dengan kerusuhan suporter tersebut. Apakah melibatkan suporter pendukung tim beretnis Belanda, melawan tim etnis Tionghoa, atau kaum bumi putera ? Semuanya tidak jelas. Atau sebaiknya, kalimat itu dihilangkan saja.

Dalam bingkai itu, buku ini ibarat deretan catatan sejarah jajaran papan-papan nama organisasi sepak bola. Juga nama beberapa stadion. Beberapa nama pemain sepakbola. Tetapi secara keseluruhan papan-papan itu tersalut warna pucat.

Sepi. Tak ada darah, karena nyaris tidak ada cerita-cerita tentang manusia-manusia sepakbola, dialektika dan dinamikanya. Apalagi, sekali lagi, juga tidak ada cerita tentang suporternya, walau seorang Jock Stein, legenda sepakbola Skotlandia bilang bahwa tanpa suporter sepak bola hanyalah omong kosong belaka.

Isi buku ini jelas bukan omong kosong. Mungkin saya menuntut terlalu banyak untuk sebuah karya skripsi. Mungkin itu tugas bagi penulis lain, sejarawan lain, untuk mau menulis kisah sejarah yang disebut sebagai micro history, tentang sosok individu dan jamannya, yang di era digital ini sebenarnya dapat tersaji secara mudah melalui blog-blog pribadi.

Imbauan saya, sobat-sobat para suporter, mulailah menulis sejarah Anda sendiri, dalam blog-blog Anda saat ini. Karena baru-baru ini sebuah koran nasional tiba-tiba menulis masalah mengatasi kerusuhan suporter, tetapi nampak tidak mau menjelajah apa yang pernah dilakukan dan sudah tercatat dalam sepuluh tahun terakhir mosaik-mosaik ikhtiar sebagian individu suporter Indonesia dalam berbenah diri.

Buku yang menambah rak khasanah literatur sepak bola Indonesia. Tetapi karena tidak terdengar gema suara-suara manusia dari sana, saya sebagai tukang cerita merasa tidak mampu menemukan ajaran, hikmah atau pesan yang dapat didaulat sebagai inspirasi bagi sesama pencinta sepak bola di negeri ini.

Misalnya sebagai suntikan bagi kita bersama guna berusaha mengentaskan jiwa dan raga sepak bola kita yang terlalu lama terendam di kolam kotor, akibat meruyaknya budaya korupsi di negeri ini pula.

Dengan sasaran puncak, seturut tutur Nelson Mandela, menjadikan sepak bola sebagai pemersatu dan ajang prestasi beragam etnis bangsa Indonesia guna mengangkat bangsa ini meraih prestasi terhormat di kancah dunia.


Wonogiri, 28/3/2010

si

Labels: , , , , , , , , , , ,

Tuesday, February 02, 2010 

Kutukan Empu Gandring dan Suporter Sepakbola Kita



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Kutukan Empu Gandring masih bersama kita.
Vengeance. Revenge. Vendetta.

Mata balas mata. Darah balas darah. Tangan balas tangan. Nyawa balas nyawa. Bakar balas bakar. Luka balas luka.

Seorang teman saya, Bakhuri Jamaluddin, punya daftar lebih panjang (termasuk melebihi 4 gelar akademisnya, plus gelar haji) tentang fenomena mengerikan di atas. Ia yang seusai kuliah di tahun 1980-an pernah mengajak saya ke Kuningan untuk menonton tim sepakbola putri, Buana Putri, karena kiper cantiknya Muthia Datau yang juga artis, yang kemudian menjadi istri aktor Herman Felani.

Juga sama-sama menonton ke Senayan untuk menyaksikan timnas Indonesia draw 3-3 melawan tim Corinthians dari Brasil yang dimotori dokter berbadan burung bangau yang memiliki operan back heel yang ajaib, termasuk ketika menjagal tendangan penalti : Socrates. Termasuk berbagi trik a la Indonesia tentang bagaimana bila kita ingin menjadi seorang wasit yang segera mudah terkenal.

Bakhuri bilang : “Bayar saja pemain untuk memukuli diri kita !”

Bakhuri kini bicara tentang suporter sepakbola Indonesia. Tulisnya : “Oh ya, bagaimana masalah suporter sepakbola ? Kini kok jadi tren ya, tawur antarsuporter, tawur suporter vs warga sekitar stadion, tawur suporter sesama klub yang sama, tawur suporter Persija vs warga Ciputat, tawur suporter Persitara vs warga Kuningan Jakarta Selatan, dan tawur bonek vs stasiun kereta api, bagaimana ini ?

Aneh lagi, jenis sanksi yg diterapkan adalah PERTANDINGAN SEPAKBOLA TANPA PENONTON. Aneh tapi nyata ! Pasti BH bisa mengupas masalah tersebut !"

Terima kasih, Bakhuri.

Saat insiden rombongan kereta api bonek Surabaya-Bandung pp mencetuskan huru-hara, harian Jawapos memuat artikel Dr. Sonny Elizaluchu, MA, berjudul “Kekerasan kolektif bonek” (Jawapos, Senin, 25 Jan 2010 : 6). Hari Minggu, 24/1, saya mengirimkan artikel ke koran Solopos berjudul “Ancaman Bonek dan Sepakbola Kita,” tetapi nampaknya malah tidak dimuat.

Berita terbaru di Suara Merdeka kemarin (1/2/2010), oknum suporter Semarang ditangkapi karena melempari bis yang ditumpangi suporter Persijap, Jepara. Harian Jawapos (1/2/2010) lalu menyajikan bahasan fenomena aksi anarkis bonek, suporter Persebaya, dalam pandangan guru besar UNAIR emeritus, Prof. Sutandyo [“kalau kau masih ingat, istri beliau, almarhumah Ibu Asmi Tandyo yang ramah itu, pernah menjadi muridku dalam mata kuliah Media Teknologi, di JIP-FSUI”).

Insiden saat rombongan kereta api bonek Surabaya-Bandung pp yang diadang masyarakat Solo yang marah (“lalu diberi label sebagian dari mereka adalah suporter Pasoepati asal Solo”), 23-24/1/2010, juga mengimbas kepada diri saya. Kolom boks bengok blog saya, Suporter Indonesia ramai dengan komentar berisi sebutan binatang yang menyalak.

Lucunya, pengirimnya yang berlabel “pasopati anjink” tetapi isi pesannya berupa omelan tentang “diri sendiri” : “Pasopati emang idiot, masa kereta GBM yang isinya penumpang biasa di lempari dan dibakar, isinya banyakan ibu2x dan anak2. Dimana nurani anda?”

Saya ikut sedih.
Saya pun prihatin atas kejadian di atas.

Pasoepati yang berbuat anarkis, juga harus dikutuk. Bahkan harus pula dihukum, seperti suporter Solo yang pada tahun 2000 berbuat anarkis dengan membakar mobil milik pendukung Semarang. Ia meringkuk selama 20 bulan di penjara. Aksi hukum tegas ini, sayangnya tak pernah merembet ke kota-kota lain.

Berbicara tentang nurani kelompok suporter, sebuah definisi berikut ini mudah-mudahan dapat menjelaskan. Bahwa gerombolan orang-orang atau mob adalah : an angry group with many hands but no brains. . Gerombolan merupakan sekelompok orang yang marah, yang memiliki banyak tangan tetapi sama sekali tidak memiliki otak.

Kalau Anda belum pernah menjadi suporter sepakbola secara total, Anda pasti belum merasakan ekstasi ketika kita tidak memiliki otak sama sekali. Atau bila masih punya, tinggal otak reptil kita yang masih bekerja. Itu otak paling primitif, sumber dari rasa ketakutan.

Tetapi karena kita saat itu bersama-sama : siapa takut ? Saat itu identitas diri kita lumer, atau hilang tak berbekas, kita semua lebur menjadi sebuah kelombok tribal, suku, dengan mata hanya mampu melihat bahwa suporter lain sebagai lawan yang harus kita basmi.

Untuk teorinya, carilah nama Gustave LeBon. Atau bertanya ke Mas Ito, Prof Sarlito W. Sarwono. Atau kawan saya Aji Wibowo, lulusan Sosiologi UGM yang menulis skripsi tentang denyut persaingan suporter sepakbola di Yogyakarta.

Kasarnya, saat kita bersama itu, demi sepakbola pun kita rela mati.

Yang terjadi kemarin, memang terdapat suporter bonek yang mati. Tercatat dalam tur Surabaya-Bandung 23-24/1/2010 ada yang meninggal di Madiun dan juga Purwokerto. Mereka naik di atas gerbong, lalu terjatuh kena portal. Mati yang mengenaskan.

Mungkin seperti juga nasib Beri Mardias, suporter PSP Padang asal Jatiwaringin yang tewas dikeroyok suporter Persija, tepat hari ini (2/2) 8 tahun yang lalu. Atau suporter Persija, Fathul Mulyadin (6/2/08) yang tewas dikeroyok suporter Persipura. Keduanya terjadi di Senayan. Masihkah kita mengingat mereka itu sebagai manusia ?

Mungkin tidak. Suporter sepakbola itu, ketika bersama, oleh orang lain dan oleh orang kebanyakan, seringkali bukan lagi disebut sebagai manusia. Tetapi sebagai gerombolan. Berandal. Orang-orang jahat. Yang harus mereka hindari. Orang-orang yang terkena penyakit lepra. Hina. Petugas keamanan pun hanya akan melihatnya sebagai musuh. Atau bahkan sebagai sampah.

Sebaliknya, media massa menyukai gerombolan suporter tersebut. Suporter yang naik di atas bis Mayasari, metromini Jakarta, atau di atas gerbong KRL, merupakan gambar yang catchy dan seksi untuk liputan mereka. Saya pernah mendengar seorang wartawan bilang : “Saya tidak tahu menahu tentang sepakbola. Saya dirikim ke stadion untuk berharap akan ada kerusuhan saja.”

Apalagi bila dalam kerusuhan itu ada atau banyak yang mati karena ulah ceroboh para suporter itu, wartawan dan media akan menyukainya.

PSSI juga menyukai aksi kerusuhan suporter ini. Termasuk aksi seorang suporter idiot yang masuk lapangan saat tim nasional kita kalah melawan Oman. Media-media massa kita yang juga ketularan wabah idiot justru mengglorifikasikan ulah bodoh semacam itu sebagai perbuatan hero.Katanya, ulah itu sebagai koreksi bagi PSSI dalam pengelolaan sepakbola Indonesia.

Aksi rusuh suporter itu membuat PSSI “punya kerjaan,” termasuk punya “proyek” bagi mereka. Minimal, pekerjaan menjatuhkan sangsi yang tidak bergigi bagi tim yang suporternya rusuh. Dalam bingkai besar, aksi anarkis suporter merupakan bom asap untuk mengalihkan perhatian masyarakat, sekaligus sebagai tabir untuk menutupi jeblognya kinerja Nurdin Halid dan kroninya selama ini mengelola PSSI.

“A riot is at bottom the language of the unheard.”
Kerusuhan merupakan inti bahasa mereka yang tidak terdengar.

Kata-kata pejuang hak sipil AS, Martin Luther King (1929–1968) itu membias dalam analisis Prof. Sutandyo tentang bonek. Saya kutip dari buku yang berjudul Bonek : Berani Karena Bersama (1997). Buku yang menghimpun 14 karya tulis pelbagai kalangan ini mungkin satu-satunya buku yang membahas fenomena suporter sepakbola di Indonesia.

Bonek memang bikin kita semua pusing”, keluh Soetandyo Wignyosoebroto, guru besar emeritus Universitas Airlangga. “Tetapi mereka harus direngkuh. Anak-anak itu merupakan bagian dari warga masyarakat kita yang terampas, baik sumber dayanya, pendidikannya, asosiasi sosialnya, dan pertumbuhan kejiwaannya” (h. 13).

Suporter Solo, Pasoepati, 6 April 2000, pernah merengkuh bonek dengan cinta. Dengan penghargaaan. Kami menyambutnya secara baik-baik di Solo. Kemudian saat Pasoepati melurug ke Surabaya dengan mencarter kereta api 12 gerbong, a real glorious journey, untuk menyapa hati suporter tim asal Kota Pahlawan itu. Pasoepati saat itu membawa tagline yang dikreasi presidennya, Mayor Haristanto : “From Solo With Love.”


Dalam perjalanan, ketika tiba di Surabaya, saat bertanding, dan saat pulang, semua relatif aman dan damai. Esoknya, koran Surya (7/6/2000) terbitan Surabaya memajang foto indah : senapan otomatis anggota Brimob yang menjaga keamanan bersematkan rangkaian bunga ungu, yang kami bagi-bagikan sepanjang jalan saat Pasoepati melakukan long march,, Stasiun Gubeng-Tambaksari.

Tetapi bangunan persahabatan antarsuporter itu, juga dengan suporter lainnya, yang kami gelontorkan saat itu berdasarkan ide mulia bahwa sepakbola tak ada apa-apanya bila tanpa suporter, kini rupanya kembali lagi menjadi abu. Revolusi suporter atraktif dan bukan destruktif itu, semakin tahun tidak semakin terang nyalanya.

Di tahun 2000-an di mana saya sebagai salah satu pelaku di antara kawan-kawan seperjuangan dalam pengejawantahan gagasan itu, dalam bingkai revolusi yang dimulai dari isi kepala, antara lain dengan mencetuskan tanggal 12 Juli sebagai hari Suporter Nasional yang tercatat di MURI. Kini cita-cita itu ibarat hanya sebagai bangunan kertas belaka.

Demikian pula pesan-pesan indah dan bernas dari filmnya Andibachtiar Yusuf, Romeo dan Juliet, juga hanya ibarat olesan balsem dalam psike komunitas suporter kita.

Bangunan yang dibuat oleh tukang kayu yang terampil pun akan mudah roboh oleh sepakan segerombolan keledai. Apalagi oleh keroyokan berandal sepakbola, yang menurut ujaran penyair dan nasionalis Skotlandia Hugh MacDiarmid (1892–1978) disebut : “fanatisme dalam sepakbola dan intelektualitas yang tinggi jarang berjalan bersama.”

Justru mungkin karena rendahnya kadar intelektual tersebut yang membuat gerombolan beringas menarik untuk sengaja dipelihara. Oleh aktor-aktor intelektual tertentu. Dalam wawancara dengan jaringan Radio 68 H yang disiarkan secara nasional (5/1/2007), saya menyatakan kelompok suporter sepakbola Indonesia kebanyakan tidak independen.

Pentolannya, mencari uang (recehan) dari klub. Pentolan itu kebanyakan, walau tidak semuanya, adalah para gali. Dalam posisi seperti ini, kelompok suporter yang masif itu mudah digunakan untuk ditekak-tekuk guna mendukung agenda bos klub bersangkutan, di luar masalah sepakbola. Misalnya, untuk memenangkan pilkada.

Suporter sepakbola kita memang tidak hidup dalam ruang hampa. Penyakit kerusuhan yang kronis itu, sejatinya menguntungkan beberapa fihak tertentu. Fanatisme mereka yang dipicu oleh rasa lapar, fisik sekaligus batin, merasa tidak berharga, sementara dalam hatinya selalu berkobar api untuk melakukan balas dendam, menggiurkan banyak fihak yang berkepentingan untuk menungganginya.

Sehingga, lihatlah, terus saja terjadi pembiaran saat terjadi pelbagai aksi mereka : Mata balas mata. Darah balas darah. Tangan balas tangan. Nyawa balas nyawa. Bakar balas bakar. Luka balas luka.

Padahal seorang satiris Romawi, Juvenal (60-130 Masehi) mengatakan : “Sejatinya, tindakan balas dendam merupakan kenikmatan bagi mereka yang papa, lemah dan tipis nuraninya.”

Itulah wajah Indonesia masa kini.

Kutukan Empu Gandring tak hanya berkobaran di dunia suporter sepakbola, tetapi mudah pula ditemui di mana-mana. Dalam pelbagai sendi kehidupan bangsa ini pula.


Wonogiri, 2 Februari 2010

Labels: , , , ,

Monday, February 01, 2010 

Revolution in the Head : The Beatles, PSSI dan Kita



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


The 1966 World Cup 1966 :
“…the entire world humming Beatles tunes, the eight World Cup got underway.”

The 1966 World Cup 1970 :
“The world lost its music : the Beatles broke up, due to an overdose of success, and due to an overdose of drugs guitarist Jimi Hendrix and singer Janis Joplin took their leave.”

Petikan dari isi buku Football in Sun and Shadow.
Buku sepakbola yang indah.

Buku karya novelis Uruguay itu, Eduardo Galeano, terbit tahun 2003. Buku ini hadiah dari sineas dan evangelis sepakbola Indonesia, Andi Bachtiar Yusuf. Saya terima lewat istrinya, mBak Tika, 29 Maret 2006, di “Piccadily Circus” (proliman), bukan di London tetapi di Sukoharjo.

Untuk menulis buku setebal 226 halaman itu, setelah saya hitung-hitung terdapat 152 rujukan. Sebagian besar berupa buku dan belasan lainnya dari artikel, baik surat kabar dan majalah. Terdapat rujukan dari The Comedy of Errors dan King Lear, dua naskah drama William Shakespeare, buku karya antropolog Desmond Morris, The Soccer Tribe (1981), sampai buku tentang holiganisme Bill Bufford, Among the Thugs (1992).

Rujukan-rujukan itu benar-benar telah memperkaya konteks cerita tentang sesuatu peristiwa sepakbola. Dalam buku ini pun, misalnya, Indonesia juga masuk dalam cerita tentang peristiwa sepakbola dunia. Yaitu terkait Piala Dunia tahun 1938, 1966 dan 1998.

Tahun yang pertama, Indonesia bisa ikut Piala Dunia 1938 di Paris tetapi masih berada dalam kungkungan penjajah Belanda. Selain kedua tahun sisa itu, yaitu tahun-tahun penyelenggaraan Piala Dunia sampai Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan nanti, tak ada lagi cerita tentang sepakbola Indonesia di dalamnya.

Tetapi terkait Piala Dunia 1966 itu Galeano telah menulis : “the military were bathing Indonesia in blood, half a million, a million dead, who knows how many, and General Suharto was inaugurating his long dictatorship by murdering the few reds, pinks or questionables still alive.”

Tahun 1998, ia menulis lagi tentang Suharto. “Asian stock markets lay prostrate, as did the long dictatorship of Suharto in Indonesia, emptied of power even while his pocket remained heavy with the sixteen billion dollars power had placed there.“

Suharto tumbang oleh badai reformasi yang digalang mahasiswa. Menurut koran The Boston Globe, Suharto merupakan rejim pertama yang tergusur dari kekuasaan akibat kedigdayaan Internet. Saat itu milis apakabar@clark.net menjadi bacaan wajib kaum reformis, ketika media arus utama dibungkam.

Sebelumnya, Shah Iran tumbang akibat penyebaran pesan-pesan Ayatolah Khomeini melalui kaset dan sesudahnya, Joseph Estrada di Filipina roboh akibat konsolidasi demo besar-besaran melalui sms di telepon genggam.

Walau yang ditumbangkan bukan berstatus sebagai presiden, kita kini menjadi saksi dan barangkali juga pelaku cause ketika Bibit Samad Riyanto-Chandra Hamzah dan Prita Mulyasari mampu memperoleh kemenangan dalam perkara hukumnya. Kemenangan itu antara lain berkat peran media sosial yang masif : blog dan Facebook.

Sementara di latar belakang yang buram kini, nampak potret sepakbola Indonesia yang kepalanya terpenggal pedang kegagalan di ajang SEA Games Laos 2009. Juga ambrol ambisinya untuk bisa ikut final Piala Asia 2011. Salah satu pimpinan PSSI, Rahim Sukasah, berkilah dengan mengatakan dalam wawancara di Kompas bahwa “walau dipimpin oleh malaikat pun, sepakbola Indonesia tak mampu berjaya.”

Terima kasih, Rahim Sukasah.
Kata saya : “Dipimpin malaikat saja tak akan berhasil, apalagi oleh setan ?”

Sepakbola Indonesia harus direvolusi.

Rejim yang sekarang ini bercokol di Senayan, sudah saatnya pergi. “You say you want a revolution,” demikian lirik lagu “Revolution” (1968) dari The Beatles. “Well you know ; we all want to change the world.”

Untuk berhasil mengubah dunia, semua revolusi itu harus dimulai dari kepala. Meminjam dari judul bukunya Ian MacDonald, Revolution in the Head: The Beatles' Records and the Sixties (2005), yang mengupas isi lirik-lirik lagu karya The Fabulous Four tersebut.

Untuk konteks sepakbola Indonesia, revolusi itu harus meledak dari kepala-kepala Anda yang merasa sebagai pemangku kepentingan kejayaan (kembali) sepakbola Indonesia.

Ledakkan ide-ide Anda. Bersuaralah terus. Gunakan media-media sosial sedahsyat mungkin. Utamanya dengan bersumber pada kebencian terkait mandegnya prestasi sepakbola kita dipentas dunia. Camkan selalu ujaran novelis, penyair dan dramawan Perancis Jean Genet (1910–1986) :

“What we need is hatred.
From it our ideas are born.“


Wonogiri, 1 Februari 2010

Labels: , , , , , , , ,

Sunday, January 10, 2010 

Suporter Idiot dan Membongkar Gurita, Cephalopod, Nautilus, Oktopus Sampai Ubur-Ubur Bisnis Hitam dan Korupsi Tujuh Generasi di Tubuh Sepakbola Indonesia




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Hanya bermimpi? “Cahaya itu telah musnah dari kehidupan kita,” demikian sebagian pidato radio Jawaharlal Nehru (1889–1964), 30 Januari 1948. Perdana Menteri India itu tampil di depan corong radio untuk mengumumkan kabar mengenai terbunuhnya Bapak India, Mahatma Gandhi. Lanjutnya, “kini yang ada adalah kegelapan di mana-mana.”

Itulah potongan buku dari karya Richard J. Walsh, Nehru on Gandhi (1948). Nehru sendiri adalah juga seorang pengarang buku. Karyanya yang berjudul Glimpses of World History ia tulis ketika harus mendekam beberapa kali di penjara. Totalnya selama 10 tahun, dari tahun 1921 sampai 1945, sebagai resiko sebagai pejuang kemerdekaan melawan kolonial Inggris.

Tokoh terkenal lain, seperti dipajang dalam The Book of Lists (1972), yang mampu menulis ketika berada di balik jeruji adalah novelis Spanyol, Miguel de Cervantes Saavedra (1547–1616). Ia melahirkan karya terkenalnya, Don Quixote.

Karl (Friederich) May (1842-1912), penulis Jerman, merampungkan novelnya tentang kepala suku Indian Winnetou dan kehidupan west frontier Amerika yang tidak pernah ia kunjungi, juga di penjara antara tahun 1865-1874. Adolf Hitler (1889–1945), diktator Jerman itu, merampungkan karya Mein Kampf, saat ia meringkuk di penjara benteng Landsberg tahun 1923.

Cerita-cerita itu mengingatkan ujaran dari Bung Hatta bahwa jeruji penjara tidak akan mampu membelenggu pengembaraan sesuatu ide atau pikiran seseorang. Bung Hatta yang waktu mudanya suka sepakbola, tergabung dalam klub sepak bola Young Fellow. Pemainnya terdiri anak-anak Belanda dan pribumi. Klub ini pernah menjadi juara Sumatera selama tiga tahun berturut-turut semasa Hatta menjadi anggotanya.

Bung Hatta, yang dilahirkan tanggal 14 Agustus 1902 di desa Aur Tajungkang, kini jadi bagian pusat kota Bukit Tinggi, adalah gelandang tengah, sesekali dia menjadi bek, yang tangguh. Orang-orang Belanda memberinya julukan onpas seerbar, sukar diterobos begitu saja.

Kondisi di sebalik jeruji penjara sebagai wahana untuk berkontemplasi dan mengembarakan gagasan rupanya juga mengilhami salah satu tokoh PSSI kita masa kini. Ia dijebloskan sekitar 2,5 tahun di penjara karena melakukan korupsi, tetapi begitu keluar ia langsung mencanangkan cita-cita besar : Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Sosialisasi impian itu antara lain pernah berwujud banner di yang terpajang di pinggir stadion Senayan. Bertuliskan : www.wcindonesia2022.com.

Bagi awam, alamat situs seperti itu mudah memancing kesalahfahaman berskala internasional. Ketika saya cek di Oxford Reference Shelf (CD-ROM), huruf “wc” itu dimaknai sebagai : watch committee, water closet, water cock, without charge. Sedang huruf “WC” selain disebut sebagai nomor polisi di Inggris untuk kota Chelmsford, juga berarti war cabinet, war council, water closet.

Bagi kita yang awam, situs itu mudah dikonotasikan sedang memromosikan Indonesia sebagai water closet-nya Piala Dunia di tahun itu pula. Tempat kencing dan beraknya para pemain sepakbola kelas dunia ? Atau, bila saja Piala Dunia 2022 itu bisa berlangsung di Indonesia, maka boleh jadi prestasi tim sepakbola kita juga hanya sekelas derajat keberadaan fasilitas sekelas water closet juga.

Tanda-tanda ke arah itu, bukankah bau water closet tersebut, apalagi yang ada di gedung-gedung kantor pemerintah dan fasilitas umum di Indonesia, kini sedang kita nikmati aromanya bersama-sama ?

Di SEA Games Laos 2009, kita kalah dari tuan rumah. Lalu dicukur oleh Birma. Dalam penyisihan Piala Asia 2011, kita pun tersingkir. Bermain di kandang, Ponaryo Astaman dan kawan-kawan nampak ibarat pemain anak bawang yang kehilangan akal, hanya frustrasi, ketika benar-benar kesulitan merebut bola dari lawan sepanjang permainan.

Bahkan akhirnya, seorang suporter idiot menambah keruh konstelasi pertandingan. Ia nyerobot masuk lapangan,menggiring bola, tetapi juga tetap gagal menceploskan gawang ke kubu Oman. Media-media massa kita yang juga ketularan wabah idiot justru mengglorifikasikan ulah bodoh semacam itu sebagai perbuatan hero.Katanya, ulah itu sebagai koreksi bagi PSSI dalam pengelolaan sepakbola Indonesia.

Seribu suporter idiot semacam dia pun bukan solusi yang dibutuhkan untuk kebangkitan sepakbola Indonesia. Malahan, kuat kecurigaan bahwa ulah suporter bebal tersebut hanyalah trik, yang selama ini laku keras di Indonesia sejak era Orde Baru.

Ulah murahan darinya itu semata sebagai misdirection, pengalih isu, atas kegagalan Bambang Pamungkas, Boaz Solossa dan kawan-kawan itu. Plus, tentu saja, kegagalan besar Benny Dolo, Chandra Solekan, Andidarusalam Tabusala sampai Nurdin Halid pula.

Itu nampak dari fokus media massa kita yang mencaplok mentah-mentah aksi sebiji suporter yang berulah itu. Bila kita mendapat sanksi dari FIFA, maka kegagalan demi kegagalan dari Nurdin Halid dan rezimnya selama ini segera mampu tak terlihat menonjol di balik kabut ulah bebal suporter bersangkutan.


Demo ke KPK ! Suporter Indonesia, gunakan harta berharga titipan Tuhan yang demokratis itu, yang ada di antara kedua telinga Anda. Cari dan temukan solusi yang lebih cerdas bila Anda ingin secara serius dan tulus dalam memajukan dunia sepakbola Indonesia.

Saya ingin memberikan satu iuran gagasan : silakan beramai-ramai berdemo ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kuningan itu.

Desak agar Pak Bibit Samad Rianto, Pak Chandra Hamzah dan koleganya, untuk segera melakukan aksi penyadapan massal terhadap para pelaku industri sepakbola Indonesia. Termasuk para juru propagandanya yang suka menulis dan tampil di layar kaca dengan sering menghambur-hamburkan kata-kata hiperbola dalam memoles citra pertandingan sepakbola kita.

Lalu, tayangkan di televisi.
Dan terutama pada beragam media sosial di Internet.

Lalu desak pula Depkumham untuk membangun fasilitas penjara-penjara baru khusus untuk insan-insan pelaku industri sepakbola itu.

Dari hasil rekaman itu kita berpeluang mengetahui kebobrokan paling dalam dan paling masif dalam dunia sepakbola kita.

Walau saya yakin dan bercampur kuatir, wartawan sepakbola Indonesia tak akan ada yang mampu menuliskannya, siapa tahu momen dahsyat itu akan menggugah penulisan banyak buku.

Misalnya berjudul : Membongkar Gurita, Cephalopod, Nautilus, Oktopus Sampai Ubur-Ubur Bisnis Hitam dan Korupsi Tujuh Generasi di Tubuh Sepakbola Indonesia.

Siapa tahu pula, meminjam kembali kata-kata Nehru, saat itu cahaya yang telah lama musnah dari kehidupan sepakbola kita akan kembali. Suporter sepakbola Indonesia, never give up the dreams. Jangan berhenti bermimpi dalam ikut terus memajukan sepakbola Indonesia.


Wonogiri, 10 Januari 2010

si

Labels: , , , , , , , , , , , ,

Friday, April 24, 2009 

Stuart Bruce, Nurdin Halid, Sepakbola Indonesia




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Tsunami sepakbola. Mie mentah.Dingin.Campur saus plus sambal. Itu salah satu menu sarapan saya pagi itu. Ini kesalahan pemula. Kesalahan wong ndeso di kota metropolis Singapura.

Karena saya tidak sadar bahwa di dekat nampan mie itu ada kompor gas kecil yang diatasnya terdapat kuali tembikar berisi kuah panas untuk menjerang mie tadi. Maklum saja, saya bukan ahli gastronomi.

Sambil sarapan, saya membuka-buka majalah Newsweek edisi terbaru. Salah satu kolomnya ditulis editornya yang cemerlang, Fareed Zakaria. Hari itu, 17 Januari 2005, hanya berselang tiga minggu setelah tsunami dahsyat menghantam Aceh dan negara-negara di tepian Samudera Hindia.

Fareed Zakaria menulis, dalam setiap kejadian bencana, fihak yang diuntungkan adalah justru kaum papa. Kaum miskin. Mereka terbiasa tidak memiliki apa-apa dan sesudah bencana, mereka kembali juga tidak memiliki apa-apa. Tetapi, lanjutnya, bencana tsunami 2004 itu lain. Kaum miskin kali ini juga sangat merasakan akibat fatalnya.

Beberapa hari sebelumnya, saya memimpikan adanya sesisir penghiburan bagi para korban tsunami, juga bagi psyche bangsa Indonesia saat itu. Melalui sepakbola. Di final Piala Tiger 2004. Di semifinal tim kita bisa menghancurkan Malaysia 1-4 di kandang mereka, sungguh menggelorakan.

Tetapi dalam pertandingan final leg pertama di Senayan, 8/1/2005, kita kalah ditekuk Phill Bennet dan kawan-kawan dari Singapura dengan 1-3. Gol tembakan bebas Mahyadi Panggabean tidak menyelamatkan saya, yang duduk di pinggir lapangan, karena nyaris dihantam bom botol air mineral berisi air kecing kekuningan yang dilemparkan oleh penonton kita yang frustrasi dari tribun stadion.

Heal the nation.” Itulah bunyi spanduk besar, rancangan saya dan Mayor Haristanto, yang pada tanggal 16/1/2005, terpampang di sudut timur laut Stadion Kallang, Singapura. Tergurat di sana harapan, melalui sepakbola sembuhkan luka bangsa Indonesia akibat bencana tsunami, dan bangkitlah Indonesia untuk meraih kemenangan dan kejayaan. Kita kalah lagi, 1-2. Agregat : 2-5 untuk kejayaaan Aedi Iskandar dan kawan-kawan dari Negeri Singa itu. Tsunami sepakbola Indonesia kali ini membawa dampak lebih jauh. Mengalir kepedihan sampai kini.

Sepakbola fantasi. Esoknya, ada sedikit penghiburan. Koran utama Singapura, harian The Straits Times (17/1/2005) memuat ucapan saya. Bahwa saya masih punya optimisme terhadap masa depan sepakbola Indonesia. Saya masih mempercayai bahwa Peter Withe, pelatih timnas saat itu, akan mampu membuat timnas kita kembali berjaya.

Optimisme saya itu mungkin optimisme buta. Saya hanya menganalogikan sukses yang dicapai oleh Peter Withe (sampai saya membuat kaos dengan slogan : I Believe The Withe Magic !) ketika melatih tim Thailand, akan juga berbuah sukses ketika melatih Ponaryo Astaman dan kawan-kawan.

Ketika Peter Withe pergi, ketika Nurdin Halid masuk penjara karena tindak pidana korupsi dan ketika Nurdin Halid keluar dari penjara tetapi ia bersama kroninya tetap bersikukuh ingin memegang kendali PSSI, saya kali ini sudah putus harapan. Melalui stasiun televisi antv, beberapa hari lalu, tiba-tiba saya melihat siaran berisi acara peringatan HUT ke-79 PSSI.Dengan tajuk “PSSI Fantasy.” Maka saya pun segera semakin tahu kini : sepakbola Indonesia adalah sepakbola fantasi.

Fantasi-fantasi itu, khayalan demi khayalan itu, memang yang hidup di kepala para pengelola persepakbolaan Indonesia. Berkhayal dengan mengirimkan tim berlatih ke luar negeri akan mampu mendongkrak prestasi. Rumus lama yang selalu didaur ulang walau hasilnya semata kegagalan selama ini. Lalu berkhayal sebagai penyelenggara Piala Dunia 2018 atau 2022. Termasuk mungkin berkhayal, bahwa saat itu ketua PSSI tetap digenggam oleh Nurdin Halid beserta kroni-kroninya.

Mana aksi suporter kita ? Tulisan Fareed Zakaria, juga cerita yang sering saya ulang mengenai final Piala Tiger 2004 di atas, muncul di benak lagi ketika ngobrol dengan Stuart Bruce. Ia suporter fanatik klub papan atas Skotlandia, Glasgow Rangers. Tempat ngobrolnya : Wonogiri, Kamis, 23 April 2009.

“Sebagai seorang Scotland, Stu itu Rangers sejati, sampai ke tulang dan darahnya :),” demikian bunyi sms dari Ade Soediro, eksekutif Radio Istara FM, Surabaya. Ade adalah tunangan dari Stuart Bruce (foto). Bagaimana ceritanya seorang suporter Glasgow Rangers bisa main ke Wonogiri ? Keajaiban itu bisa terjadi berkat blog di Internet, karena Google, terutama karena keagungan cinta. Hal ini bisa menjadi cerita tersendiri, termasuk menyangkut naskah buku saya Hari-Hari Sepakbola Indonesia Mati.

Stu kini tinggal di Manchester, Inggris. Sebagai seorang billy boys, sebutan bagi suporter Glasgow Rangers, ia pernah melanglang daratan Eropa. Juga sebagai seorang tartan army, sebutan bagi pendukung timnas Skotlandia. Suporter dari bangsa yang kaum prianya suka mengenakan rok kilt dan berbaris meniup alat musik bagpipe ini, tersohor tergolong sebagai kelompok suporter paling suportif dan sopan di Eropa.

The Tartan Army,” kata saya, “ dan juga Roligans dari Denmark, adalah kelompok suporter sepakbola yang perilakunya ingin menjadi suri tauladan kelompok suporter Indonesia.” Karena mereka bersahabat. Saat itu di pojok ruang tamu rumah saya, komputer sedang memutar CD saat kedatangan Pasoepati disambut meriah, gairah dan persahabatan, di tengah gemuruh Aremania di Stadion Gajayana, Malang, 21 Mei 2000. Saat itu tepat satu tahun reformasi di Indonesia !

Stuart Bruce, yang pernah menjadi dosen Sastra Inggris di Unika Sugiyopranoto Semarang, kini mendukung tim divisi 3 Stockport City di Manchester. “Kalau tur keluar kota, saya yang menjadi supir truk untuk membawa rekan-rekan suporter itu,” katanya bangga dan bahagia. Pengalaman hidupnya mendukung tim Skotlandia dan juga Glasgow Rangers yang diakuinya kurang bersinar di kancah Eropa, memberinya kebijakan dan kearifan. “Sebagai suporter tim lemah itu nothing to lose, kita terbiasa mengalami kekalahan, maka kita berusaha menikmati saja proses dan bukan hasilnya,” katanya sambil tertawa.

bambang dan stuart bruce
Suporter sepakbola itu bersaudara. Keajaiban blog, Google, Internet dan keagungan cinta, membawa seorang suporter Glasgow Rangers, Skotlandia, berkunjung ke Wonogiri. Saya dan Stuart bersama kaos tim Glasgow Rangers.

Terima kasih, Stuart. Dalam kunjungan ini Stuart Bruce “membaptis” saya sebagai salah satu bluenoses, sebutan sesama suporter Rangers, asal Wonogiri. Hadiahnya, kaos biru berplisir merah dari yang pernah dikenakan Giovanni van Bronckhorst, keturunan Maluku Selatan dan timnas Belanda sampai Andrei Kanchelskis, pemain sayap Rusia dan mantan MU itu, kini bisa yasa kenakan. Kepada Stuart Bruce, saya berikan buku kliping sejarah Pasoepati dan dokumentasi tur-tur Pasoepati dalam bentuk CD.

“Congrats ! Selamat menjadi fans baru Rangers !,” lagi-lagi sms dari Ade Soediro dan Stuart Bruce dalam perjalanan kereta api Solo-Surabaya. Mungkin Ade dan Stu lupa, rumah saya pun sudah lama menandakan sebagai fans Rangers. Pagar, daun jendela dan daun pintu, semuanya berwarna : biru Rangers. Kedatangan tak terduga dari Stuart dari Glasgow akhirnya itu ibarat sebuah siklus yang sempurna. Karena pada tahun 2007, Broto Happy W., redaktur sepakbola nasional dari Tabloid BOLA, yang adik saya, pernah mengunjungi Ibrox Stadium, markas besar klub Glasgow Rangers.


Teladan Gandhi. Teman-teman baru saya itu kini memang sudah meninggalkan Wonogiri. Tetapi ucapan Stuart Bruce masih membekas. Bahwa proses itu penting, walau hasil juga penting. Perjalanan itu penting, tujuan juga penting.

Menurut hemat saya, insan-insan pemangku kepentingan sepakbola Indonesia harus mau banyak belajar dari pengalaman hidup Stuart Bruce tadi. Menurut hemat saya, kita selama ini semata terobsesi untuk merengkuh hasil tetapi melupakan proses. Bahkan demi merengkuh hasil itu kita tega berbuat menghalakan segala cara, bahkan sampai melakukan tindakan kriminal.

Contoh aktual : aksi mengutak-atik bunyi peraturan FIFA oleh para petinggi PSSI kita, apakah juga perbuatan yang menghalalkan cara, sekaligus sebagai tindak kriminal ? Mungkin ikhtiar semacam ini bisa lolos. Tetapi hasil akhirnya akan dicatat oleh semesta, dan hanya kegagalan yang menyapa pada ujung-ujungnya.

Di tengah carut-marut tindak rekaculika itu, lalu di mana suara para suporter sepakbola Indonesia ? Kalau upaya meluruskan apa yang terjadi dalam tubuh PSSI saat ini dilakukan dengan cara seperti melakukan demo, justru cara seperti ini yang “ditunggu” oleh mereka. Apalagi kalau ada tindak kekerasan. Kita para suporter akan terjebak dalam alunan gendang aksi mereka.

Rekan-rekan suporter, beraksilah dengan metode di luar kotak. Tirulah cara Mahatma Gandhi (1869-1948) dalam menanggapi tindak kekejaman kolonial Inggris saat itu ketika India menjelang kemerdekaannya. Gandhi menyerukan pendukungnya untuk melakukan aksi anti kekerasan. Salah satu aksinya yang terkenal adalah satyagraha, aksi non-koperasi dengan penguasa sipil. Kalau seluruh suporter Indonesia kompak, melupakan dulu konflik semu antarkota, meminggirkan primodialisme, demi masa depan sepakbola Indonesia di tataran terhormat sepakbola dunia, kita mungkin mampu merubah keadaan.

Ketika memperingati sewindu Hari Suporter Nasional, 12 Juli 2008, bersama rekan-rekan suporter Solo, saya merancang melakukan aksi demo berdiam diri di Gladag, Solo. Pesannya adalah, untuk memprotes pengelolaan sepakbola Indonesia saat ini, menurut saya cara yang paling efektif adalah dengan : tidak menonton pertandingan sepakbola Indonesia.


Wonogiri, 24 April 2009

Labels: , , , , , , , , ,

Friday, September 19, 2008 

The Bright Side of Soccer Blogger


Oleh : Bambang Haryanto



Lima puluh lima ribu “singa” itu mengaum bersamaan. The lion’s roar yang menggetarkan. Ole, ole, ole, ole ! Ole, ole ! Gemuruhnya mengepung kami yang hanya berjumlah ratusan kepala di pojok timur laut stadion. Inilah final leg 2 Piala Tiger 2004. Stadion Kallang Singapura, 16 Januari 2005.

Impor, impor, impor, impor !
Impor, impor !

Itulah teriakan balik kami, suporter sepakbola Indonesia. Mantra pengusir auman singa itu lumayan manjur, karena kiranya langsung menohok jantung eksistensi suatu bangsa. Negeri pulau Singapura yang warganya terdiri pelbagai ras dan suku bangsa itu tak bisa mengelak dari tembakan miring kami ini.

Karena di skuad sepakbola mereka saat itu bertabur pemain impor Ada Itimi Dickson dan Agu Casmir, asal Nigeria. Ada pula bek tangguh Daniel Bennett yang bule, kelahiran Inggris. Mereka semua dinaturalisasikan sebagai warga negara Singapura.

Teriakan kami saat itu boleh jadi merupakan cerminan sikap miopia. Rabun dekat. Nasionalisme yang sempit. Sebab ketika globalisasi semakin nyata, hal yang terjadi di Singapura itu sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu untuk terjadi pula di Indonesia. “Nasionalisme adalah penyakit kekanak-kanakan. Ia merupakan penyakit campak bagi kemanusiaan,” demikian ujar Albert Einstein.

Sakit campak atau tidak, yang bergemuruh di dada saat itu adalah rasa nasionalisme yang meluap. Kami benar-benar cinta Indonesia. Ketika saya dan Mayor Haristanto tiba di stadion dan membentangkan spanduk besar yang kami bawa dari Solo, bertuliskan slogan “Bangkit Indonesia !,” api nasionalisme itu ibarat kena semburan bensin. Tribun kami terbakar oleh perasaan cinta yang membara terhadap tanah air.

Photobucket

Tidak sedikit dari kami, yang bila dilihat dari warna kulit dan bentuk mata menunjukkan keturunan Cina. Tetapi kami semua kompak bersama-sama melagukan Indonesia Raya. Nasionalisme kami benar-benar mendidih. Saya saat itu merinding dan meneteskan air mata. Bangga sebagai bangsa Indonesia.

Sayang, Indonesia gagal jadi juara. Misi yang tertuang di kaos saya, “Tame The Lions, Heal The Nation” tak jadi kenyataan. Impian kemenangan timnas sebagai pelipur duka bangsa setelah Aceh diguncang tsunami dahsyat, tidak kesampaian. Pada pertandingan leg 1 di Senayan, kita sudah kalah 1-3. Di Singapura, walau di kaos saya juga sudah bertuliskan mantra I Believe The Withe Magic, toh Ponaryo Astaman dkk kalah lagi, 2-1. Agregat : 5-2 untuk Singapura.

”Singaporeans cheered last night, with all their hearts,” tulis kolumnis Godfrey Robert di koran The New Paper esok harinya. Singapura, negeri mini itu, memuncaki prestasi sepakbola Asia Tenggara.

Malam itu saya dan Mayor yang ikut mobil tim kembali ke hotel timnas Indonesia, Hotel Amara di Tanjong Pagar, dengan perasaan hambar. Di lantai tujuh hotel bintang 4 itu saya mengambil titipan tas di kamarnya Ismed Sofyan. Ia mengeluarkan semua isi lemari es hotel, tetapi kudapan kelas hotel mewah itu terasa hambar. Serasa lebih nikmat ketika makan bersamanya, tahun 2002, dengan sayur asem, sambal dan sepotong ayam goreng di asramanya saat Ismed Sofyan masih di Solo memperkuat tim Persijatim Solo FC.

Sedikit “kemenangan” saya peroleh secara pribadi di keesokan harinya (17/1/2005). Sambil sarapan pagi di Hotel Quality, saya membuka-buka surat kabar utama negerinya Lee Kuan Yew itu, The Straits Times. Pendapat saya sebagai suporter sepakbola Indonesia (foto) termuat di sana.


Football flaneur ! Sebagai seorang suporter sepakbola, cerita di atas telah saya gurat untuk menjadi salah satu khasanah sebuah blog, Suporter Indonesia, yang saya luncurkan sejak bulan Juli 2003. Termasuk cerita di Bandara Changi ketika saya memergoki buku kedua dari Malcolm Gladwell, Blink : The Power of Thinking without Thinking (2005). Juga buku kumpulan lelucon tentang David Beckham. Anda tahu ciri-ciri komputer yang baru saja digunakan oleh David Beckham ? Kalau Anda temui banyak bercak-bercak bekas Tipp-Ex di monitornya.

Ketika memutuskan untuk surut dari kegiatan suporter di lapangan, termasuk undur dari status sebagai seorang football flaneur, istilah dari penyair Perancis Charles Baudelaire (1821–1867) yang bermakna sosok pengembara dari satu kota ke kota lainnya untuk mengikuti tur sepakbola, maka status sebagai seorang soccer blogger menjadi kiprah lain untuk menunjukkan kecintaan (sekaligus kebencian !) saya terhadap sepakbola. Sepakbola Indonesia.

Nick Hornby, penulis novel Inggris, pernah berujar "I fell in love with football as I was later to fall in love with women. Suddenly, uncritically, giving no thought to the pain it would bring." Memang begitulah yang terjadi. Kecintaan itu ternyata membawa terlalu banyak duka lara dan kekecewaan saya terhadap prestasi sepakbola Indonesia.

Termasuk kecewa terhadap sesama sobat saya, para suporter sepakbola Indonesia. Tanggal 12 Juli 2008, untuk memperingati sewindu deklarasi Hari Suporter Nasional, saya dan kawan-kawan berdemo di perempatan Gladag Solo. Kami memajang banner, antara lain bertuliskan otokritik : “Suporter Indonesia, Suporter Myopia !”

Suporter Indonesia sekarang ini kena penyakit rabun dekat, cadok, mendewakan kedaerahan. Berani mengadu nyawa untuk membela daerahnya. Tetapi tak mau terbang tinggi, mengawasi dengan nurani jernih dan pikiran cerdas, bagaimana roda sepakbola Indonesia dijalankan. Terutama oleh pimpinan PSSI yang kini masuk penjara karena tersangkut perkara korupsi. Termasuk mencermati ulah kroni-kroninya pula.Hemat saya dan harapan saya, sepakbola Indonesia memerlukan lebih banyak lagi, dan lebih banyak sekali soccer blogger untuk mengkritisi bagaimana industri sepakbola Indonesia dijalankan selama ini dan nanti.

Dalam diskusi yang riuh dan berbobot mengenai 95 tesis bisnis baru yang diajukan Rick Levine, Christopher Locke , Doc Searls dan David Weinberger dalam Cluetrain Manifesto : The End of Business as Usual (1999), mencuat pendapat Luis Marinho Falcão, Direktur dari Ogilvy Interactive. Ia mengatakan, "the most frightening thing about an electronic whisper is the fact that it becomes a gigantic roar before some notice it."

Merujuk hal di atas, kini saatnya suporter sepakbola Indonesia harus menggunakan blog untuk bersuara. Mengubah bisik-bisik olektronik mereka menjadi bengokan yang membahana untuk mengoreksi salah kelola pada sepakbola Indonesia. Apalagi ketika pelbagai media mainstream yang cocoknya pantas disebut sebagai lame stream media, media yang lamban, semakin tidak bergigi menyuarakan ide-ide perbaikan bagi masa depan dunia olah raga, khususnya sepakbola Indonesia. Suporter Indonesia, jadilah seorang soccer blogger saat ini pula. Mari bersuara terus untuk perbaikan sepakbola Indonesia !


Sisi cerah blogger sepakbola. Mendung tak selamanya kelabu. Bisik-bisik elektronik tentang sepakbola dan suporternya yang saya tulis di blog itu, syukurlah, bukan selalu cinta yang melulu bertepuk sebelah tangan. Pernah mengalami pula kejadian yang mencengangkan.

Antara lain satu dua kali dikontak agen pemain dari Uruguay (“mereka temukan via Google”) untuk diajak bekerjasama. Dan blog itu pula yang membuat saya diminta untuk menjadi penulis atau menjadi nara sumber untuk wawancara media.

Misalnya oleh Andibachtiar “Ucup” Yusuf. Secara pribadi, saya belum pernah bertemu muka dengan dirinya. Ketika ia dan kawan-kawannya di Jakarta (saat ia sendiri tinggal di London) meluncurkan majalah sepakbola gratis, FreeKick, maka sekitar satu setengah tahun sejak awal 2006 saya ikut mengisi majalah tersebut. Hadiah indah lain dari dirinya adalah buku Football in Sun and Shadow, karya Eduardo Galeano (2003). Ini buku tentang sepakbola yang ditulis dengan cita rasa sastra yang tinggi.

Kali yang lain, ketika jaringan Radio 68 H Jakarta membincangkan tentang perangai brutal suporter sepakbola Indonesia, saya yang tinggal di Wonogiri ikut berdiskusi melalui telepon. Nara sumber lainnya adalah wartawan Arya Abhiseka, yang kini sering muncul dalam siaran sepakbola antv, dan satu rekan lagi dari The Jakmania.

Kabar terbaru muncul dari Budapest. Dari Andibachtiar “Ucup” Yusuf lagi. Ia yang telah menghasilkan film yang merupakan genre baru di pentas perfilman nasional, yaitu The Jak dan The Conductors, mengabarkan bahwa perusahaannya Bogalakon Pictures bersiap meluncurkan film baru. Dengan mengadaptasi lakon klasik Romeo & Juliet-nya Shakespeare, tetapi tema filmnya itu tetap sepakbola.

Saya sempat bertanya : pakai versi Romeo & Juliet yang dibintangi Olivia Hussey-Leonard Whitting dengan sutradara Franco Zeffireli (1968, “termasuk film favorit saya”), versi Leonardo Di Caprio dan Claire Dane dengan sutradara Baz Luhrmann, atau versi West Side Story yang pernah di-Indonesiakan dengan judul Laila Majnun, dibintangi Ahmad Albar dan Rini S. Bono ?

Dalam email Ucup bercerita : “Tensi cerita (film itu) akan lebih tinggi dan keras berhubung yang sedang digambarkan adalah dunia pendukung sepakbola. Referensi saya adalah Football Factory dan Rise of The Footsoldiers untuk beberapa kekerasan suporter, tetapi film-film seperti Bittersweet Life, Iron Man sampai Apocalypto rasanya juga akan saya jadikan acuan beberapa adegan.

Seperti rencana saya yang sekarang sudah tertulis di draft 1, saya dan Mas Bambang akan muncul sebagai cameo, berkicau tentang sepakbola Indonesia dan kelakuan para suporternya di bagian pembuka dan penutup. Sama kan dengan versinya Baz Luhrmann dan Leonardo Di Caprio itu ? ”

Seorang suporter sepakbola, seorang soccer blogger, dan di depan nanti, moga-moga jadi, sebagai seorang cameo dalam film layar lebar tentang suporter sepakbola. Ah, kisah hidup seorang soccer blogger yang tak terduga-duga.


Bambang Haryanto, blogger dari Wonogiri sejak tahun 2003. Tahun 2000 aktif sebagai Menko Kreatif dan Media dalam kelompok suporter Pasoepati (Solo). Meraih MURI tahun 2000 sebagai Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli. Tesisnya mengenai revolusi untuk mengubah budaya kelompok suporter dari destruktif menjadi berbudaya kreatif memenangkan Honda The Power of Dreams Award 2002. Penggagas dan salah satu pendiri Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI), 2002.

Labels: ,

Wednesday, December 12, 2007 

Sepakbola Indonesia : Hanya Untuk Bisnis dan Bukan Untuk Prestasi Atau Kebanggaan Nasional !



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com




Moral Sepak Bola ! Novelis, dramawan dan esais Perancis Albert Camus (1913–1960) pernah berujar bahwa sepanjang keyakinannya mengenai moralitas dan tanggung jawab ia merasa berhutang dari sepak bola. Umpama dirinya sekarang (foto) masih hidup dan melihat drama yang terjadi di organisasi sepak bola Indonesia, PSSI, mungkin ia akan mati mendadak karena memendam frustrasi berat.

Kita lihat, ketua umumnya Nurdin Halid harus masuk penjara tersangkut perkara korupsi. Kemudian badan tertinggi sepak bola dunia FIFA memerintahkan dilakukan pemilihan ulang ketua umum. Tetapi kalangan petinggi PSSI itu ramai-ramai ingkar demi mempertahankan kursi ketua umumnya itu. Kalau sudah begini, dimana moral dan tanggung jawab dari roh sepak bola itu di mata mereka ?

Dalam kemelut yang menyedihkan dari wajah sepak bola kita, di mana pula suara suporter sepak bola Indonesia ? Di antara ratusan ribu atau bahkan jutaan penggila bola di tanah air itu apa benar-benar tidak ada sosok yang cerdas, punya nurani, punya moral dan juga aksi yang bertanggung jawab untuk ikut menyelamatkan sepak bola Indonesia ?

Jock Stein pernah bilang, sepak bola itu omong kosong apabila tanpa suporter. Maka sepak bola Indonesia juga hanya omong kosong apabila para suporter kita untuk sementara ini, di tengah melambungnya sikap arogansi petinggi PSSI yang melecehkan moral dan tanggung jawab itu, memutuskan sepakat untuk libur sementara waktu dalam menonton semua pertandingan sepak bola Indonesia !


Itulah surat pembaca saya yang dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, 8/11/2007. Kemudian kita dapat bercermin dari berita di Kompas (5/12/2007 : hal. 30) berjudul “Penonton Tinggalkan Liga Djarum.” Dikisahkan bahwa pertandingan Liga Djarum Indonesia (LDI) di sejumlah kota di Sulawesi Utara yang diikuti 3 tim , Persma Manado, Persmin Minahasa dan Persibom Bolaang Mongondow, mulai ditinggalkan penonton. Jumlah penonton pada beberapa pertandingan di 3 kota tersebut rata-rata di bawah 5 ribu orang.

Alasan utama minimnya penonton hadir di stadion adalah kebijakan ekstrem PSSI yang meniadakan sistem degradasi dan promosi bagi klub peserta LDI tahun ini. Panitia LDI di Manado, Jantje Supit dan Kudji Moha, pengurus Persibom di Manado (4/12/2007), mengatakan bahwa penurunan minat penonton karena iklim LDI, terutama di klub penghuni papan tengah dan bawah, yang tidak lagi kompetitif.


Pantas Menuju Kematian. Sepakbola Indonesia yang mulai ditinggalkan penonton senyatanya adalah sepakbola penuh rekayasa. Peraturan begitu mudah berganti-ganti, tetapi pada ujungnya hanyalah jeblognya prestasi demi prestasi timnas kita di pertandingan internasional. Penghamburan uang negara dengan mengirim mereka berlatih ke luar negeri, misalnya ke Belanda sampai Argentina, tidak lain hanyalah tipuan kehumasan untuk memoles citra. Trik semacam ini sudah berlangsung sejak jaman Primavera di era 1980-an dan semuanya berbuah kegagalan.

Semua kepahitan tentang kegagalan itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Kita tidak pernah serius mengoreksi, karena kita cenderung lebih suka melupakannya. Kita memang bangsa yang mudah lupa, sehingga akhirnya semua yang terjadi kita anggap sebagai suatu kewajaran yang biasa terjadi. Walau pun terjadi berulang sekali pun. Sungguh malang bangsa yang mudah pelupa ini.

Di luar urusan sepakbola, sebagai contoh, kebanyakan kita saat ini mungkin sudah benar-benar melupakan peristiwa terbunuhnya wartawan Yogya Udin. Juga meninggalnya pejuang buruh Marsinah, hilangnya penyair Wiji Thukul, tak ingat lagi peristiwa Semanggi I dan II, dan mungkin sebentar lagi terbunuhnya pejuang hak-hak asasi manusia Munir sudah pula kabur serta sirna dari ingatan kita. Memang, kebanyakan kita mudah terperangkap oleh dunia kecil kita sendiri. Kita pun cenderung cuek, tidak ambil peduli untuk mempertahankan ingatan terhadap hal-hal yang tidak secara langsung terkait dengan hidup kita.


Kembali ke masalah lapangan hijau, dapatkah kita ingat data secara akurat, misalnya berapa kali timnas kita melakukan pertandingan resmi, dan bagaimana data prestasinya sepanjang usianya 77 tahun kini ? Benarkah Kurniawan Dwi Yulianto telah mengemas 33 gol untuk timnas, dan sekaligus juga merupakan gol yang terbanyak ? Kemudian, berapa kali Ronny Pattinasarani, Bambang Nurdiansyah, Bambang Pamungkas atau Ponaryo Astaman, membela tim nasional kita ? Berapa gol yang sudah mereka ciptakan untuk timnas dan selama kariernya sebagai pemain profesional ?

Sebagai penyegar ingatan : timnas kita memiliki rekor memasukkan gol terbanyak dalam pertandingan di Jakarta, 23 Desember 2002. Saat itu kita bertanding melawan Filipina. Skor : 13-0. Sementara itu pada tanggal 3 September 1974, di Copenhagen, Denmark, timnas kita meraih rekor terjelek dalam kemasukan gol. Saat itu kita dicukur Denmark : 9-0 !

Data berikut ini barangkali juga sudah kita lupakan. Timnas U-23 kita, walau sempat berlatih 4 bulan untuk menghabiskan biaya 28 milyar rupiah di Belanda, tersingkir ketika mengikuti kualifikasi Asian Games di Dhoha 2006. Saat mereka dilumat 0-6 oleh Iran, asisten pelatih Bambang Nurdiansyah seperti dikutip wartawan Kompas Syamsul Hadi yang ditanyai BBC (20/11/2006), mengatakan bahwa Ferry Rotinsulu dan kawan-kawan bermain dengan “gaya sepakbola Melayu, bukan sepakbola Eropa.” Konkritnya : saat itu mereka mendapatkan hukuman dua kartu merah dan enam kartu kuning. Selanjutnya digebuk Suriah 1-4 dan ditahan 1-1 oleh Singapura.

Timnas senior kita, Ponaryo Astaman dkk, di babak kualifikasi Piala Dunia 2010 dipermalukan oleh Suriah dengan skor 1-4 di Senayan. Lalu muncul ide gila PSSI, saat bertanding di Damascus dikirimkan tim U-23 yang akhirnya diremuk 7-0 lagi oleh Suriah. Terhentinya tim U-23 tersebut di ajang SEA Games XXIV/2007, sehingga gagal masuk semi final karena kalah dari Thailand 1-2, merupakan bukti nyata yang terakhir mengenai kemandegan prestasi sepakbola kita. Semua fakta di atas mudah kita lupakan. Sekaligus tidak pernah menjadi bahan pelajaran bagi para petinggi sepak bola kita untuk berbenah diri !


PSSI Nurdin Halid, Inc. ! Keledai itu pun masuk lubang lagi, bahkan lubang yang sama. Awal Desember 2007 terbetik kabar buruk bahwa klub Indonesia kehilangan peluang (lagi) untuk berlaga di ajang Champions Asia. Masih ingat peristiwa yang sama, tahun 2006 lalu ? Ketika itu PSSI dan Badan Liga Indonesia (BLI) tidak becus mengelola pekerjaan administratif, urusan surat-menyurat. Akibatnya pun fatal. Indonesia mendapat sanksi tanpa kompromi dari Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) yang membuat tim Persipura (Jayapura) dan Arema (Malang) gagal berlaga di ajang kompetisi Liga Champions Asia 2006.

Adakah kejadian beruntun yang memalukan itu patut disesali, apa pun penyebabnya, oleh para petinggi PSSI kita ? Kiranya tidak. Karena mereka pun sadar dan tahu bahwa pengiriman tim apa pun ke luar negeri hasilnya dapat dipastikan : jeblog. Sehingga dalam menyikapi konsekuensi pahit itu PSSI telah mengambil “solusi” penyelamatan dirinya secara dini : lebih baik dihujat publik karena alasan ketidakberesan administrasi daripada menelan fakta nyata dan pahit tentang kegagalan tim-tim kita di ajang Champions Asia dan ajang internasional lainnya.

PSSI alergi untuk pertandingan internasional. PSSI pimpinan Nurdin Halid lebih bergairah mengutak-utik sepak bola domestik, karena di sanalah uang besar itu berada. Terkait hal satu ini saya ingat lelucon Yahudi tentang seseorang penjudi yang selalu menang dalam berjudi kartu, tetapi selalu kalah dalam taruhan pacuan kuda. Mengapa selalu kalah dalam judi pacuan kuda ? Karena kuda-kuda pacuan itu tidak bisa dikocoknya !

Nurdin Halid dan rejimnya jelas tidak mampu “mengocok” hasil-hasil pertandingan tim kita di ajang internasional. Tetapi untuk sepak bola domestik, ia mampu melakukannya. Ia pernah bilang dengan bangga bahwa kompetisi di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, baik dalam jumlah klub mau pun luas wilayahnya. Itulah proklamasi pengesahan betapa Nurdin cenderung memilih menjadi katak dalam tempurung. Atau burung dalam sangkar yang berpikiran bahwa cat biru atap sangkarnya sebagai langit jagat rayanya. Itulah dunia nyata Nurdin Halid kini. Itulah pula dunia bisnisnya, PSSI Nurdin Halic Inc., yang dipertahankan sekuatnya dengan setia bersama kroni pendukungnya.

Apa saja aksi-aksi bisnisnya yang menonjol ? Eksekusi bisnis PSSI Nurdin Halid Inc. yang mencolok adalah melakukan pemekaran jumlah klub yang berlaga di Liga Indonesia. Yang semula 28 klub menjadi 36 klub. Bahkan untuk masa akhir masa kompetisi 2007 nanti, sambil tidak memikirkan hancurnya spirit kompetisi, Badan Liga Indonesia (BLI) telah memutuskan untuk meniadakan degradasi. Mengapa keputusan ini ia tempuh ?

Sepak bola adalah bisnis kerumunan. Semakin banyak kerumunan memenuhi stadion, semakin menguntungkan bisnis itu. Semakin banyak kota menggelar pertandingan sepak bola semakin baik bagi bisnis tontonannya. Karena uang PSSI keruk bukan semata dari hasil penjualan tiket pertandingannya, tetapi yang utama adalah bisnis periklanan yang menyertainya.

Eyeballs business.

Itulah makanya sekarang sepak bola Indonesia gencar disiarkan oleh televisi. Sekadar catatan, fihak televisi swasta yang memenangkan hak siar Liga Indonesia adalah ANTV, yang tidak lain merupakan salah satu bisnis keluarga Nirwan Bakrie, salah satu petinggi PSSI. Banyak kalangan berpendapat, selama ini pula PSSI yang memonopoli pemasukan dari sponsor, yang mencapai angka milyaran rupiah. Sementara klub-klub yang bertanding hanya memperoleh cipratan duit-duit recehan belaka.

Geriap nafsu yang kini subur berkembang di seputar kantor PSSI di Senayan adalah, mari kita berpesta, dengan cara Anda sendiri-sendiri, guna mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari sepak bola Indonesia. Pucuk pimpinan, para eksekutif, pelatih, bahkan wartawan peliput dan pentolan suporter, semuanya berusaha menemukan kapling terbaik bagi mereka untuk memperoleh keuntungan. Kalau cara kapitalisme ini dilaksanakan dengan jujur, terbuka dan transparan, tidak ada masalah. Tetapi apakah hal itu sudah berjalan di tubuh PSSI kita ?


Sepak Bola dan Politik. PSSI juga ibarat lintah raksasa ganas yang menghisap habis dana-dana daerah. Anda sudah maklum, dari mana klub-klub peserta Liga Indonesia memperoleh dana untuk hidup selama ini ? Sebagian besar menyusu kepada APBD. Kebijakan semacam inilah yang menelorkan “sepak bola plat merah” dengan segala komplikasinya. Banyak kepala daerah tampil sebagai ketua umum, sementara anak atau pun menantu, menjadi manajernya.

Dampaknya, banyak sekali klub-klub Liga Indonesia dijadikan objek bisnis, tentu saja bermotifkan uang, pengaruh mau pun kepentingan politik birokrat daerah setempat. Semua itu adalah wajar bila berada dalam koridor transparansi dan fair play. Tetapi karena penyakit pengaturan skor dan bahkan mungkin pengaturan juara merupakan rahasia umum di Indonesia, maka kembali kita saksikan betapa sepak bola Indonesia dicabik-cabik roh dan badannya, kini dari kubu lain, yaitu justru oleh pengurus klub itu sendiri !

Penyimpangan lain dalam industri sepak bola Indonesia yang juga menyakitkan, begitu tegas Sumaryoto, mantan Pengda PSSI Jawa Tengah dan salah satu penggagas Liga Indonesia, bahwa kita justru membina para pemain asing. Dalam satu pertandingan setiap klub boleh memainkan lima pemain asing. Artinya, hanya enam pemain lokal yang berkesempatan menunjukkan prestasinya. Secara tidak langsung, kita telah menggunakan sebagian dari dana APBD tersebut untuk membina pemain asing, tandasnya.

Kini, terkait ulah klub-klub yang selama ini hanya mampu menyusu APBD, mesin uang Liga Indonesia dari bisnis sepak bolanya PSSI Nurdin Halid Inc. mendapatkan guncangan keras. Yaitu akibat adanya larangan penggunaan dana APBD untuk klub/tim sepak bola mulai tahun 2008. Kemana kira-kira PSSI akan berpaling untuk mempertahankan bisnisnya yang lukratif itu ?


Saudagar Kematian Serbu Indonesia ! Menurut hemat saya, PSSI akan berusaha mati-matian mengeruk kocek secara lebih dalam lagi para sponsor, yaitu perusahaan-perusahaan rokok di Indonesia. Mungkin tidak hanya perusahaan rokok domestik, melainkan juga beberapa perusahaan rokok raksasa (ingat, Djie Sam Soe sekarang ini sudah dimiliki perusahaan rokok Phillip Morris, penghasil Marlboro, dari Amerika Serikat !) dari manca negara lainnya.

PSSI mungkin merasa memiliki kartu As, karena penduduk Indonesia didominasi usia muda, rata-rata menyukai sepak bola, sehingga merupakan potensi untuk dijual sebagai sasaran iklan rokok yang sangat menggiurkan melalui sepak bola. Peluang itu terbuka. Banyak pendukungnya.

Sekadar contoh, simak di kalangan pelatih klub yang sering muncul di televisi dengan aksi merokoknya. Misalnya, Arcan Yuri, Bambang Nurdiansyah, Bonggo Pribadi sampai Suimin Diarja. Iswadi Idris, tokoh PSSI, adalah perokok setia. Sementara Sutan Harhara adalah komentator di televisi yang suka mengglamorisasikan aksinya sebagai chain smoker ketika mengikuti tim yang ia latih sedang berlaga.

Tambahan ilustrasi : beberapa tahun lalu saya sempat menguping obrolan awak bus yang dicarter klub peserta Liga Indonesia untuk tur ke kota-kota tempat mereka bertanding. Awak itu bercerita, busnya yang berpendingin itu terus dipenuhi asap rokok. Sementara pesawat televisinya diminta para penumpang untuk hanya menayangkan video porno dan rombongan tersebut sering berhenti di restoran untuk makan-makan.

Cerita-cerita biru semacam ini tidaklah pernah muncul di media massa mainstream olahraga kita. Tetapi saya yakin, suatu saat bila jurnalisme warga (citizen journalism) merambah dunia sepak bola dan suporternya, hal-hal negatif dan bobrok-bobrok di belakang layar panggung Liga Indonesia itu akan terbongkar dengan sendirinya.

Kembali ke masalah dominannya produk rokok sebagai sponsor sepak bola Indonesia, hal itu tidak bisa dilepaskan dari konstelasi global mengenai perang bisnis rokok yang mengimbas deras ke negara kita dewasa ini. Saya tulis drama mengerikan itu di kolom surat pembaca Kompas Jawa Tengah (28/10/2004), di bawah ini. Kalau Anda bersedia, pikirkanlah konsekuensi yang bakal disandang oleh bangsa Indonesia di masa depan.

Wartawan William Ecenbarger dalam artikel berjudul America’s New Merchants of Death, Saudagar-Saudagar Kematian Baru dari Amerika Serikat (Reader’s Digest, 4/1993 : 17-24) menyebutkan, raksasa industri rokok Amerika sebagai saudagar-saudagar kematian baru semakin agresif memindahkan pasarnya ke luar negeri. Karena sebagai negara maju dengan penduduknya berpendidikan, berkesadaran tinggi menjaga kesehatan, membuat konsumsi rokok semakin menurun. Apalagi perangkat hukumnya ketat dan tegas.

Sasaran perpindahannya justru negara miskin dan berkembang. Indonesia dengan penduduk ratusan juta, jelas merupakan pasar sangat menggiurkan. Sadisnya lagi, anak-anak dan kaum muda yang menjadi sasaran bidik utama mereka. Mengapa anak-anak ?

Ketika perokok tua berhenti merokok atau meninggal, masa depan industri rokok bergantung kepada keberhasilan perekrutan konsumen baru mereka, yaitu anak-anak dan kaum muda. Terlebih lagi dari hasil kajian didapat data bahwa seseorang mulai merokok rata-rata pada umur 12 – 16 tahun. Mereka yang tidak merokok ketika berumur 18 tahun akan tidak kecanduan merokok.

Ketika serbuan rokok Amerika mengganas di Indonesia, reaksi apa yang dilakukan industri rokok Indonesia ? Melawan. Terjadilah perang sengit antarsaudagar kematian dan anak-anak muda kita yang jadi korban. Apalagi bom-bom nikotin itu mereka poles sebagai citra gaya hidup muda, gaul, gaya, funky, masa kini.

Sampai-sampai mahasiswa dan dosen dua perguruan tinggi negeri, UNS di Solo dan Undip di Semarang Jawa Tengah (Kompas Jawa Tengah, 17/9/2004), mau termehek-mehek dan terbius sihir promosi rokok berselubung seminar pendidikan akibat julignya kreator iklan mengemas produk yang berbahaya untuk dikonsumsi anak-anak muda kita.

Perang antarsaudagar kematian di atas mirip fenomena perang melawan teroris di negeri kita, pasca 11 September 2001. Saat itu Amerika Serikat bangkit, bergegas menata diri memerangi terorisme. Peraturan imigrasi yang ketat sampai kewaspadaan tinggi, mampu mempersempit ancaman teroris. Akibatnya, teroris memindahkan teaternya melawan AS dan sekutunya di negara-negara luar AS. Termasuk ke Indonesia, di mana teror bom di Bali, Hotel Mariott Jakarta dan di depan Kedubes Australia adalah contoh aktualnya.

Sebagaimana contoh terorisme di atas, perang perebutan pasar rokok merembet ke negara kita. Indonesia karena perangkat hukum relatif lemah dalam regulasi rokok, bahkan presiden perempuan kita enggan menandatangani FCTC, menjadikan negeri ini ideal dijadikan arena perang antarpara penjaja bom-bom nikotin itu.

Korbannya ? Menteri Kesehatan AS Richard Carmona mengutip isi Laporan Pemerintah AS No. 28 (Deutsche Presse-Agentur, 27/5/2004) menyatakan bahwa merokok mengakibatkan penyakit untuk semua organ tubuh, pada semua tingkatan usia, di seluruh dunia. Tercatat 440.000 warga AS meninggal tiap tahun akibat penyakit yang terkait dengan merokok dan menghamburkan biaya 157 milyar dollar per tahun, di mana 75 milyar untuk pengobatan dan 82 milyar dollar untuk produktivitas kerja yang hilang.

Itu di Amerika Serikat, sebuah negeri kaya yang penduduknya kebanyakan berpendidikan dan memiliki kesadaran kesehatan yang tinggi. Bagaimana jumlah korban dan kerugian akibat bom-bom nikotin di Indonesia ?
Siapa saja mereka ?


Rusuh Tanda Kehidupan ! Mereka para korban perang teror nikotin itu, tentu saja, termasuk para suporter sepak bola Indonesia. Bisa jadi juga Anda, anggota Aremania, Bonekmania, Brajamusti, Kampak, Laskar Benteng Viola, Panser Biru, Pasoepati, Slemania atau pun Viking. Siapa tahu ?

Tetapi kalau Anda memeriksa agak teliti profil perokok di sekitar Anda, maaf bila saya banyak salah, apakah yang bakal Anda temukan adalah mereka dengan ciri-ciri seperti berikut ini ? Dirinya berpendidikan rendah dan juga berpenghasilan rendah. Sekadar info penguat : harian Jawa Pos Radar Yogya melalui BBC (14/12/2007) melaporkan bahwa dua pertiga dari 19 juta penduduk miskin Indonesia adalah perokok. Bayangkan kemudian : untuk kebiasaan buruk yang mencandu itu pada sepanjang tahun 2006 mereka telah rela menghabiskan uangnya untuk membeli rokok sebesar 23 trilyun rupiah !

Sinergi antara industri rokok dan dunia sepak bola Indonesia, dengan demikian, mampu memunculkan konsklusi secara hipotetis betapa industri sepak bola Indonesia dapat hidup tetapi harus ada yang menjadi tumbal atau korban. Yaitu rakyat Indonesia yang berpendidikan rendah dan berpenghasilan rendah. Saya ingat cerita sobat Aremania saya, Ponidi Thembel dan Heru. Keduanya bilang, bila menjelang pertandingan besar tim Arema, maka tempat di sekitarnya banyak orang yang kehilangan sandal, pakaian, sampai ayam dan burung peliharaan.

Api yang membara di dada sehingga mendorong seseorang suporter berani melakukan tindak kriminal agar mampu membeli tiket pertandingan tim kebanggaannya, itulah benteng terakhir hidup dan matinya sepak bola Indonesia. Ketika prestasi tim nasional hanya jeblog dan jeblog belaka, maka kebanggaan kedaerahanlah yang dikobar-kobarkan oleh insan-insan sepak bola kita.

Fanatisme sempit bahwa tim dari daerah lain dan juga suporternya merupakan lawan yang harus dihancurkan, merupakan api yang ibarat terpercik bensin ketika suporter tim-tim yang berseteru itu saling berhadapan. Dengarkan nyanyian mereka di stadion-stadion, maka ungkapan “bantai” sampai “dibunuh saja” menjadi lirik yang lajim dalam lagu-lagu perang mereka. Sehingga bila Hugh McDiarmid bilang bahwa fanatisme sepak bola dan intelektualitas tinggi jarang mampu berjalan bersama, begitu pula yang terjadi di lanskap dunia suporter sepak bola Indonesia.

Langkanya kalangan suporter sepak bola Indonesia yang memiliki intelektualitas tinggi, sebagai contoh, membuat cita-cita pembentukan organisasi payung suporter bernama Asosiasi Suporter Sepak Bola Indonesia (ASSI) yang independen seperti The National Federation of Football Supporters' Clubs di Inggris (1927), belum berhasil. Ada upaya untuk membentuk itu, tetapi untuk pertemuan saja yang membiayai adalah Badan Liga Indonesia (BLI) dan sponsor PT HM Sampoerna, maka independensinya jelas sangat diragukan bila pun ASSI nanti jadi didirikan.

Sementara itu di lapangan, teriakan perang bantai dan bunuh atas nama semangat kedaerahan, itulah bensin yang mampu menggulirkan bola dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Inilah potret nyata kita, energi sepak bola Indonesia adalah semangat primordialisme. Semangat kedaerahan yang sempit, yang mampu mengancam pecah belahnya Indonesia !

Semua itu sunggguh bertolak belakang dengan semangat ketika Ir. Soeratin Soesrosoegondo (17/12/1898 – 1959) dan kawan-kawan pada tanggal 19 April 1930 di Yogyakarta berbulat tekad mendirikan PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia). Istilah sepakraga diganti sepak bola dalam Kongres PSSI di Solo tahun 1950. Dalam pertemuan itu seperti diwartakan oleh harian Sediotomo (22/4/1930) ikut disimpulkan bahwa sepak bola “dipandang djoega kekoeatan akan tjapai kemadjoean bangsa.” Organisasi ini boleh dikatakan sebagai wujud Sumpah Pemuda 1928. Nasionalisme coba dikembangkan melalui olahraga sepak bola.

Demikianlah, sepak bola diimpikan para pendiri PSSI sebagai kekuatan untuk mencapai kemajuan bangsa. Tolok ukurnya dalam melihat kemajuan itu tidak lain adalah dengan bertanding melawan tim-tim bangsa lain di ajang internasional. Sayangnya, kasus mutakhir yang mencoreng kinerja PSSI-nya Nurdin Halid, untuk kedua kalinya, adalah masalah gagalnya peluang tim kita melawan tim dari luar negeri. PSSI yang justru menggagalkan peluang klub kita untuk terjun di ajang Champions Asia 2008. Bukti ini jelas merupakan pengingkaran pengurus PSSI masa kini atas cita-cita mulia para pendiri PSSI sendiri !

Semua kesalahan atau pun blunder demi blunder PSSI masa kini, mungkin semuanya berasal dari masalah moral. Sepak bola yang oleh Albert Camus dilihat begitu mulia, dalam segi pembinan moral dan tanggung jawab, kini di Indonesia hanyalah parade sandiwara menyedihkan yang penuh reka yasa. Baiklah, Nurdin Halid dan kawan-kawan itu boleh saja tidak mengenal Albert Camus. Tetapi bukankah mereka mengenal Sepp Blatter, petinggi FIFA ?

Mungkin ia akan menjawab : “Kenal, sih kenal. Tetapi karena sepak bola Indonesia kini aku putuskan untuk hanya berorientasi ke dalam, inward looking, demi interes bisnis saya dan kawan-kawan, maka masa bodoh dengan Sepp Blatter, FIFA atau pun segala keputusannya tentang kepemimpinan saya.”

Bangsa Indonesia, bersiaplah.

Nurdin Halid dan kawan-kawan nampaknya akan nekad menggaet serta sepak bola Indonesia untuk terjun bebas, menuju jurang kehancuran bersama dirinya. Mungkin kehancuran inilah yang justru kita tunggu, sehingga muncul kemungkinan lahirnya generasi baru pengelola dunia persepakbolaan Indonesia yang lebih baik. Apa yang bisa Anda kerjakan, wahai, para suporter sepak bola Indonesia ?


Wonogiri, 10-18/12/2007


si

Labels: , , , ,

"All that I know most surely about morality and obligations I owe to football"



(Albert Camus, 1913-1960)

Salam Kenal Dari Saya


Image hosted by Photobucket.com

Bambang Haryanto



("A lone wolf who loves to blog, to dream and to joke about his imperfect life")

Genre Baru Humor Indonesia

Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau, Buku humor politik karya Bambang Haryanto, terbit 2012. Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau! Pengarang : Bambang Haryanto. Format : 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-97648-6-4. Jumlah halaman : 219. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : Februari 2012. Kategori : Humor Politik.

Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau ! Format: 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-96413-7-0. Halaman: xxxii + 205. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : 24 November 2010. Kategori : Humor Politik.

Komentar Dari Pasar

  • “HAHAHA…bukumu apik tenan, mas. Oia, bukumu tak beli 8 buat gift pembicara dan doorprize :-D.” (Widiaji Indonesia, Yogyakarta, 3 Desember 2010 : 21.13.48).
  • “Mas, buku Komedikus Erektus mas Bambang ternyata dijual di TB Gramedia Bogor dgn Rp. 39.000. Saya tahu sekarang saat ngantar Gladys beli buku di Bogor. Salam. Happy. “ (Broto Happy W, Bogor : Kamis, 23/12/2010 : 16.59.35).
  • "Mas BH, klo isu yg baik tak kan mengalahkan isu jahat/korupsi spt Gayus yg dpt hadiah menginap gratis 20 th di htl prodeo.Smg Komedikus Erektus laris manis. Spt yg di Gramedia Pondok Indah Jaksel......banyak yg ngintip isinya (terlihat dari bungkus plastiknya yg mengelupas lebih dari 5 buku). Catatan dibuat 22-12-10." (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :21.30.05-via Facebook).
  • “Semoga otakku sesuai standar Sarlito agar segera tertawa ! “ (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.50.05).
  • “Siang ini aku mau beli buku utk kado istri yg ber-Hari Ibu, eh ketemu buku Bambang Haryanto Dagelan Rep Kacau Balau, tp baru baca hlm 203, sukses utk Anda ! (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.22.28).
  • “Buku Komedikus Erektusnya sdh aku terima. Keren, mantabz, smg sukses…Insya Allah, suatu saat kita bisa bersama lg di karya yang lain.” (Harris Cinnamon, Jakarta : 15 Desember 2010 : 20.26.46).
  • “Pak Bambang. Saya sudah baca bukunya: luar biasa sekali !!! Saya tidak bisa bayangkan bagaimana kelanjutannya kalau masuk ke camp humor saya ? “ (Danny Septriadi,kolektor buku humor dan kartun manca negara, Jakarta, 11 Desember 2010, 09.25, via email).
  • “Mas, walau sdh tahu berita dari email, hari ini aq beli & baca buku Komedikus Erektus d Gramedia Solo. Selamat, mas ! Turut bangga, smoga ketularan nulis buku. Thx”. (Basnendar Heriprilosadoso, Solo, 9 Desember 2010 : 15.28.41).
  • Terima Kasih Untuk Atensi Anda

    Powered by Blogger
    and Blogger Templates