Tuesday, August 24, 2010 

Pasoepati 2000, 2010 dan 2.0.





Oleh : Bambang Haryanto
Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli (2000)


Pasoepati 2000. Halaman kantor redaksi Solopos, Jl. Slamet Riyadi, Solo. Jumat sore, 4 Agustus 2000. Belum genap berumur satu tahun umurnya, sore itu Pasoepati menggelar acara pemberian penghargaan Pasoepati Pinastika 2000.

Untuk warga internal diterimakan kepada suku Tawon Endas (Nayu), suku Duta Sangkrah dan Pasoepati Jakarta yang dimotori Panji Kartiko dan kawan-kawan. Kelompok suporter di tanah air telah terpilih Aremania (Malang) yang didaulat sebagai guru dan sahabat Pasoepati. Wartawan foto Ali Lufti dari harian Solopos juga memperolehnya. Ia berjasa mengabadikan aksi suku Pasoepati dengan hasil jepretan penuh ilham dan keteladanan.

Pemain Pelita Solo karena empatinya yang tinggi terhadap suporternya, Indriyanto Setyo Nugroho, juga memperolehnya disertai pemberian julukan "Mr. Nice Guy" kepadanya. Dalam upacara pemberian penghargaan tersebut nampak di matanya mengembang air mata.

"Atas jasa baik yang tak terlupakan oleh setiap warga Pasoepati, baik sebagai provokator gagasan dan pamomong, kawan berdiskusi, pengeras suara, juga chronicler yang berdedikasi sekaligus sebagai kritisi yang senantiasa tulus hati mendampingi dari saat-saat kelahiran sampai derap langkah maju Pasoepati saat ini," itulah landasan untuk memberikan Pasoepati Pinastika 2000 untuk Tabloid BOLA dan harian Solopos Solo.

Saya sebagai Menko Media dan Komunikasi Pasoepati saat itu, ketika menyerahkan piagam kepada harian Solopos yang diwakili Pemimpin Perusahaan, Bambang N. Rahadi, sempat saya katakan sesuatu. Bahwa berkat jasa Solopos telah membuat Pasoepati berkembang pesat selama setengah tahun umurnya.

Sungguh tak terduga ketika Bambang N. Rahadi membalasnya dengan ucapan bahwa kehadiran dan kiprah Pasoepati telah mampu dan berjasa mendongkrak oplah harian Solopos secara signifikan akhir-akhir ini.

broto happy,pasoepati,psv eindhoven,belanda,bambang haryanto
Sama-sama merah. Cita-cita untuk menduniakan Pasoepati antara lain dengan ditunjukkan dalam foto ini : syal Pasoepati yang berslogan "It's easy to be a nice guy. Follow me, Follow Pasoepati" nampak bertengger di gerbang markas tim elit Divisi Satu Belanda, PSV Eindhoven. Kini, dunia dan warga Solo menunggu kreasi-kreasi baru dari Pasoepati.[Foto : Broto Happy W.]


Pasoepati 2010. Fenomena simbiosis mutualistis antara Pasoepati dan media sepuluh tahun yang lalu itu, semoga kini tidak hanya menjadi nostalgia yang pantas untuk dikenang, tetapi juga dapat dipelajari kembali sebagai bekal melangkah ke depan secara bersama. Penyelenggaraan Silaturahmi Akbar Pasoepati 2010 yang didukung oleh koran ini, sebagaimana dilaporkan secara serial pada edisi 28 sd 30/7/2010, masih menunjukkan semangat yang kuat keduanya untuk terus bekerja sama.

Fenomena itu mengingatkan tamsil bahwa pendirian Pasoepati saat itu ibarat isi dongengan tentang sup batu. Cerita ini pernah saya tulis di Solopos (16/1/2001). Kata sahibul hikayat, terdapat dua orang menaruh kuali besar di atas tungku yang menyala, di tengah alun-alun kota. Dalam kuali itu dimasukkan air dan sebutir batu. Sejurus kemudian dua orang itu segera mengaduk-aduk "masakan"-nya secara bersungguh-sungguh sambil bersuka ria.

Datanglah orang ketiga. Ia penasaran, ingin tahu apa yang dikerjakan oleh dua orang yang tampak aneh tadi. Segera orang ketiga itu diberitahu bahwa mereka berdua sedang memasak sup yang lezat, tetapi masakan itu masih kekurangan wortel. Orang ketiga itu pun pulang. Ia datang kembali membawa wortel yang segera dituangkan ke dalam kuali. Ia pun segera pula ikut mengaduk-aduknya.

Orang-orang berikutnya datang menyumbang kubis, loncang, seledri, garam, minyak, penyedap rasa, kaldu, daging, dan keperluan sup lainnya. Adonan itu makin lama memang terasa menguarkan aroma yang menggugah selera.

Itu gambaran masa-masa awal berdirinya Pasoepati. Ketika itu bergelombang warga Solo dan sekitarnya sepertinya tulus bersepakat untuk memberi, untuk berbagi, semuanya demi membesarkan dan memperkaya Pasoepati. Tetapi kemudian, suatu perkembangan yang mungkin wajar terjadi, sebagian warganya mulai tergerak untuk meminta imbalan atas kiprah mereka.

Ibaratnya, mereka datang masuk Pasoepati membawa modal 10 persen, tetapi ingin memperoleh imbalan 15 persen. Begitu seterusnya, yang akhirnya membuat aset Pasoepati menjadi kurus, dan boleh jadi mendekati "habis" sama sekali.

Paguyuban yang seharusnya bersifat cair, sukarela, inklusif, dimana hubungan antarwarganya diikat rasa kebersamaan murni mendukung tim Pelita Solo (saat itu), dibumbui rasa bangga dan fanatisme terhadap kota tercintanya, dalam sejarah perjalanannya pernah terseok sebagai entitas bisnis yang mencari uang. Yaitu ketika pernah didaulat sebagai panitia penyelenggara pertandingan. Sehingga saat itu dalam tubuh Pasoepati muncul perpecahan. Karena terdapat segelintir kubu suporter yang dibayar, tetapi sebagian besar merupakan suporter yang membayar (tiket masuk).

Belum lagi adanya dugaan keras upaya kooptasi partai politik tertentu yang tergiur mendulang suara dari warga Pasoepati, membuat sebagian contoh-contoh gangguan tersebut pantas diduga menjadi penyebab kehadiran Pasoepati masa kini yang seperti diungkap oleh Solopos dengan mengutip pernyataan pendiri dan mantan Presiden Pasoepati, Mayor Haristanto, sebagai kurang greget, kurang kreatif, kurang terekspos, bahkan pentolannya pun dianggap kurang memiliki rasa percaya diri dan rasa bangga sebagai warga Pasoepati.

Pasoepati 2.0. Kini warga Pasoepati harus mau berbenah diri. Pasoepati masih memiliki peluang sejarah mampu meraih sukses di masa depan. Sepuluh tahun lalu Pasoepati hadir ikut serta menguak cakrawala baru dunia suporter Indonesia, dengan sentuhan sportivitas dan kreativitas. Fase tersebut saya sebut sebagai Pasoepati 1.0.

Kini, telah tiba era Pasoepati 2.0. Di tengah badai maraknya beragam media Web 2.0., yaitu media-media sosial di Internet, dari blog, forum, Facebook, Twitter dan media sejenisnya, maka bangunan organisasi Pasoepati dan interaksi antarwarganya harus mencerminkan roh beragam media sosial itu. Yaitu egaliter, bersepakat menyuburkan keunikan tiap-tiap warganya, saling terkoneksi, dan menanamkan keyakinan bahwa sukses hanya bisa dicapai bila semua orang berpeluang sukses pula.

Saran Soewarmin, wartawan Solopos yang ikut membidani lahirnya Pasoepati, agar Pasoepati membenahi dulu internal organisasinya dan berpikir kreatif kemudian, semoga dijalankan dalam konteks Pasoepati 2.0.

Pengejawantahannya adalah bahwa pimpinan organisasi Pasoepati bukan jamannya lagi sebagai godfather, tetapi sebagai hub atau pusat jaringan yang memfasilitasi lalu-lintas ide, kreasi dan isu antarwarganya. Ide-ide terbaik kemudian disebarkan kepada warganya, yang bila dieksekusi dengan pendekatan kreatif mampu membuatnya disulap menjadi beragam komoditas untuk dipasarkan.

Ketika melakukan tur-tur Pasoepati pada awal berdirinya, sebagai contoh kecil, saya senantiasa merancang tagline unik. Bahkan menyertakan pula lagu-lagu tertentu sebagai sound track tur bersangkutan.

Tujuannya adalah, pelbagai tagline atau lagu itu berpeluang diubah menjadi komoditas kreatif, misalnya beragam memorabilia. Di Facebook sekarang ini, sebagai contoh, mudah Anda temui warga Pasoepati yang menjual beragam tema kaos Pasoepati atau pun Persis Solo. Di awal Pasoepati berdiri, saat itu telah hadir pula warung/kafe Pasoepati.

Akhir kata, Pasoepati kini harus bergerak sebagai organisasi kreatif. Menjadi organisasi yang mendorong, menelurkan gagasan dan menfasilitasi warganya agar terus mau belajar. Ketika tim yang dibelanya kini, Persis Solo, terjerembab ke lembah Divisi Satu, maka tiba saatnya Pasoepati harus hadir lebih solid, lebih kreatif, juga lebih bertenaga dalam menampilkan diri. Syukur-syukur apabila segala kiprahnya tersebut mampu menjadi daya dorong guna mengangkat kembali Persis Solo ke jenjang prestasi yang lebih tinggi.

Pantas dicatat, sungguh suatu berkah bahwa Pasoepati lahir di kota yang kini semakin moncer sebagai kota yang gencar menggali potensi-potensi kreatif warganya atau pun khasanah budaya miliknya yang selama ini tenggelam atau terabaikan.

Kereta kreatif Solo sudah jauh bergerak, Pasoepati seharusnya tidak hanya menjadi pembonceng gelap atau figuran belaka, tetapi harus ikut menjadi salah satu motornya. Maukah dan mampukah warga Pasoepati menjawab tantangan jaman yang menggairahkan ini ?


Wonogiri, 23-24 Agustus 2010

Labels: , , , , , , , , , , , , ,

Thursday, June 10, 2010 

Suporter 2.0, Piala Dunia dan Budaya Korupsi Kita





Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


“Sepak bola,” kata Nelson Mandela, “merupakan aktivitas yang paling mampu mempersatukan umat manusia.”

Merujuk negerinya dengan sejarah kelam tergencet politik apartheid yang panjang, kemudian bangkit dalam rekonsiliasi, dan di bulan Juni 2010 ini menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, ucapan Bapak Afrika Selatan itu terasa membiaskan kebenaran. Indonesia berpuluh tahun lewat telah pula merasakannya.

Itu terjadi pada tahun 1938 ketika ucapan Mandela tersebut punya makna bagi kita. Karena tim Asia pertama yang terjun dalam Piala Dunia 1938 di Perancis itu, walau masih di bawah bendera pemerintahan Hindia Belanda, adalah tim Indonesia yang terdiri beragam etnis bangsa. R.N. Bayuaji dalam bukunya Tionghoa Surabaya Dalam Sepakbola (2010), menyebutkan dalam tim tersebut terdapat pemain orang Belanda, Tionghoa dan Bumiputera.

Kemudian keikutsertaan Indonesia oleh novelis asal Uruguay, Eduardo Galeano, dalam Football in Sun and Shadow (2003) yang menulis panorama sepak bola dunia dengan kaya konteks, berdegup dan indah, telah dicatat sebagai satu di antara tiga kaitan antara Indonesia dan Piala Dunia.

Kaitan pertama, peristiwa di Piala Dunia Perancis tahun 1938 itu pula. Dalam pertandingan pertama di Reims Indonesia ditekuk calon finalis Hungaria 6-0, menjadikan momen itu sebagai pengalaman pertama negara kita ini mencicipi terjun sebagai finalis Piala Dunia.

Selebihnya, dua kaitan sisanya oleh Eduardo Galeano Indonesia hanya menjadi latar belakang peristiwa besar dunia terkait masa kenaikan rezim tiran Soeharto dan Orde Barunya (Piala Dunia 1966 di Inggris) dan sekaligus masa keruntuhannya (Piala Dunia 1998 (Perancis).

Dan hari ini, setelah 72 tahun Piala Dunia 1938 di Perancis itu, mengapa sepakbola Indonesia tidak pernah mampu lagi berbicara di tingkat dunia ? Freek Colombijn, antropolog lulusan Leiden, mantan pemain Harlemsche Football Club Belanda, mengungkap bahwa posisi sepak bola Indonesia dalam percaturan dunia kini berada dalam posisi periferi, pinggiran.

Dalam artikel "View from the Periphery : Football in Indonesia" dalam buku Garry Armstrong dan Richard Giulianotti (ed.), Football Cultures and Identities (1999), ia menggarisbawahi keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia sebagai akibat masih meruyaknya budaya kekerasan di teater sepak bola kita dan belum kokohnya budaya demokrasi di negeri ini.

Seolah memberi garis bawah realitas itu, seorang Emil Salim baru-baru ini menyebutkan bahwa demokrasi di Indonesia ibarat anak-anak yang masih berusia 2-3 tahun.

bambang haryanto,solopos 10 juni 2010,piala dunia 1938,korupsi,suporter 2.0


Teater sepak bola kita, seperti halnya sendi-sendi kehidupan bangsa ini di pelbagai sektor lainnya, makin diperunyam oleh budaya korupsi yang menggurita. “Indonesia adalah Brazilnya Asia. Pesepakbola Indonesia bermain dengan intelejensia dan bakat unik yang tidak ada duanya di dunia. Bakat-bakat mereka lebih baik dibanding pemain Korea atau Jepang. Pada era 50 dan 60-an, tim-tim Asia jangan bermimpi mampu menaklukkan tim Asia Tenggara.”

Itulah kenangan Sekjen Asian Football Confederation (AFC), Peter Velappan, di Asiaweek (5/6/1998) menjelang Piala Dunia 1998.

Tetapi di mana kini Indonesia dalam percaturan sepakbola Asia Tenggara ? Tidak membangggakan. Apalagi di Asia, dan tingkat dunia. Sepakbola kita hanya mampu memiliki masa lalu. Dalam artikel itu tersaji gambar pemain Indonesia Rocky Putiray, dengan teks berbunyi : “Pemain Indonesia seperti Peri Shandria yang sedang melompat itu memiliki bakat, tetapi pertandingan seringkali sudah diatur skornya.”

Peter Velappan kemudian melanjutkan bahwa asal-muasal keterpurukan prestasi Indonesia itu bersumber akibat “organisasi persepakbolaannya yang amburadul dan tidak mampu membersihkan borok korupsi yang ada,” sebagaimana keterpurukan prestasi sepak bola di Asia Tenggara selama berpuluh-puluh tahun terakhir ini pula.

Dalam belitan meruyaknya budaya korupsi itu maka sepakbola Indonesia merupakan teater sepakbola penuh rekayasa. Peraturan begitu mudah berganti-ganti, tetapi pada ujungnya hanyalah jeblognya prestasi demi prestasi timnas kita di pertandingan internasional.

Penghamburan uang negara dengan mengirim mereka berlatih ke luar negeri, misalnya ke Belanda, Argentina dan kini ke Uruguay, tidak lain hanyalah tipuan kehumasan untuk memoles citra. Trik semacam ini sudah berlangsung sejak jaman Primavera di era 1980-an dan semuanya berbuah kegagalan.

Kegairahan bangsa Indonesia terhadap sepak bola telah dibajak oleh elite dalam tubuh PSSI untuk kepentingan bisnis rejim mereka sendiri. Bos PSSI, Nurdin Halid pernah bilang dengan bangga bahwa kompetisi di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, baik dalam jumlah klub mau pun luas wilayahnya. Tetapi potensi besar itu selalu saja menjadi mandul ketika timnas kita atau klub-klub kita bertanding melawan tim di kawasan Asia Tenggara dan Asia.

Solusi di masa depan untuk mengatasi jeblognya prestasi sepakbola kita mungkin justru berada di tangan lembaga yang kini sedang mengalami gonjang-ganjing : Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kita harapkan lembaga ini, setelah pelbagai badai yang menerpanya lewat, akan membuatnya sosoknya semakin kokoh dan berwibawa. Setelah pelbagai kasus besar yang urgen bisa selesai, kita harapkan KPK akan hadir membongkar gurita-gurita korupsi dalam tubuh persepakbolaan nasional kita.

Sebagai suporter, saya imbau agar organisasi-organisasi suporter sepakbola Indonesia ikut bangkit sebagai kekuatan positif, dengan mulai mengasah diri untuk menjadi sosok Suporter 2.0.

Dapat diibaratkan bahwa Suporter 1.0. mewakili era suporter yang kreatif dan atraktif seperti digelorakan antara lain oleh Pasoepati di tahun 2000, maka Suporter 2.0. harus memanfaatkan kedahsyatan media-media sosial di Internet sebagai sarana aktualisasi kiprah positif mereka.

Termasuk pula menjadi anjing penjaga, watch dog, yang secara kritis mencatat dan melaporkan jalannya roda manajemen klub yang ia dukung untuk diangkat sebagai wacana publik demi terselenggaranya proses check and balances dalam meraih kebaikan dan kesuksesan bersama.

Selamat menikmati Piala Dunia 2010. Sekaligus mari kita banyak belajar dari negerinya Nelson Mandela ini ! [Artikel ini dengan judul “Piala dunia dan Budaya Korupsi Kita,” dimuat di harian Solopos, Kamis, 10 Juni 2010].



Wonogiri, 10/6/2010

Labels: , , , , , , , , , , ,

"All that I know most surely about morality and obligations I owe to football"



(Albert Camus, 1913-1960)

Salam Kenal Dari Saya


Image hosted by Photobucket.com

Bambang Haryanto



("A lone wolf who loves to blog, to dream and to joke about his imperfect life")

Genre Baru Humor Indonesia

Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau, Buku humor politik karya Bambang Haryanto, terbit 2012. Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau! Pengarang : Bambang Haryanto. Format : 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-97648-6-4. Jumlah halaman : 219. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : Februari 2012. Kategori : Humor Politik.

Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau ! Format: 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-96413-7-0. Halaman: xxxii + 205. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : 24 November 2010. Kategori : Humor Politik.

Komentar Dari Pasar

  • “HAHAHA…bukumu apik tenan, mas. Oia, bukumu tak beli 8 buat gift pembicara dan doorprize :-D.” (Widiaji Indonesia, Yogyakarta, 3 Desember 2010 : 21.13.48).
  • “Mas, buku Komedikus Erektus mas Bambang ternyata dijual di TB Gramedia Bogor dgn Rp. 39.000. Saya tahu sekarang saat ngantar Gladys beli buku di Bogor. Salam. Happy. “ (Broto Happy W, Bogor : Kamis, 23/12/2010 : 16.59.35).
  • "Mas BH, klo isu yg baik tak kan mengalahkan isu jahat/korupsi spt Gayus yg dpt hadiah menginap gratis 20 th di htl prodeo.Smg Komedikus Erektus laris manis. Spt yg di Gramedia Pondok Indah Jaksel......banyak yg ngintip isinya (terlihat dari bungkus plastiknya yg mengelupas lebih dari 5 buku). Catatan dibuat 22-12-10." (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :21.30.05-via Facebook).
  • “Semoga otakku sesuai standar Sarlito agar segera tertawa ! “ (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.50.05).
  • “Siang ini aku mau beli buku utk kado istri yg ber-Hari Ibu, eh ketemu buku Bambang Haryanto Dagelan Rep Kacau Balau, tp baru baca hlm 203, sukses utk Anda ! (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.22.28).
  • “Buku Komedikus Erektusnya sdh aku terima. Keren, mantabz, smg sukses…Insya Allah, suatu saat kita bisa bersama lg di karya yang lain.” (Harris Cinnamon, Jakarta : 15 Desember 2010 : 20.26.46).
  • “Pak Bambang. Saya sudah baca bukunya: luar biasa sekali !!! Saya tidak bisa bayangkan bagaimana kelanjutannya kalau masuk ke camp humor saya ? “ (Danny Septriadi,kolektor buku humor dan kartun manca negara, Jakarta, 11 Desember 2010, 09.25, via email).
  • “Mas, walau sdh tahu berita dari email, hari ini aq beli & baca buku Komedikus Erektus d Gramedia Solo. Selamat, mas ! Turut bangga, smoga ketularan nulis buku. Thx”. (Basnendar Heriprilosadoso, Solo, 9 Desember 2010 : 15.28.41).
  • Terima Kasih Untuk Atensi Anda

    Powered by Blogger
    and Blogger Templates