Monday, July 12, 2010 

Piala Dunia 2010, Ajaibnya Paul dan Hari Suporter Nasional



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Wartawan senior Kompas, Budiarto Shambazy, menulis bahwa Piala Dunia 2010 adalah piala dunia pelatih. Pengamatan yang jitu.

Tetapi bagi saya yang awam, PD 2010 adalah Piala Dunianya si Paul. Paul the Oracle Octopus. Heran juga saya. Kok ya bisa-bisanya binatang laut itu mampu meramal secara benar hasil akhir pertandingan pada babak-babak kritis piala dunia di Afrika Selatan itu ?

Ketika meramalkan bahwa tim Jerman akan menang melawan Inggris (foto), koran Inggris The Daily Mail langsung bengok-bengok menuduh si Paul itu sebaga pengkhianat.

Maklum saja, ia memang kelahiran Inggris. Tetapi oleh koran itu disebut, "telah melupakan asal-muasalnya yang dari Inggris." Kabar terbaru, setelah ia meramalkan secara tepat sukses Spanyol sebagai kampiun baru Piala Dunia, ia ditawari suaka ke negeri Matador itu agar selamat dari pelbagai ancaman. Si Paul itu boleh jadi kini memang menjadi musuh orang-orang fanatik sepak bola dari Argentina, Belanda, Ghana, Inggris, dan siapa tahu juga segelintir warga Jerman sendiri !

Ada solusi dari Indonesia. Jangan-jangan, berkat kesaktiannya itu Si Paul kini diincar untuk dibeli oleh Ketua PSSI kita. Setiap akan berlangsung pertandingan di liga Indonesia, si Paul itu diminta akan untuk meramal. Bahkan di stasiun televisi ANTV, milik keluarga Bakrie yang salah satu pewarisnya adalah orang top di PSSI, si Paul itu boleh jadi akan dibuatkan acara televisi tersendiri.

Kalau si Paul itu sekarang tinggalnya di Sea Life Aquarium di kota Oberhausen, memiliki juru bicara perempuan bernama Tanja Munzig, siapa tahu di ANTV ia akan memiliki juru bicara seorang mantan atlit renang yang cantik dan juga mantan bintang film itu. Namanya, silakan tebak sendiri.

Desas-desus lain, Paul juga diminati kalangan penegak hukum yang kini rada pusing dalam bekerja membongkar kasus video porno NI-LN dan CT. Karena konon masih ada 30-an lagi artis yang terlibat dalam skandal video serupa. Nah, bila saja si Paul jenius itu tinggal di Indonesia, di kolamnya setiap kali diceburkan dua foto artis kita dan silakan dia memilih salah satunya. Begitu selanjutnya, sampai ke-30-an artis yang diduga terlibat skandal video porno itu ditemukan.

KPK dikabarkan juga meminati jasa Paul pula. Majalah Tempo dalam melakukan investigasi lanjutan tentang kepemilikan rekening-rekening gendut tokoh tertentu, menurut kabar burung, berminat memakai jasa jenius sang Paul tersebut pula.

Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, berakhir tanggal 12 Juli 2010. Tanggal itu, sepuluh tahun lalu, mencatat sejarah kecil bagi dunia sepak bola Indonesia. Mengambil tempat di Kantor Redaksi Tabloid Bola di Palmerah Selatan 3, Jakarta Pusat, pernah menjadi saksi pertemuan antarkelompok suporter sepakbola di Indonesia. Difasilitasi oleh Sigit Nugroho dan kawan-kawan.

Hari itu saya mencetuskan tanggal 12 Juli sebagai Hari Suporter Nasional. Syukurlah, secara aklamasi disetujui oleh Aly, Arif Irawanto, Ayek, Choirul Anam, Hendyk Kheteck, Ined Arief, Lutfie, M. Noer W., Roji, Rus, Sampaiton, Yani dan Yanto (Aremania), Faisal Riza, Ferry Indrasjarief dan Sumardan (Jakmania), Adie, Agus Gigi Yulianto, Didit Prayudi, Fajar Toto, Panji Kartiko dan Ryan Adhianto (Pasoepati Jakarta), Bambang Haryanto dan Mayor Haristanto (Pasoepati Solo), dan Agus Rahmat, Eri Hendrian serta Leo Nandang Rukaran (Viking Jabodetabek).

Para pentolan suporter yang hadir saat itu bersepakat menjadikan hari itu sebagai Hari Suporter Nasional, hari untuk menggalang persaudaraan, memupuk sportivitas dan cinta damai antar sesamanya.

Sudahkah cita-cita mulia terwujud kini ? Masih jauh. Mungkin sejauh cita-cita bangsa Indonesia untuk mampu tampil di Piala Dunia 2014 di Brazil nanti.


Wonogiri, 12 Juli 2010


si

Labels: , , , , , , , , , , , ,

Thursday, June 10, 2010 

Suporter 2.0, Piala Dunia dan Budaya Korupsi Kita





Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


“Sepak bola,” kata Nelson Mandela, “merupakan aktivitas yang paling mampu mempersatukan umat manusia.”

Merujuk negerinya dengan sejarah kelam tergencet politik apartheid yang panjang, kemudian bangkit dalam rekonsiliasi, dan di bulan Juni 2010 ini menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, ucapan Bapak Afrika Selatan itu terasa membiaskan kebenaran. Indonesia berpuluh tahun lewat telah pula merasakannya.

Itu terjadi pada tahun 1938 ketika ucapan Mandela tersebut punya makna bagi kita. Karena tim Asia pertama yang terjun dalam Piala Dunia 1938 di Perancis itu, walau masih di bawah bendera pemerintahan Hindia Belanda, adalah tim Indonesia yang terdiri beragam etnis bangsa. R.N. Bayuaji dalam bukunya Tionghoa Surabaya Dalam Sepakbola (2010), menyebutkan dalam tim tersebut terdapat pemain orang Belanda, Tionghoa dan Bumiputera.

Kemudian keikutsertaan Indonesia oleh novelis asal Uruguay, Eduardo Galeano, dalam Football in Sun and Shadow (2003) yang menulis panorama sepak bola dunia dengan kaya konteks, berdegup dan indah, telah dicatat sebagai satu di antara tiga kaitan antara Indonesia dan Piala Dunia.

Kaitan pertama, peristiwa di Piala Dunia Perancis tahun 1938 itu pula. Dalam pertandingan pertama di Reims Indonesia ditekuk calon finalis Hungaria 6-0, menjadikan momen itu sebagai pengalaman pertama negara kita ini mencicipi terjun sebagai finalis Piala Dunia.

Selebihnya, dua kaitan sisanya oleh Eduardo Galeano Indonesia hanya menjadi latar belakang peristiwa besar dunia terkait masa kenaikan rezim tiran Soeharto dan Orde Barunya (Piala Dunia 1966 di Inggris) dan sekaligus masa keruntuhannya (Piala Dunia 1998 (Perancis).

Dan hari ini, setelah 72 tahun Piala Dunia 1938 di Perancis itu, mengapa sepakbola Indonesia tidak pernah mampu lagi berbicara di tingkat dunia ? Freek Colombijn, antropolog lulusan Leiden, mantan pemain Harlemsche Football Club Belanda, mengungkap bahwa posisi sepak bola Indonesia dalam percaturan dunia kini berada dalam posisi periferi, pinggiran.

Dalam artikel "View from the Periphery : Football in Indonesia" dalam buku Garry Armstrong dan Richard Giulianotti (ed.), Football Cultures and Identities (1999), ia menggarisbawahi keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia sebagai akibat masih meruyaknya budaya kekerasan di teater sepak bola kita dan belum kokohnya budaya demokrasi di negeri ini.

Seolah memberi garis bawah realitas itu, seorang Emil Salim baru-baru ini menyebutkan bahwa demokrasi di Indonesia ibarat anak-anak yang masih berusia 2-3 tahun.

bambang haryanto,solopos 10 juni 2010,piala dunia 1938,korupsi,suporter 2.0


Teater sepak bola kita, seperti halnya sendi-sendi kehidupan bangsa ini di pelbagai sektor lainnya, makin diperunyam oleh budaya korupsi yang menggurita. “Indonesia adalah Brazilnya Asia. Pesepakbola Indonesia bermain dengan intelejensia dan bakat unik yang tidak ada duanya di dunia. Bakat-bakat mereka lebih baik dibanding pemain Korea atau Jepang. Pada era 50 dan 60-an, tim-tim Asia jangan bermimpi mampu menaklukkan tim Asia Tenggara.”

Itulah kenangan Sekjen Asian Football Confederation (AFC), Peter Velappan, di Asiaweek (5/6/1998) menjelang Piala Dunia 1998.

Tetapi di mana kini Indonesia dalam percaturan sepakbola Asia Tenggara ? Tidak membangggakan. Apalagi di Asia, dan tingkat dunia. Sepakbola kita hanya mampu memiliki masa lalu. Dalam artikel itu tersaji gambar pemain Indonesia Rocky Putiray, dengan teks berbunyi : “Pemain Indonesia seperti Peri Shandria yang sedang melompat itu memiliki bakat, tetapi pertandingan seringkali sudah diatur skornya.”

Peter Velappan kemudian melanjutkan bahwa asal-muasal keterpurukan prestasi Indonesia itu bersumber akibat “organisasi persepakbolaannya yang amburadul dan tidak mampu membersihkan borok korupsi yang ada,” sebagaimana keterpurukan prestasi sepak bola di Asia Tenggara selama berpuluh-puluh tahun terakhir ini pula.

Dalam belitan meruyaknya budaya korupsi itu maka sepakbola Indonesia merupakan teater sepakbola penuh rekayasa. Peraturan begitu mudah berganti-ganti, tetapi pada ujungnya hanyalah jeblognya prestasi demi prestasi timnas kita di pertandingan internasional.

Penghamburan uang negara dengan mengirim mereka berlatih ke luar negeri, misalnya ke Belanda, Argentina dan kini ke Uruguay, tidak lain hanyalah tipuan kehumasan untuk memoles citra. Trik semacam ini sudah berlangsung sejak jaman Primavera di era 1980-an dan semuanya berbuah kegagalan.

Kegairahan bangsa Indonesia terhadap sepak bola telah dibajak oleh elite dalam tubuh PSSI untuk kepentingan bisnis rejim mereka sendiri. Bos PSSI, Nurdin Halid pernah bilang dengan bangga bahwa kompetisi di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, baik dalam jumlah klub mau pun luas wilayahnya. Tetapi potensi besar itu selalu saja menjadi mandul ketika timnas kita atau klub-klub kita bertanding melawan tim di kawasan Asia Tenggara dan Asia.

Solusi di masa depan untuk mengatasi jeblognya prestasi sepakbola kita mungkin justru berada di tangan lembaga yang kini sedang mengalami gonjang-ganjing : Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kita harapkan lembaga ini, setelah pelbagai badai yang menerpanya lewat, akan membuatnya sosoknya semakin kokoh dan berwibawa. Setelah pelbagai kasus besar yang urgen bisa selesai, kita harapkan KPK akan hadir membongkar gurita-gurita korupsi dalam tubuh persepakbolaan nasional kita.

Sebagai suporter, saya imbau agar organisasi-organisasi suporter sepakbola Indonesia ikut bangkit sebagai kekuatan positif, dengan mulai mengasah diri untuk menjadi sosok Suporter 2.0.

Dapat diibaratkan bahwa Suporter 1.0. mewakili era suporter yang kreatif dan atraktif seperti digelorakan antara lain oleh Pasoepati di tahun 2000, maka Suporter 2.0. harus memanfaatkan kedahsyatan media-media sosial di Internet sebagai sarana aktualisasi kiprah positif mereka.

Termasuk pula menjadi anjing penjaga, watch dog, yang secara kritis mencatat dan melaporkan jalannya roda manajemen klub yang ia dukung untuk diangkat sebagai wacana publik demi terselenggaranya proses check and balances dalam meraih kebaikan dan kesuksesan bersama.

Selamat menikmati Piala Dunia 2010. Sekaligus mari kita banyak belajar dari negerinya Nelson Mandela ini ! [Artikel ini dengan judul “Piala dunia dan Budaya Korupsi Kita,” dimuat di harian Solopos, Kamis, 10 Juni 2010].



Wonogiri, 10/6/2010

Labels: , , , , , , , , , , ,

Tuesday, February 02, 2010 

Kutukan Empu Gandring dan Suporter Sepakbola Kita



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Kutukan Empu Gandring masih bersama kita.
Vengeance. Revenge. Vendetta.

Mata balas mata. Darah balas darah. Tangan balas tangan. Nyawa balas nyawa. Bakar balas bakar. Luka balas luka.

Seorang teman saya, Bakhuri Jamaluddin, punya daftar lebih panjang (termasuk melebihi 4 gelar akademisnya, plus gelar haji) tentang fenomena mengerikan di atas. Ia yang seusai kuliah di tahun 1980-an pernah mengajak saya ke Kuningan untuk menonton tim sepakbola putri, Buana Putri, karena kiper cantiknya Muthia Datau yang juga artis, yang kemudian menjadi istri aktor Herman Felani.

Juga sama-sama menonton ke Senayan untuk menyaksikan timnas Indonesia draw 3-3 melawan tim Corinthians dari Brasil yang dimotori dokter berbadan burung bangau yang memiliki operan back heel yang ajaib, termasuk ketika menjagal tendangan penalti : Socrates. Termasuk berbagi trik a la Indonesia tentang bagaimana bila kita ingin menjadi seorang wasit yang segera mudah terkenal.

Bakhuri bilang : “Bayar saja pemain untuk memukuli diri kita !”

Bakhuri kini bicara tentang suporter sepakbola Indonesia. Tulisnya : “Oh ya, bagaimana masalah suporter sepakbola ? Kini kok jadi tren ya, tawur antarsuporter, tawur suporter vs warga sekitar stadion, tawur suporter sesama klub yang sama, tawur suporter Persija vs warga Ciputat, tawur suporter Persitara vs warga Kuningan Jakarta Selatan, dan tawur bonek vs stasiun kereta api, bagaimana ini ?

Aneh lagi, jenis sanksi yg diterapkan adalah PERTANDINGAN SEPAKBOLA TANPA PENONTON. Aneh tapi nyata ! Pasti BH bisa mengupas masalah tersebut !"

Terima kasih, Bakhuri.

Saat insiden rombongan kereta api bonek Surabaya-Bandung pp mencetuskan huru-hara, harian Jawapos memuat artikel Dr. Sonny Elizaluchu, MA, berjudul “Kekerasan kolektif bonek” (Jawapos, Senin, 25 Jan 2010 : 6). Hari Minggu, 24/1, saya mengirimkan artikel ke koran Solopos berjudul “Ancaman Bonek dan Sepakbola Kita,” tetapi nampaknya malah tidak dimuat.

Berita terbaru di Suara Merdeka kemarin (1/2/2010), oknum suporter Semarang ditangkapi karena melempari bis yang ditumpangi suporter Persijap, Jepara. Harian Jawapos (1/2/2010) lalu menyajikan bahasan fenomena aksi anarkis bonek, suporter Persebaya, dalam pandangan guru besar UNAIR emeritus, Prof. Sutandyo [“kalau kau masih ingat, istri beliau, almarhumah Ibu Asmi Tandyo yang ramah itu, pernah menjadi muridku dalam mata kuliah Media Teknologi, di JIP-FSUI”).

Insiden saat rombongan kereta api bonek Surabaya-Bandung pp yang diadang masyarakat Solo yang marah (“lalu diberi label sebagian dari mereka adalah suporter Pasoepati asal Solo”), 23-24/1/2010, juga mengimbas kepada diri saya. Kolom boks bengok blog saya, Suporter Indonesia ramai dengan komentar berisi sebutan binatang yang menyalak.

Lucunya, pengirimnya yang berlabel “pasopati anjink” tetapi isi pesannya berupa omelan tentang “diri sendiri” : “Pasopati emang idiot, masa kereta GBM yang isinya penumpang biasa di lempari dan dibakar, isinya banyakan ibu2x dan anak2. Dimana nurani anda?”

Saya ikut sedih.
Saya pun prihatin atas kejadian di atas.

Pasoepati yang berbuat anarkis, juga harus dikutuk. Bahkan harus pula dihukum, seperti suporter Solo yang pada tahun 2000 berbuat anarkis dengan membakar mobil milik pendukung Semarang. Ia meringkuk selama 20 bulan di penjara. Aksi hukum tegas ini, sayangnya tak pernah merembet ke kota-kota lain.

Berbicara tentang nurani kelompok suporter, sebuah definisi berikut ini mudah-mudahan dapat menjelaskan. Bahwa gerombolan orang-orang atau mob adalah : an angry group with many hands but no brains. . Gerombolan merupakan sekelompok orang yang marah, yang memiliki banyak tangan tetapi sama sekali tidak memiliki otak.

Kalau Anda belum pernah menjadi suporter sepakbola secara total, Anda pasti belum merasakan ekstasi ketika kita tidak memiliki otak sama sekali. Atau bila masih punya, tinggal otak reptil kita yang masih bekerja. Itu otak paling primitif, sumber dari rasa ketakutan.

Tetapi karena kita saat itu bersama-sama : siapa takut ? Saat itu identitas diri kita lumer, atau hilang tak berbekas, kita semua lebur menjadi sebuah kelombok tribal, suku, dengan mata hanya mampu melihat bahwa suporter lain sebagai lawan yang harus kita basmi.

Untuk teorinya, carilah nama Gustave LeBon. Atau bertanya ke Mas Ito, Prof Sarlito W. Sarwono. Atau kawan saya Aji Wibowo, lulusan Sosiologi UGM yang menulis skripsi tentang denyut persaingan suporter sepakbola di Yogyakarta.

Kasarnya, saat kita bersama itu, demi sepakbola pun kita rela mati.

Yang terjadi kemarin, memang terdapat suporter bonek yang mati. Tercatat dalam tur Surabaya-Bandung 23-24/1/2010 ada yang meninggal di Madiun dan juga Purwokerto. Mereka naik di atas gerbong, lalu terjatuh kena portal. Mati yang mengenaskan.

Mungkin seperti juga nasib Beri Mardias, suporter PSP Padang asal Jatiwaringin yang tewas dikeroyok suporter Persija, tepat hari ini (2/2) 8 tahun yang lalu. Atau suporter Persija, Fathul Mulyadin (6/2/08) yang tewas dikeroyok suporter Persipura. Keduanya terjadi di Senayan. Masihkah kita mengingat mereka itu sebagai manusia ?

Mungkin tidak. Suporter sepakbola itu, ketika bersama, oleh orang lain dan oleh orang kebanyakan, seringkali bukan lagi disebut sebagai manusia. Tetapi sebagai gerombolan. Berandal. Orang-orang jahat. Yang harus mereka hindari. Orang-orang yang terkena penyakit lepra. Hina. Petugas keamanan pun hanya akan melihatnya sebagai musuh. Atau bahkan sebagai sampah.

Sebaliknya, media massa menyukai gerombolan suporter tersebut. Suporter yang naik di atas bis Mayasari, metromini Jakarta, atau di atas gerbong KRL, merupakan gambar yang catchy dan seksi untuk liputan mereka. Saya pernah mendengar seorang wartawan bilang : “Saya tidak tahu menahu tentang sepakbola. Saya dirikim ke stadion untuk berharap akan ada kerusuhan saja.”

Apalagi bila dalam kerusuhan itu ada atau banyak yang mati karena ulah ceroboh para suporter itu, wartawan dan media akan menyukainya.

PSSI juga menyukai aksi kerusuhan suporter ini. Termasuk aksi seorang suporter idiot yang masuk lapangan saat tim nasional kita kalah melawan Oman. Media-media massa kita yang juga ketularan wabah idiot justru mengglorifikasikan ulah bodoh semacam itu sebagai perbuatan hero.Katanya, ulah itu sebagai koreksi bagi PSSI dalam pengelolaan sepakbola Indonesia.

Aksi rusuh suporter itu membuat PSSI “punya kerjaan,” termasuk punya “proyek” bagi mereka. Minimal, pekerjaan menjatuhkan sangsi yang tidak bergigi bagi tim yang suporternya rusuh. Dalam bingkai besar, aksi anarkis suporter merupakan bom asap untuk mengalihkan perhatian masyarakat, sekaligus sebagai tabir untuk menutupi jeblognya kinerja Nurdin Halid dan kroninya selama ini mengelola PSSI.

“A riot is at bottom the language of the unheard.”
Kerusuhan merupakan inti bahasa mereka yang tidak terdengar.

Kata-kata pejuang hak sipil AS, Martin Luther King (1929–1968) itu membias dalam analisis Prof. Sutandyo tentang bonek. Saya kutip dari buku yang berjudul Bonek : Berani Karena Bersama (1997). Buku yang menghimpun 14 karya tulis pelbagai kalangan ini mungkin satu-satunya buku yang membahas fenomena suporter sepakbola di Indonesia.

Bonek memang bikin kita semua pusing”, keluh Soetandyo Wignyosoebroto, guru besar emeritus Universitas Airlangga. “Tetapi mereka harus direngkuh. Anak-anak itu merupakan bagian dari warga masyarakat kita yang terampas, baik sumber dayanya, pendidikannya, asosiasi sosialnya, dan pertumbuhan kejiwaannya” (h. 13).

Suporter Solo, Pasoepati, 6 April 2000, pernah merengkuh bonek dengan cinta. Dengan penghargaaan. Kami menyambutnya secara baik-baik di Solo. Kemudian saat Pasoepati melurug ke Surabaya dengan mencarter kereta api 12 gerbong, a real glorious journey, untuk menyapa hati suporter tim asal Kota Pahlawan itu. Pasoepati saat itu membawa tagline yang dikreasi presidennya, Mayor Haristanto : “From Solo With Love.”


Dalam perjalanan, ketika tiba di Surabaya, saat bertanding, dan saat pulang, semua relatif aman dan damai. Esoknya, koran Surya (7/6/2000) terbitan Surabaya memajang foto indah : senapan otomatis anggota Brimob yang menjaga keamanan bersematkan rangkaian bunga ungu, yang kami bagi-bagikan sepanjang jalan saat Pasoepati melakukan long march,, Stasiun Gubeng-Tambaksari.

Tetapi bangunan persahabatan antarsuporter itu, juga dengan suporter lainnya, yang kami gelontorkan saat itu berdasarkan ide mulia bahwa sepakbola tak ada apa-apanya bila tanpa suporter, kini rupanya kembali lagi menjadi abu. Revolusi suporter atraktif dan bukan destruktif itu, semakin tahun tidak semakin terang nyalanya.

Di tahun 2000-an di mana saya sebagai salah satu pelaku di antara kawan-kawan seperjuangan dalam pengejawantahan gagasan itu, dalam bingkai revolusi yang dimulai dari isi kepala, antara lain dengan mencetuskan tanggal 12 Juli sebagai hari Suporter Nasional yang tercatat di MURI. Kini cita-cita itu ibarat hanya sebagai bangunan kertas belaka.

Demikian pula pesan-pesan indah dan bernas dari filmnya Andibachtiar Yusuf, Romeo dan Juliet, juga hanya ibarat olesan balsem dalam psike komunitas suporter kita.

Bangunan yang dibuat oleh tukang kayu yang terampil pun akan mudah roboh oleh sepakan segerombolan keledai. Apalagi oleh keroyokan berandal sepakbola, yang menurut ujaran penyair dan nasionalis Skotlandia Hugh MacDiarmid (1892–1978) disebut : “fanatisme dalam sepakbola dan intelektualitas yang tinggi jarang berjalan bersama.”

Justru mungkin karena rendahnya kadar intelektual tersebut yang membuat gerombolan beringas menarik untuk sengaja dipelihara. Oleh aktor-aktor intelektual tertentu. Dalam wawancara dengan jaringan Radio 68 H yang disiarkan secara nasional (5/1/2007), saya menyatakan kelompok suporter sepakbola Indonesia kebanyakan tidak independen.

Pentolannya, mencari uang (recehan) dari klub. Pentolan itu kebanyakan, walau tidak semuanya, adalah para gali. Dalam posisi seperti ini, kelompok suporter yang masif itu mudah digunakan untuk ditekak-tekuk guna mendukung agenda bos klub bersangkutan, di luar masalah sepakbola. Misalnya, untuk memenangkan pilkada.

Suporter sepakbola kita memang tidak hidup dalam ruang hampa. Penyakit kerusuhan yang kronis itu, sejatinya menguntungkan beberapa fihak tertentu. Fanatisme mereka yang dipicu oleh rasa lapar, fisik sekaligus batin, merasa tidak berharga, sementara dalam hatinya selalu berkobar api untuk melakukan balas dendam, menggiurkan banyak fihak yang berkepentingan untuk menungganginya.

Sehingga, lihatlah, terus saja terjadi pembiaran saat terjadi pelbagai aksi mereka : Mata balas mata. Darah balas darah. Tangan balas tangan. Nyawa balas nyawa. Bakar balas bakar. Luka balas luka.

Padahal seorang satiris Romawi, Juvenal (60-130 Masehi) mengatakan : “Sejatinya, tindakan balas dendam merupakan kenikmatan bagi mereka yang papa, lemah dan tipis nuraninya.”

Itulah wajah Indonesia masa kini.

Kutukan Empu Gandring tak hanya berkobaran di dunia suporter sepakbola, tetapi mudah pula ditemui di mana-mana. Dalam pelbagai sendi kehidupan bangsa ini pula.


Wonogiri, 2 Februari 2010

Labels: , , , ,

Friday, April 24, 2009 

Stuart Bruce, Nurdin Halid, Sepakbola Indonesia




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Tsunami sepakbola. Mie mentah.Dingin.Campur saus plus sambal. Itu salah satu menu sarapan saya pagi itu. Ini kesalahan pemula. Kesalahan wong ndeso di kota metropolis Singapura.

Karena saya tidak sadar bahwa di dekat nampan mie itu ada kompor gas kecil yang diatasnya terdapat kuali tembikar berisi kuah panas untuk menjerang mie tadi. Maklum saja, saya bukan ahli gastronomi.

Sambil sarapan, saya membuka-buka majalah Newsweek edisi terbaru. Salah satu kolomnya ditulis editornya yang cemerlang, Fareed Zakaria. Hari itu, 17 Januari 2005, hanya berselang tiga minggu setelah tsunami dahsyat menghantam Aceh dan negara-negara di tepian Samudera Hindia.

Fareed Zakaria menulis, dalam setiap kejadian bencana, fihak yang diuntungkan adalah justru kaum papa. Kaum miskin. Mereka terbiasa tidak memiliki apa-apa dan sesudah bencana, mereka kembali juga tidak memiliki apa-apa. Tetapi, lanjutnya, bencana tsunami 2004 itu lain. Kaum miskin kali ini juga sangat merasakan akibat fatalnya.

Beberapa hari sebelumnya, saya memimpikan adanya sesisir penghiburan bagi para korban tsunami, juga bagi psyche bangsa Indonesia saat itu. Melalui sepakbola. Di final Piala Tiger 2004. Di semifinal tim kita bisa menghancurkan Malaysia 1-4 di kandang mereka, sungguh menggelorakan.

Tetapi dalam pertandingan final leg pertama di Senayan, 8/1/2005, kita kalah ditekuk Phill Bennet dan kawan-kawan dari Singapura dengan 1-3. Gol tembakan bebas Mahyadi Panggabean tidak menyelamatkan saya, yang duduk di pinggir lapangan, karena nyaris dihantam bom botol air mineral berisi air kecing kekuningan yang dilemparkan oleh penonton kita yang frustrasi dari tribun stadion.

Heal the nation.” Itulah bunyi spanduk besar, rancangan saya dan Mayor Haristanto, yang pada tanggal 16/1/2005, terpampang di sudut timur laut Stadion Kallang, Singapura. Tergurat di sana harapan, melalui sepakbola sembuhkan luka bangsa Indonesia akibat bencana tsunami, dan bangkitlah Indonesia untuk meraih kemenangan dan kejayaan. Kita kalah lagi, 1-2. Agregat : 2-5 untuk kejayaaan Aedi Iskandar dan kawan-kawan dari Negeri Singa itu. Tsunami sepakbola Indonesia kali ini membawa dampak lebih jauh. Mengalir kepedihan sampai kini.

Sepakbola fantasi. Esoknya, ada sedikit penghiburan. Koran utama Singapura, harian The Straits Times (17/1/2005) memuat ucapan saya. Bahwa saya masih punya optimisme terhadap masa depan sepakbola Indonesia. Saya masih mempercayai bahwa Peter Withe, pelatih timnas saat itu, akan mampu membuat timnas kita kembali berjaya.

Optimisme saya itu mungkin optimisme buta. Saya hanya menganalogikan sukses yang dicapai oleh Peter Withe (sampai saya membuat kaos dengan slogan : I Believe The Withe Magic !) ketika melatih tim Thailand, akan juga berbuah sukses ketika melatih Ponaryo Astaman dan kawan-kawan.

Ketika Peter Withe pergi, ketika Nurdin Halid masuk penjara karena tindak pidana korupsi dan ketika Nurdin Halid keluar dari penjara tetapi ia bersama kroninya tetap bersikukuh ingin memegang kendali PSSI, saya kali ini sudah putus harapan. Melalui stasiun televisi antv, beberapa hari lalu, tiba-tiba saya melihat siaran berisi acara peringatan HUT ke-79 PSSI.Dengan tajuk “PSSI Fantasy.” Maka saya pun segera semakin tahu kini : sepakbola Indonesia adalah sepakbola fantasi.

Fantasi-fantasi itu, khayalan demi khayalan itu, memang yang hidup di kepala para pengelola persepakbolaan Indonesia. Berkhayal dengan mengirimkan tim berlatih ke luar negeri akan mampu mendongkrak prestasi. Rumus lama yang selalu didaur ulang walau hasilnya semata kegagalan selama ini. Lalu berkhayal sebagai penyelenggara Piala Dunia 2018 atau 2022. Termasuk mungkin berkhayal, bahwa saat itu ketua PSSI tetap digenggam oleh Nurdin Halid beserta kroni-kroninya.

Mana aksi suporter kita ? Tulisan Fareed Zakaria, juga cerita yang sering saya ulang mengenai final Piala Tiger 2004 di atas, muncul di benak lagi ketika ngobrol dengan Stuart Bruce. Ia suporter fanatik klub papan atas Skotlandia, Glasgow Rangers. Tempat ngobrolnya : Wonogiri, Kamis, 23 April 2009.

“Sebagai seorang Scotland, Stu itu Rangers sejati, sampai ke tulang dan darahnya :),” demikian bunyi sms dari Ade Soediro, eksekutif Radio Istara FM, Surabaya. Ade adalah tunangan dari Stuart Bruce (foto). Bagaimana ceritanya seorang suporter Glasgow Rangers bisa main ke Wonogiri ? Keajaiban itu bisa terjadi berkat blog di Internet, karena Google, terutama karena keagungan cinta. Hal ini bisa menjadi cerita tersendiri, termasuk menyangkut naskah buku saya Hari-Hari Sepakbola Indonesia Mati.

Stu kini tinggal di Manchester, Inggris. Sebagai seorang billy boys, sebutan bagi suporter Glasgow Rangers, ia pernah melanglang daratan Eropa. Juga sebagai seorang tartan army, sebutan bagi pendukung timnas Skotlandia. Suporter dari bangsa yang kaum prianya suka mengenakan rok kilt dan berbaris meniup alat musik bagpipe ini, tersohor tergolong sebagai kelompok suporter paling suportif dan sopan di Eropa.

The Tartan Army,” kata saya, “ dan juga Roligans dari Denmark, adalah kelompok suporter sepakbola yang perilakunya ingin menjadi suri tauladan kelompok suporter Indonesia.” Karena mereka bersahabat. Saat itu di pojok ruang tamu rumah saya, komputer sedang memutar CD saat kedatangan Pasoepati disambut meriah, gairah dan persahabatan, di tengah gemuruh Aremania di Stadion Gajayana, Malang, 21 Mei 2000. Saat itu tepat satu tahun reformasi di Indonesia !

Stuart Bruce, yang pernah menjadi dosen Sastra Inggris di Unika Sugiyopranoto Semarang, kini mendukung tim divisi 3 Stockport City di Manchester. “Kalau tur keluar kota, saya yang menjadi supir truk untuk membawa rekan-rekan suporter itu,” katanya bangga dan bahagia. Pengalaman hidupnya mendukung tim Skotlandia dan juga Glasgow Rangers yang diakuinya kurang bersinar di kancah Eropa, memberinya kebijakan dan kearifan. “Sebagai suporter tim lemah itu nothing to lose, kita terbiasa mengalami kekalahan, maka kita berusaha menikmati saja proses dan bukan hasilnya,” katanya sambil tertawa.

bambang dan stuart bruce
Suporter sepakbola itu bersaudara. Keajaiban blog, Google, Internet dan keagungan cinta, membawa seorang suporter Glasgow Rangers, Skotlandia, berkunjung ke Wonogiri. Saya dan Stuart bersama kaos tim Glasgow Rangers.

Terima kasih, Stuart. Dalam kunjungan ini Stuart Bruce “membaptis” saya sebagai salah satu bluenoses, sebutan sesama suporter Rangers, asal Wonogiri. Hadiahnya, kaos biru berplisir merah dari yang pernah dikenakan Giovanni van Bronckhorst, keturunan Maluku Selatan dan timnas Belanda sampai Andrei Kanchelskis, pemain sayap Rusia dan mantan MU itu, kini bisa yasa kenakan. Kepada Stuart Bruce, saya berikan buku kliping sejarah Pasoepati dan dokumentasi tur-tur Pasoepati dalam bentuk CD.

“Congrats ! Selamat menjadi fans baru Rangers !,” lagi-lagi sms dari Ade Soediro dan Stuart Bruce dalam perjalanan kereta api Solo-Surabaya. Mungkin Ade dan Stu lupa, rumah saya pun sudah lama menandakan sebagai fans Rangers. Pagar, daun jendela dan daun pintu, semuanya berwarna : biru Rangers. Kedatangan tak terduga dari Stuart dari Glasgow akhirnya itu ibarat sebuah siklus yang sempurna. Karena pada tahun 2007, Broto Happy W., redaktur sepakbola nasional dari Tabloid BOLA, yang adik saya, pernah mengunjungi Ibrox Stadium, markas besar klub Glasgow Rangers.


Teladan Gandhi. Teman-teman baru saya itu kini memang sudah meninggalkan Wonogiri. Tetapi ucapan Stuart Bruce masih membekas. Bahwa proses itu penting, walau hasil juga penting. Perjalanan itu penting, tujuan juga penting.

Menurut hemat saya, insan-insan pemangku kepentingan sepakbola Indonesia harus mau banyak belajar dari pengalaman hidup Stuart Bruce tadi. Menurut hemat saya, kita selama ini semata terobsesi untuk merengkuh hasil tetapi melupakan proses. Bahkan demi merengkuh hasil itu kita tega berbuat menghalakan segala cara, bahkan sampai melakukan tindakan kriminal.

Contoh aktual : aksi mengutak-atik bunyi peraturan FIFA oleh para petinggi PSSI kita, apakah juga perbuatan yang menghalalkan cara, sekaligus sebagai tindak kriminal ? Mungkin ikhtiar semacam ini bisa lolos. Tetapi hasil akhirnya akan dicatat oleh semesta, dan hanya kegagalan yang menyapa pada ujung-ujungnya.

Di tengah carut-marut tindak rekaculika itu, lalu di mana suara para suporter sepakbola Indonesia ? Kalau upaya meluruskan apa yang terjadi dalam tubuh PSSI saat ini dilakukan dengan cara seperti melakukan demo, justru cara seperti ini yang “ditunggu” oleh mereka. Apalagi kalau ada tindak kekerasan. Kita para suporter akan terjebak dalam alunan gendang aksi mereka.

Rekan-rekan suporter, beraksilah dengan metode di luar kotak. Tirulah cara Mahatma Gandhi (1869-1948) dalam menanggapi tindak kekejaman kolonial Inggris saat itu ketika India menjelang kemerdekaannya. Gandhi menyerukan pendukungnya untuk melakukan aksi anti kekerasan. Salah satu aksinya yang terkenal adalah satyagraha, aksi non-koperasi dengan penguasa sipil. Kalau seluruh suporter Indonesia kompak, melupakan dulu konflik semu antarkota, meminggirkan primodialisme, demi masa depan sepakbola Indonesia di tataran terhormat sepakbola dunia, kita mungkin mampu merubah keadaan.

Ketika memperingati sewindu Hari Suporter Nasional, 12 Juli 2008, bersama rekan-rekan suporter Solo, saya merancang melakukan aksi demo berdiam diri di Gladag, Solo. Pesannya adalah, untuk memprotes pengelolaan sepakbola Indonesia saat ini, menurut saya cara yang paling efektif adalah dengan : tidak menonton pertandingan sepakbola Indonesia.


Wonogiri, 24 April 2009

Labels: , , , , , , , , ,

Friday, July 11, 2008 

Sewindu Ikrar Hari Suporter Nasional 12 Juli (2000)


Oleh : Bambang Haryanto



Ikrar Cinta Sepakbola Indonesia. Anda masih ingat tanggal 12 Juli adalah hari Suporter Nasional ? Kalau Anda lupa atau tidak hirau, saya maklum. Tetapi kalau Anda pernah duduk di bangku SD atau SMP, tanggal 12 Juli itu mungkin lebih Anda kenal sebagai Hari Koperasi.

Betul begitu ? Lalu Anda ingat Bung Hatta, yang semasa muda juga pemain sepakbola, sebagai Bapak Koperasi kita ?

Kalau Anda tak bisa mengingat semuanya, saya bercuriga bahwa mungkin dalam bersekolah Anda itu langsung lahir dan langsung pula meloncat ke SMA, atau perguruan tinggi di luar negeri. Atau mungkin, bahkan begitu Anda lahir, dan ketika bersekolah maka untuk tingkat SD saja Anda pun tidaklah tamat. Di kalimat terakhir ini, jelas saya yang ngawur. Orang yang bisa akses Internet kok tak lulus SD ? Ngawur, kan ?

Photobucket

Kembali ke Hari Suporter Nasional, yang tanggal 12 Juli 2008, sudah sewindu umurnya. Sudah delapan tahun. Untuk sekedar merevitalisasi gagasan yang pernah kita sepakati bersama saat ide hari suporter nasional itu diluncurkan, Mayor Haristanto, saya dan beberapa teman dari Pasoepati Solo dan sekitarnya, mau bikin aksi. Aksi itu (foto)berupa happening art. Dengan melakukan aksi topo mbisu. Bersemedi dengan tidak mengeluarkan kata-kata.

Photobucket

Dengan hening itu, di tengah keriuhan perempatan Gladag Solo, mungkin ada gunanya dibanding aksi teriak-teriak. Toh teriak-teriak dari warga komunitas sepakbola Indonesia yang masih memiliki akal sehat selama ini, terkait kebobrokan dan wabah korupsi yang membelit sepakbola Indonesia, seolah menabrak tembok, bukan ?


Kami toh mencoba berteriak, tetapi dengan bahasa yang lain. Memakai bahasa keheningan. Melakukan sebuah inner journey, perjalanan ke dalam diri kita, untuk meneliti kembali komitmen kami dan kita sebagai suporter sepakbola, sebagai bagian dari komunitas sepakbola Indonesia.

Kami akan membentangkan poster. Antara lain berbunyi, “Suporter Indonesia = Useful Idiots ?” sampai “Suporter Indonesia, Suporter Myopia.” Katakanlah itu gugatan kami, kepada diri kami sendiri. Karena kami selama ini menderita myopia, cadok, rabun dekat. Kita hanya mampu melihat hal-hal yang dekat, misalnya fanatisme terhadap klub berdasarkan primodialisme yang berlebihan, bahkan rela dibela dengan nyawa.

Lalu merasa dengan kecadokan semacam itu kita merasa cukup. Merasa sehat. Merasa dunia sepakbola kita sudah beres-beres saja. Kita tidak menyadari terancam hanya menjadi useful idiot, orang-orang yang bagai kerbau dicocok hidung, karena tidak berani memiliki fikiran atau pendirian yang mandiri. Konflik-konflik antarsuporter itu mungkin sengaja “dipelihara,” seperti halnya pelbagai konflik di tanah air, sehingga dapat memberikan keuntungan kepada sekelompok aktor intelektual tertentu.

Misalnya, konflik antarsuporter itu dapat “dibisniskan” dalam bentuk ajang pertemuan antarsuporter, membuat deklarasi ini dan itu, dan ketika waktu berjalan semua hal itu mudah terlupakan. Ingat, bangsa kita adalah bangsa yang pelupa. Lalu ketika muncul konflik antarsuporter lagi, terlebih lagi dengan munculnya korban jiwa, maka siklus bisnis itu berjalan kembali. Kecadokan kita yang dipelihara untuk meraih keuntungan.

Ritus dari siklus-siklus semacam sudah membuat kita kebal, sehingga mungkin sudah kita tidurkan apa itu yang namanya hati nurani. Akibatnya kemudian, kita menjadi tak hirau dengan apa yang terjadi di Senayan. Di kantor PSSI selama ini.


Gerontokrasi di PSSI. Persoalan sepakbola kita sudah terlalu besar untuk bisa kita cerna. Berdasar pemikiran itu sering membuat kita, para supporter berpendapat bahwa kita serahkan saja setotalnya, bahasa Jawanya pasrah bongkokan, kepada mereka-mereka yang kita anggap memiliki keahlian dan komitmen. Tetapi ketika korupsi juga meruyak ke sana, bahkan merasuk kepada pimpinan puncaknya, apa lagi yang bisa kita harap dari mereka ?

Mari kita mencoba mendengar pandangan orang lain. Ia bukan dari kelompok suporter, juga bukan orang dalam sepakbola. Azrul Ananda, bos muda Jawa Pos Group ketika memperingati 59 tahun harian Jawa Pos (Jawa Pos,1-2/7/2008) juga ikut menyentil kondisi persepakbolaan kita. Ia membandingkan saat bertemu dengan orang-orang koran, yang ia sebut sebagai orang-orang yang sudah tua, dengan acara lainnya ketika ia bertemu dengan orang-orang teras sepakbola kita.

“Orang-orang yang mengurusi sepakbola itu masih sama dengan orang-orang yang saya baca di koran waktu masih SD dulu. Hanya satu atau dua yang usianya tidak jauh dari saya. yang lebih muda dari saya hanya pemain,” tulisnya dalam artikel berjudul Newspaper is Dead (Jawa Pos, 1/7/08).

Saya berpikir, lanjut Azrul Ananda, apa karena ini ya sepakbola Indonesia tidak maju-maju ? Ilmu yang sama diputar-putar sampai habis. Orang yang satu pindah ke tempat lain, memutar-mutar ilmu yang sama sampai habis.

Padahal, lingkungan sudah berubah. Ada beberapa tingkatan generasi baru yang lebih tahu tentang ilmu-ilmu baru. Mereka hanya belum mendapat kesempatan untuk menjajal ilmu-ilmu baru itu, lalu mengetahui kelemahan dan kesalahannya, karena orang-orang lama terus memaksakan ilmu-ilmu lama.

Delapan tahun lalu, di kantor Tabloid Bola, saya mencetuskan hari suporter nasional. Rekan-rekan lain, baik dari Pasoepati, Aremania, The Jakmania dan Viking, menyetujuinya. Terima kasih. Mudah-mudahan delapan tahun kemudian para sahabat saya itu masih juga menyetujui gagasan saya yang tertulis ini : mari kita hentikan status kita yang nyaris hanya ibarat sebagai kerbau yang dicocok hidung dalam konstelasi persepakbolaan nasional. Kita harus bangkit. Bersuara. Beraksi. Dengan dimulai dari perjalanan ke dalam diri sendiri, mengasah ketajaman hati nurani, pikir dan dan pena kita, demi masa depan yang lebih cerah dari sepakbola Indonesia kita tercinta. Saya yakin, dalam melangkah ke depan saya tidak akan berjalan sendirian.


Wonogiri, 11 Juli 2008


si

Labels: , ,

"All that I know most surely about morality and obligations I owe to football"



(Albert Camus, 1913-1960)

Salam Kenal Dari Saya


Image hosted by Photobucket.com

Bambang Haryanto



("A lone wolf who loves to blog, to dream and to joke about his imperfect life")

Genre Baru Humor Indonesia

Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau, Buku humor politik karya Bambang Haryanto, terbit 2012. Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau! Pengarang : Bambang Haryanto. Format : 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-97648-6-4. Jumlah halaman : 219. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : Februari 2012. Kategori : Humor Politik.

Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau ! Format: 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-96413-7-0. Halaman: xxxii + 205. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : 24 November 2010. Kategori : Humor Politik.

Komentar Dari Pasar

  • “HAHAHA…bukumu apik tenan, mas. Oia, bukumu tak beli 8 buat gift pembicara dan doorprize :-D.” (Widiaji Indonesia, Yogyakarta, 3 Desember 2010 : 21.13.48).
  • “Mas, buku Komedikus Erektus mas Bambang ternyata dijual di TB Gramedia Bogor dgn Rp. 39.000. Saya tahu sekarang saat ngantar Gladys beli buku di Bogor. Salam. Happy. “ (Broto Happy W, Bogor : Kamis, 23/12/2010 : 16.59.35).
  • "Mas BH, klo isu yg baik tak kan mengalahkan isu jahat/korupsi spt Gayus yg dpt hadiah menginap gratis 20 th di htl prodeo.Smg Komedikus Erektus laris manis. Spt yg di Gramedia Pondok Indah Jaksel......banyak yg ngintip isinya (terlihat dari bungkus plastiknya yg mengelupas lebih dari 5 buku). Catatan dibuat 22-12-10." (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :21.30.05-via Facebook).
  • “Semoga otakku sesuai standar Sarlito agar segera tertawa ! “ (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.50.05).
  • “Siang ini aku mau beli buku utk kado istri yg ber-Hari Ibu, eh ketemu buku Bambang Haryanto Dagelan Rep Kacau Balau, tp baru baca hlm 203, sukses utk Anda ! (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.22.28).
  • “Buku Komedikus Erektusnya sdh aku terima. Keren, mantabz, smg sukses…Insya Allah, suatu saat kita bisa bersama lg di karya yang lain.” (Harris Cinnamon, Jakarta : 15 Desember 2010 : 20.26.46).
  • “Pak Bambang. Saya sudah baca bukunya: luar biasa sekali !!! Saya tidak bisa bayangkan bagaimana kelanjutannya kalau masuk ke camp humor saya ? “ (Danny Septriadi,kolektor buku humor dan kartun manca negara, Jakarta, 11 Desember 2010, 09.25, via email).
  • “Mas, walau sdh tahu berita dari email, hari ini aq beli & baca buku Komedikus Erektus d Gramedia Solo. Selamat, mas ! Turut bangga, smoga ketularan nulis buku. Thx”. (Basnendar Heriprilosadoso, Solo, 9 Desember 2010 : 15.28.41).
  • Terima Kasih Untuk Atensi Anda

    Powered by Blogger
    and Blogger Templates