Monday, July 12, 2010 

Piala Dunia 2010, Ajaibnya Paul dan Hari Suporter Nasional



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Wartawan senior Kompas, Budiarto Shambazy, menulis bahwa Piala Dunia 2010 adalah piala dunia pelatih. Pengamatan yang jitu.

Tetapi bagi saya yang awam, PD 2010 adalah Piala Dunianya si Paul. Paul the Oracle Octopus. Heran juga saya. Kok ya bisa-bisanya binatang laut itu mampu meramal secara benar hasil akhir pertandingan pada babak-babak kritis piala dunia di Afrika Selatan itu ?

Ketika meramalkan bahwa tim Jerman akan menang melawan Inggris (foto), koran Inggris The Daily Mail langsung bengok-bengok menuduh si Paul itu sebaga pengkhianat.

Maklum saja, ia memang kelahiran Inggris. Tetapi oleh koran itu disebut, "telah melupakan asal-muasalnya yang dari Inggris." Kabar terbaru, setelah ia meramalkan secara tepat sukses Spanyol sebagai kampiun baru Piala Dunia, ia ditawari suaka ke negeri Matador itu agar selamat dari pelbagai ancaman. Si Paul itu boleh jadi kini memang menjadi musuh orang-orang fanatik sepak bola dari Argentina, Belanda, Ghana, Inggris, dan siapa tahu juga segelintir warga Jerman sendiri !

Ada solusi dari Indonesia. Jangan-jangan, berkat kesaktiannya itu Si Paul kini diincar untuk dibeli oleh Ketua PSSI kita. Setiap akan berlangsung pertandingan di liga Indonesia, si Paul itu diminta akan untuk meramal. Bahkan di stasiun televisi ANTV, milik keluarga Bakrie yang salah satu pewarisnya adalah orang top di PSSI, si Paul itu boleh jadi akan dibuatkan acara televisi tersendiri.

Kalau si Paul itu sekarang tinggalnya di Sea Life Aquarium di kota Oberhausen, memiliki juru bicara perempuan bernama Tanja Munzig, siapa tahu di ANTV ia akan memiliki juru bicara seorang mantan atlit renang yang cantik dan juga mantan bintang film itu. Namanya, silakan tebak sendiri.

Desas-desus lain, Paul juga diminati kalangan penegak hukum yang kini rada pusing dalam bekerja membongkar kasus video porno NI-LN dan CT. Karena konon masih ada 30-an lagi artis yang terlibat dalam skandal video serupa. Nah, bila saja si Paul jenius itu tinggal di Indonesia, di kolamnya setiap kali diceburkan dua foto artis kita dan silakan dia memilih salah satunya. Begitu selanjutnya, sampai ke-30-an artis yang diduga terlibat skandal video porno itu ditemukan.

KPK dikabarkan juga meminati jasa Paul pula. Majalah Tempo dalam melakukan investigasi lanjutan tentang kepemilikan rekening-rekening gendut tokoh tertentu, menurut kabar burung, berminat memakai jasa jenius sang Paul tersebut pula.

Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, berakhir tanggal 12 Juli 2010. Tanggal itu, sepuluh tahun lalu, mencatat sejarah kecil bagi dunia sepak bola Indonesia. Mengambil tempat di Kantor Redaksi Tabloid Bola di Palmerah Selatan 3, Jakarta Pusat, pernah menjadi saksi pertemuan antarkelompok suporter sepakbola di Indonesia. Difasilitasi oleh Sigit Nugroho dan kawan-kawan.

Hari itu saya mencetuskan tanggal 12 Juli sebagai Hari Suporter Nasional. Syukurlah, secara aklamasi disetujui oleh Aly, Arif Irawanto, Ayek, Choirul Anam, Hendyk Kheteck, Ined Arief, Lutfie, M. Noer W., Roji, Rus, Sampaiton, Yani dan Yanto (Aremania), Faisal Riza, Ferry Indrasjarief dan Sumardan (Jakmania), Adie, Agus Gigi Yulianto, Didit Prayudi, Fajar Toto, Panji Kartiko dan Ryan Adhianto (Pasoepati Jakarta), Bambang Haryanto dan Mayor Haristanto (Pasoepati Solo), dan Agus Rahmat, Eri Hendrian serta Leo Nandang Rukaran (Viking Jabodetabek).

Para pentolan suporter yang hadir saat itu bersepakat menjadikan hari itu sebagai Hari Suporter Nasional, hari untuk menggalang persaudaraan, memupuk sportivitas dan cinta damai antar sesamanya.

Sudahkah cita-cita mulia terwujud kini ? Masih jauh. Mungkin sejauh cita-cita bangsa Indonesia untuk mampu tampil di Piala Dunia 2014 di Brazil nanti.


Wonogiri, 12 Juli 2010


si

Labels: , , , , , , , , , , , ,

Thursday, June 10, 2010 

Suporter 2.0, Piala Dunia dan Budaya Korupsi Kita





Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


“Sepak bola,” kata Nelson Mandela, “merupakan aktivitas yang paling mampu mempersatukan umat manusia.”

Merujuk negerinya dengan sejarah kelam tergencet politik apartheid yang panjang, kemudian bangkit dalam rekonsiliasi, dan di bulan Juni 2010 ini menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, ucapan Bapak Afrika Selatan itu terasa membiaskan kebenaran. Indonesia berpuluh tahun lewat telah pula merasakannya.

Itu terjadi pada tahun 1938 ketika ucapan Mandela tersebut punya makna bagi kita. Karena tim Asia pertama yang terjun dalam Piala Dunia 1938 di Perancis itu, walau masih di bawah bendera pemerintahan Hindia Belanda, adalah tim Indonesia yang terdiri beragam etnis bangsa. R.N. Bayuaji dalam bukunya Tionghoa Surabaya Dalam Sepakbola (2010), menyebutkan dalam tim tersebut terdapat pemain orang Belanda, Tionghoa dan Bumiputera.

Kemudian keikutsertaan Indonesia oleh novelis asal Uruguay, Eduardo Galeano, dalam Football in Sun and Shadow (2003) yang menulis panorama sepak bola dunia dengan kaya konteks, berdegup dan indah, telah dicatat sebagai satu di antara tiga kaitan antara Indonesia dan Piala Dunia.

Kaitan pertama, peristiwa di Piala Dunia Perancis tahun 1938 itu pula. Dalam pertandingan pertama di Reims Indonesia ditekuk calon finalis Hungaria 6-0, menjadikan momen itu sebagai pengalaman pertama negara kita ini mencicipi terjun sebagai finalis Piala Dunia.

Selebihnya, dua kaitan sisanya oleh Eduardo Galeano Indonesia hanya menjadi latar belakang peristiwa besar dunia terkait masa kenaikan rezim tiran Soeharto dan Orde Barunya (Piala Dunia 1966 di Inggris) dan sekaligus masa keruntuhannya (Piala Dunia 1998 (Perancis).

Dan hari ini, setelah 72 tahun Piala Dunia 1938 di Perancis itu, mengapa sepakbola Indonesia tidak pernah mampu lagi berbicara di tingkat dunia ? Freek Colombijn, antropolog lulusan Leiden, mantan pemain Harlemsche Football Club Belanda, mengungkap bahwa posisi sepak bola Indonesia dalam percaturan dunia kini berada dalam posisi periferi, pinggiran.

Dalam artikel "View from the Periphery : Football in Indonesia" dalam buku Garry Armstrong dan Richard Giulianotti (ed.), Football Cultures and Identities (1999), ia menggarisbawahi keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia sebagai akibat masih meruyaknya budaya kekerasan di teater sepak bola kita dan belum kokohnya budaya demokrasi di negeri ini.

Seolah memberi garis bawah realitas itu, seorang Emil Salim baru-baru ini menyebutkan bahwa demokrasi di Indonesia ibarat anak-anak yang masih berusia 2-3 tahun.

bambang haryanto,solopos 10 juni 2010,piala dunia 1938,korupsi,suporter 2.0


Teater sepak bola kita, seperti halnya sendi-sendi kehidupan bangsa ini di pelbagai sektor lainnya, makin diperunyam oleh budaya korupsi yang menggurita. “Indonesia adalah Brazilnya Asia. Pesepakbola Indonesia bermain dengan intelejensia dan bakat unik yang tidak ada duanya di dunia. Bakat-bakat mereka lebih baik dibanding pemain Korea atau Jepang. Pada era 50 dan 60-an, tim-tim Asia jangan bermimpi mampu menaklukkan tim Asia Tenggara.”

Itulah kenangan Sekjen Asian Football Confederation (AFC), Peter Velappan, di Asiaweek (5/6/1998) menjelang Piala Dunia 1998.

Tetapi di mana kini Indonesia dalam percaturan sepakbola Asia Tenggara ? Tidak membangggakan. Apalagi di Asia, dan tingkat dunia. Sepakbola kita hanya mampu memiliki masa lalu. Dalam artikel itu tersaji gambar pemain Indonesia Rocky Putiray, dengan teks berbunyi : “Pemain Indonesia seperti Peri Shandria yang sedang melompat itu memiliki bakat, tetapi pertandingan seringkali sudah diatur skornya.”

Peter Velappan kemudian melanjutkan bahwa asal-muasal keterpurukan prestasi Indonesia itu bersumber akibat “organisasi persepakbolaannya yang amburadul dan tidak mampu membersihkan borok korupsi yang ada,” sebagaimana keterpurukan prestasi sepak bola di Asia Tenggara selama berpuluh-puluh tahun terakhir ini pula.

Dalam belitan meruyaknya budaya korupsi itu maka sepakbola Indonesia merupakan teater sepakbola penuh rekayasa. Peraturan begitu mudah berganti-ganti, tetapi pada ujungnya hanyalah jeblognya prestasi demi prestasi timnas kita di pertandingan internasional.

Penghamburan uang negara dengan mengirim mereka berlatih ke luar negeri, misalnya ke Belanda, Argentina dan kini ke Uruguay, tidak lain hanyalah tipuan kehumasan untuk memoles citra. Trik semacam ini sudah berlangsung sejak jaman Primavera di era 1980-an dan semuanya berbuah kegagalan.

Kegairahan bangsa Indonesia terhadap sepak bola telah dibajak oleh elite dalam tubuh PSSI untuk kepentingan bisnis rejim mereka sendiri. Bos PSSI, Nurdin Halid pernah bilang dengan bangga bahwa kompetisi di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, baik dalam jumlah klub mau pun luas wilayahnya. Tetapi potensi besar itu selalu saja menjadi mandul ketika timnas kita atau klub-klub kita bertanding melawan tim di kawasan Asia Tenggara dan Asia.

Solusi di masa depan untuk mengatasi jeblognya prestasi sepakbola kita mungkin justru berada di tangan lembaga yang kini sedang mengalami gonjang-ganjing : Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kita harapkan lembaga ini, setelah pelbagai badai yang menerpanya lewat, akan membuatnya sosoknya semakin kokoh dan berwibawa. Setelah pelbagai kasus besar yang urgen bisa selesai, kita harapkan KPK akan hadir membongkar gurita-gurita korupsi dalam tubuh persepakbolaan nasional kita.

Sebagai suporter, saya imbau agar organisasi-organisasi suporter sepakbola Indonesia ikut bangkit sebagai kekuatan positif, dengan mulai mengasah diri untuk menjadi sosok Suporter 2.0.

Dapat diibaratkan bahwa Suporter 1.0. mewakili era suporter yang kreatif dan atraktif seperti digelorakan antara lain oleh Pasoepati di tahun 2000, maka Suporter 2.0. harus memanfaatkan kedahsyatan media-media sosial di Internet sebagai sarana aktualisasi kiprah positif mereka.

Termasuk pula menjadi anjing penjaga, watch dog, yang secara kritis mencatat dan melaporkan jalannya roda manajemen klub yang ia dukung untuk diangkat sebagai wacana publik demi terselenggaranya proses check and balances dalam meraih kebaikan dan kesuksesan bersama.

Selamat menikmati Piala Dunia 2010. Sekaligus mari kita banyak belajar dari negerinya Nelson Mandela ini ! [Artikel ini dengan judul “Piala dunia dan Budaya Korupsi Kita,” dimuat di harian Solopos, Kamis, 10 Juni 2010].



Wonogiri, 10/6/2010

Labels: , , , , , , , , , , ,

Sunday, June 06, 2010 

Esquire, Yahoo ! dan Piala Dunia 2010




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Mestakung. Semesta mendukung.
Anda kenal istilah ini ?

Istilah ini dipopulerkan oleh Yohanes Surya, ilmuwan Indonesia yang banyak menelorkan anak-anak muda Indonesia berprestasi menggetarkan dalam lomba-lomba sains di tingkat dunia. Bahkan ia pula mencita-citakan lahirnya pemenang-pemenang Nobel dari Indonesia.

"Kalau kita bercita-cita tinggi," begitu kurang lebihnya beliau selalu berkata, "maka kekuatan dahsyat alam semesta ini akan mendukung keberhasilan kita."

Saya lalu ingat kata-kata serupa dari George Bernard Shaw. Atau Goethe ? Juga Paulo Coelho. Dan kalau Anda rada jeli dalam membaca pelbagai buku-buku motivasi di Indonesia, yang sering dipompa dengan embel-embel sebagai buku-buku laris, variasi dari kredo Pak Surya itu bertebaran dan berdengung di mana-mana.

Ajaibnya, menjelang Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, saya agak-agak GR karena juga ikut kecipratan kesaktian dari kredo inspiratif itu.

Esquire Mewawancara. Mungkin semuanya ini hanya kebetulan. Diawali dengan sekadar niat untuk menghangatkan diri menjelang Piala Dunia 2010, saya memperbarui tampilan foto di akun Facebook saya.

Foto lama saya, yang dijepret Oktober 2009 di Wonogiri, digantikan dengan foto baru yang dijepret di Bogor lebih lama lagi tahunnya, 2002. Begitulah : lama yang baru digantikan dengan yang baru tetapi lama.

Kemudian pada wall pada tanggal 28 April 2010 itu saya tuliskan : "Ziarah teragung suporter sepakbola sejagat adalah saat berlangsungnya Piala Dunia. Merujuk momen ritual sepanjang Juni 2010 nanti, saya mengganti foto diri di Facebook ini dengan foto saat berkostum sebagai suporter sepakbola.

Sekadar cerita, saya tercatat di MURI sebagai pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli (2000). Foto ini diambil bulan April 2002 saat membawa trofi sebagai pemenang Honda The Power of Dreams Contest 2002."

Satu-dua hari sesudah pembaruan foto dan misi itu, mestakung pun rupanya terjadi. Saya memperoleh telepon tak terduga. Dari Syarif yang mengatakan dirinya wartawan majalah Esquire Indonesia. Langsung saya katakan, "majalah Anda ini, yang versi aslinya terbitan Amerika Serikat, salah satu majalah favorit saya."

Majalah Esquire adalah majalah pria kelas atas. Terbit pertama kali tahun 1932. Slogannya : Man At His Best. Salah satu artikelnya yang membekas adalah bahasan tentang Sindrom Peter Pan. Artikel panjang lebar itu mengupas sisi-sisi kelam dan problem psikologis lelaki yang tidak mau tumbuh dewasa sebagaimana tokoh fiksi Peter Pan. Sayang, fotokopi artikel itu terselip entah di mana kini.

Syukurlah artikel Tad Friend, "Sitcom, Seriously" (Maret 1993) yang saya fotokopi di perpustakaan American Cultural Center Jakarta (1/4/1993), masih utuh. Tulisan komprehensif ini masih sering saya buka-buka bila menemui sitkom-sitkom gombal, yang digarap tanpa bekal pendekatan intelektual, bersliweran di layar televisi kita.

Wawancara via telepon Jakarta-Wonogiri itu, apa lagi kalau bukan membedah fenomena maraknya tindak anarkis pada sosok suporter sepak bola Indonesia. Suporter dan kekerasan. Kekerasan dan suporter. Dua muka dari keping mata uang yang tidak bisa diubah ?

Jawaban saya untuk masalah itu tetap saja klise.

Gerombolan selalu memicu anonimitas. Gerombolan adalah "an angry group with many hands but no brains. " Mereka merupakan sekelompok orang yang marah, memiliki banyak tangan tetapi sama sekali tidak memiliki otak. Fenomena ini berlaku untuk siapa saja, termasuk para ulama.

Jawaban klise saya lainnya adalah, pendekatan hukum yang tanggung oleh aparat terhadap para pelaku tindak kekerasan berbaju suporter itu tidak membuat efek jera yang efektif.

Contoh lama : Beri Mardias, suporter PSP Padang asal Jatiwaringin, telah tewas dikeroyok suporter Persija (2/2/2002), di Senayan. Atau suporter Persija, Fathul Mulyadin (6/2/08) yang tewas dikeroyok suporter Persipura. Juga terjadi di Senayan.

Tak pernah ada kabar polisi melakukan pengusutan apalagi mengajukan pelakunya ke meja hijau. Terlebih lagi, sobatku sesama suporter sepak bola Indonesia, masihkah kita mengingat mereka itu sebagai manusia ?

Contoh terbaru. Di koran Jawapos, terbaca surat pembaca yang menceritakan teror suporter Aremania ketika berkonvoi merayakan prestasi Arema sebagai juara Liga Super Indonesia. Mereka itu dikeluhkan karena menggedor-gedor mobil yang kebetulan memakai plat polisi L yang ditemui di jalan, walau penumpangnya adalah warga Malang pula. Di dalamnya terdapat anak kecil yang menjerit-jerit ketakutan. Betapa dalam trauma yang akan membekas pada dirinya. Mungkin seumur hidup.

Koran itu lalu menyebut sebagai fihak Aremania yang memberikan jawaban bahwa "aksi itu dilakukan oleh oknum yang ingin mencemarkan nama baik Aremania."

Dirangkul Yahoo ! Usai berurusan dengan Esquire Indonesia, sambil tidak tahu kapan tulisan tentang suporter itu akan diterbitkan walau Syarif berjanji akan mengirimkan majalahnya, angin berkah fenomena mestakung rupanya berlanjut. Kali ini berupa email (4/5/2010) tak terduga dari Ali Zaenal Abidin. Pribadi yang belum saya kenal sebelumnya. Petikan emailnya :

"Halo Bambang. Dari Havas PR, saya mengirim email ini atas nama klien kami, Yahoo! Kami lihat artikel - artikel pada situs Anda sangat menarik dan banyak dikunjungi penggemar sepak bola di Indonesia di mana saya yakin Anda dan pengunjung situs Anda akan tertarik dengan apa yang Yahoo! rencanakan.

Setelah 4 tahun menunggu, Afrika Selatan sudah semakin dekat dan kami ingin menginformasikan sesuatu yang sangat menarik dari Yahoo! di mana Anda juga dapat terlibat di dalamnya.

Beberapa minggu lagi, Yahoo! akan memulai kampanye global dengan acara-acara yang akan diadakan di kota-kota berikut : London, Madrid, Milan, Berlin, Paris, Sao Paulo, Jakarta, dan Seoul. Acara - acara ini akan diadakan di lokasi populer di masing-masing kota bersama penjaga gawang - penjaga gawang masa lalu dan masa kini, untuk memainkan adu penalti dengan anggota media dan publik.

Yahoo! juga menawarkan para sepak bola mania kesempatan untuk ikut serta dalam permainan adu penalti online secara global, di mana pemenang yang dapat memimpin klasemen permainan ini akan ikut serta dalam tendangan penalti sekali seumur hidup melawan penjaga gawang kelas dunia untuk memenangkan Yahoo! Ultimate Sports Pass - memenangkan akses untuk 16 acara olah raga akbar selama 4 tahun ke depan, diakhiri di Brazil tahun 2014.

Meskipun sementara ini kami belum dapat mengumumkan detil acara ini, kami ingin mengetahui apakah Anda tertarik untuk mempromosikan info ini kepada pembaca Anda.

Saya masih memiliki banyak informasi mengenai peluncuran acara ini dalam waktu dekat, tapi semoga informasi yang Anda dapatkan saat ini sudah cukup menarik untuk menjelaskan apa yang akan kita lakukan pada bulan Mei ini.

Tentunya Anda sekarang Anda memiliki banyak pertanyaan yang ingin Anda tanyakan, karenanya jangan ragu untuk menghubungi dan sampaikan pertanyaan- pertanyaan Anda mengenai apa yang sudah kami persiapkan untuk beberapa minggu dan bulan ke depan. "

Terima kasih, Ali Zaenal Abidin.

Dengan sedikit gliyeran, sempoyongan akibat kepala rada-rada membengkak karena bangga, mirip petinju kena punch drunk, saya menjawab : bersedia. Dengan syarat, kalau kegiatan itu disponsori oleh pabrik rokok akan saya tolak. Kembali Ali Zaenal Abidin di email yang saya baca 5 Mei 2010 bercerita :

"Mengenai situs Indonesia yang bekerja sama dengan kami, kami bekerja sama dengan situs - situs yang memfokuskan situs mereka dengan sepak bola. Karena itulah kami melihat situs Anda sebagai situs yang tidak hanya berisi mengenai artikel-artikel sepak bola, tapi juga memiliki banyak pengunjung. Terima kasih, dan dalam waktu dekat ini kami akan mengirimkan info lebih rinci mengenai acara ini."

Musim mabuk sepak bola. Saya pun hanya bisa menunggu. Hingga pada awal Juni 2010 ini saya membaca-baca berita di surat kabar, bacanya di Perpustakaan Umum Wonogiri, tentang kedatangan mantan kiper Arsenal dan Inggris, David Seaman, ke Jakarta.

Dalam foto ia nampak beraksi mengadang tendangan penalti, dengan memakai kaos kuning bertuliskan logo Yahoo ! Apakah acara David Seaman itu yang dimaksud oleh Ali Zaenal Abidin di atas ? Saya tidak tahu. Yang pasti, sejak email 5 Mei 2010 itu saya tidak memperoleh kabar lanjut dari dirinya. OK. Mungkin saya akan dapat kabar baru darinya lagi, menjelang Piala Dunia di Brazil tahun 2014 nanti.

Selain kabar tentang David Seaman, di perpustakaan kota saya itu juga memergoki majalah Intisari edisi Mei dan Juni 2010. Nampaknya juga ikut-ikutan terjun dalam musim mabuk sepak bola. Edisi Mei 2010 memajang artikel "Noda-noda sepak bola" oleh Seno Gumira Ajidarma.

Ia antara lain mengaduk isi buku-bukunya Franklin Foer, How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization (2004), karya Simon Kuper yang Football Against the Enemy (1994), dan juga karya Alex Bellos, Futebol : The Brazilian Way of Life (2002).

Ketika menatap judul paragraf "Korupsi di Negeri Bola" dari artikel itu, saya sudah titip harapan Seno Gumira Ajidarma akan mengupas fenomena korupsi di tubuh sepak bola tanah air. Karena, menurut saya, memblenya prestasi sepak bola kita sejak puluhan tahun terakhir ini, ya akibat menyeruaknya budaya korupsi itu.

Bukankah malah bos PSSI, Nurdin Halid, pernah pula mendekam di penjara akibat kasus korupsi jua ? Saya harus kecewa, karena ia malah membedah selintas korupsi yang terjadi di Brazil sana.

Di halaman lain Intisari edisi Mei 2010 itu Anda dapat menemukan tulisan tentang suporter sepak bola Indonesia. Berjudul, "Penonton Anonim Cenderung Nekat," goresan pena Ira Lathief, kontributor Intisari. Ira ini, kebetulan adalah kenalan maya saya.

Ira yang memiliki blog dengan slogan " think globally, laugh locally" telah pula berkenan menulis endorsement yang inspiratif dan insinuatif untuk buku saya, Komedikus Erektus.

Buku ketiga saya itu, yang oleh wartawan senior Kompas Budiarto Shambazy dikomentari sebagai buku yang berisi "satir politik jenis baru yang segar, mencerahkan dan cerdas yang sudah lama diakrabi masyarakat Barat," kini dalam perampungan akhir oleh Faried Wijdan dan kawan-kawan di Etera Imania dan menunggu diluncurkan.

Sajian Intisari itu ikut menandai musim mabuk sepak bola yang kini terasa kental mewarnai media massa cetak di tanah air. Koran lokal Solopos misalnya, meluncurkan lembaran khusus yang isinya tentang Piala Dunia 2010. Hanya gelontoran berita dan berita semata. Ibaratnya tinggal menerjemahkan isi dari situs Piala Dunia 2010 dari FIFA dan kantor berita lainnya.

Tak ada semacam sentuhan kreativitas, misalnya mengaitkan mabuk Piala Dunia 2010 itu dengan isu-isu lokal yang relevan. Tak ada kolumnis-kolumnis lokal yang bisa ditampilkan. Juga belum tersedia kolom untuk menfasilitasi kiprah user generated content, di mana para penggila bola lokal dapat riuh-rendah bertukar komentar atau opini. Koran-koran lainnya, misalnya Suara Merdeka, pendekatannya juga kurang lebih sama.

Penumpang istimewa. Kembali ke isi majalah Intisari, tetapi kali ini merujuk ke edisi Juni 2010. Pada halaman 80 terdapat tulisan sehalaman berjudul "Penumpang Berbadan Sehat," oleh Irawan Agung Hidayat, dari Bekasi.

Ia bercerita mengenai penumpang pesawat terbang yang sering terpilih untuk duduk di dekat pintu darurat. Katanya, pilihan itu menandakan sang penumpang bersangkutan sebagai sosok istimewa. Apalagi ruang tempat duduk satu itu lebih longgar, kaki bisa berselonjor, dan si penumpang bersangkutan diam-diam di daulat sebagai "penumpang yang sehat dan fit."

Istilahnya dalam bahasa Inggris : able-bodied passenger. Artinya : bila keadaan darurat tiba-tiba terjadi dalam penerbangan itu, maka sang penumpang istimewa tersebut dinilai mampu bertindak cekatan untuk ikut menyelamatkan jiwa penumpang lainnya.

Tulisan itu membuat saya senyum-senyum.
Bernostalgia.

Tanggal 16 Januari 2005, bersama Mayor Haristanto, dan sama-sama berkostum suporter sepak bola Indonesia, kami berdua terbang menuju Singapura. Untuk mendukung Bambang Pamungkas dkk pada leg kedua final Piala Tiger 2004/2005. Begitu memasuki pesawat, di belakang tiba-tiba sudah terdengar semacam seruan : "Soccer boys ! "Soccer boys !"

Saya menoleh ke arah sumber seruan itu.
Segera kami bertukar senyum. Ada dua orang anak muda.

"Excuse me, guys. Are you Singaporean fans ?," tegurku.
"Yeah !," katanya dengan tatapan ramah.
"OK. See you tonight. Kallang Stadium. Good luck !"

Sayang mereka duduknya di belakang. Di tengah penerbangan saya menengok, mereka malah sedang tertidur. Tetapi kami sempat saling melambai ketika usai mengambil bagasi masing-masing dari ban berjalan. Salah satu bekal kami adalah spanduk ukuran 2 m x 12 meter bertuliskan : "Bangkit Indonesia !"

"There are only two emotions in a plane : boredom and terror."

Itulah kata Orson Welles (1915-1985), aktor dan sutradara film Amerika Serikat. Rasa bosan dan teror merupakan emosi yang menyeruak ketika kita berada dalam penerbangan. Untuk mengusir rasa bosan, sementara di seberang saya nampak sosok lelaki membuka-buka laptopnya, saya pun memutuskan membaca-baca majalah. Lalu tertarik melirik-lirik keterangan yang tertulis di dinding pesawat.

Ada tulisan yang menarik di situ.

Gumam saya kini : "Kalau dalam psike masyarakat sosok suporter identik gerombolan tukang teror dan suka bertindak anarkis, dalam penerbangan yang lalu itu kami sebagai suporter sepak bola Indonesia ternyata mendapatkan pulung kehormatan.

Sebagai able-bodied passenger.
Tempat duduk kami berada paling dekat pintu darurat.
Mungkin ini terjadi semata karena kebetulan belaka.
Atau juga fenomena mestakung ?"

Selamat menyongsong laga akbar Piala Dunia 2010, sobat !


Wonogiri, 6 Juni 2010

["Selamat ulang tahun, semoga berbahagia, sehat-sehat selalu dan panjang umur untuk Krisandari Yuningrum."]

si

Labels: , , , , , , , , , , , ,

"All that I know most surely about morality and obligations I owe to football"



(Albert Camus, 1913-1960)

Salam Kenal Dari Saya


Image hosted by Photobucket.com

Bambang Haryanto



("A lone wolf who loves to blog, to dream and to joke about his imperfect life")

Genre Baru Humor Indonesia

Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau, Buku humor politik karya Bambang Haryanto, terbit 2012. Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau! Pengarang : Bambang Haryanto. Format : 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-97648-6-4. Jumlah halaman : 219. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : Februari 2012. Kategori : Humor Politik.

Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau ! Format: 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-96413-7-0. Halaman: xxxii + 205. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : 24 November 2010. Kategori : Humor Politik.

Komentar Dari Pasar

  • “HAHAHA…bukumu apik tenan, mas. Oia, bukumu tak beli 8 buat gift pembicara dan doorprize :-D.” (Widiaji Indonesia, Yogyakarta, 3 Desember 2010 : 21.13.48).
  • “Mas, buku Komedikus Erektus mas Bambang ternyata dijual di TB Gramedia Bogor dgn Rp. 39.000. Saya tahu sekarang saat ngantar Gladys beli buku di Bogor. Salam. Happy. “ (Broto Happy W, Bogor : Kamis, 23/12/2010 : 16.59.35).
  • "Mas BH, klo isu yg baik tak kan mengalahkan isu jahat/korupsi spt Gayus yg dpt hadiah menginap gratis 20 th di htl prodeo.Smg Komedikus Erektus laris manis. Spt yg di Gramedia Pondok Indah Jaksel......banyak yg ngintip isinya (terlihat dari bungkus plastiknya yg mengelupas lebih dari 5 buku). Catatan dibuat 22-12-10." (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :21.30.05-via Facebook).
  • “Semoga otakku sesuai standar Sarlito agar segera tertawa ! “ (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.50.05).
  • “Siang ini aku mau beli buku utk kado istri yg ber-Hari Ibu, eh ketemu buku Bambang Haryanto Dagelan Rep Kacau Balau, tp baru baca hlm 203, sukses utk Anda ! (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.22.28).
  • “Buku Komedikus Erektusnya sdh aku terima. Keren, mantabz, smg sukses…Insya Allah, suatu saat kita bisa bersama lg di karya yang lain.” (Harris Cinnamon, Jakarta : 15 Desember 2010 : 20.26.46).
  • “Pak Bambang. Saya sudah baca bukunya: luar biasa sekali !!! Saya tidak bisa bayangkan bagaimana kelanjutannya kalau masuk ke camp humor saya ? “ (Danny Septriadi,kolektor buku humor dan kartun manca negara, Jakarta, 11 Desember 2010, 09.25, via email).
  • “Mas, walau sdh tahu berita dari email, hari ini aq beli & baca buku Komedikus Erektus d Gramedia Solo. Selamat, mas ! Turut bangga, smoga ketularan nulis buku. Thx”. (Basnendar Heriprilosadoso, Solo, 9 Desember 2010 : 15.28.41).
  • Terima Kasih Untuk Atensi Anda

    Powered by Blogger
    and Blogger Templates