« Home | KRL HANTU BOGOR-JAKARTA DAN SUPORTER SEPAKBOLA IND... » | PERSIB-O-HOLIC, ALCOHOLIC, EPISTOHOLIK, SPORTIVOHO... » | BERAPA TAHUN USIA E-MAIL ANDA ? CERITA JADI SUPORT... » | TIROS A PUERTA (Keuntungan Kecil Dari Sikap Jahil... » | Diskusi dengan warga ASSI : Suporter dan Sepakbol... » | SEPAKBOLA ITU DAMAI, DENDAM ADALAH KERDIL cerita s... » | BOBOTOH, APA JADI BERANGKAT KE SOLO DALAM BABAK PA... » | Wonogiri, 15 Agustus 2003 Kepada Yth. Bapak Di... » | PROPOSAL BUKU HARI-HARI SEPAKBOLA INDONESIA MATI ... » | DAFTAR ISI BUKU HARI-HARI SEPAKBOLA INDONESIA MATI... » 

Wednesday, December 24, 2003 

KISAH DUA KOTA ATAU SERIBU KOTA ?
(Judul pertama pinjam dari Charles Dickens dan yang kedua dari Didi Kempot)
TENTANG SUPORTER INDONESIA



Anda kenal Dimas Aditya Firmansyah ?
Anda sebagai suporter sepakbola Indonesia, sebaiknya mencatat nama dan peristiwa yang menimpa dirinya. Itu saja dulu. Cerita ini pun masih berkait dengan cerita lalu saya mengenai dunia kereta api dan dunia suporter sepakbola Indonesia.

Kaitan ini makin mencuat ketika sobat saya Agus Gigi Yulianto di postingnya di milis ASSI, saat menanggapi posting saya tanggal 17/12/2003 (KRL Hantu Bogor-Jakarta). Dirinya mengajukan pertanyaan kritis yang bagus. Ia menanyakan apa benang merahnya antara interaksi suporter, dunia kereta api dan bonek yang menjadi inti ceritaku berjudul KRL Hantu Bogor-Jakarta yang lalu itu ?

Makasih Gigi, untuk atensi dan pertanyaan kritismu yang mencerahkan ini. Pertanyaan kritis Gigi itu diposkan tanggal 19/12/2003. Esoknya (20/12) di Perpustakaan Wonogiri, ketika saya membuka-buka Harian Solopos (19/12/2003), yang mengutip sumbernya dari Kantor Berita Antara, rupanya saya telah mendapatkan bahan jawaban. Koran lokal Solo itu selain membahas acara pertemuan SIWO PWI Jawa Timur, Pemda dan Persebaya dalam membahas suporter Persebaya, juga memberikan benang merah, bahkan darah merah, atas pertanyaan Gigi di atas.

Eureka !

Mungkinkah ini mukjijat ? Ketika dunia langsung menyediakan jawab. Jawaban untuk Gigi. Mungkin juga untuk Anda, milister ASSI lainnya. Yang pasti Gigi, benang merah yang masih samar-samar dalam ceritaku yang kau tanyakan itu rupanya harus diperjelas dengan cerita sedih, cerita tragis dan sekaligus kronis menyangkut perangai suporter sepak bola Indonesia.

Dimas Aditya Firmansyah tewas di Cirebon, 13 Desember 2003 yang lalu.
Meninggal pada usia 15 tahun.

Dimas mengalami kecelakan kereta api ketika ia dan kawan-kawannya sedang berangkat menuju Jakarta untuk menjadi suporter tim kesayangannya berlaga di final Piala Emas Bang Yos I/2003.

Dimas berasal dari Surabaya.
Dimas suporter Persebaya
Dimas warga Bonekmania !

Adik Dimas, selamat jalan untuk menemui Tuhan.
Kami mendoakan semoga kau diterima di sisiNya, sebaik-baiknya.
Semoga keluarga yang kau tinggalkan, dikaruniai Tuhan dengan ketabahan.

***

Musibah sedih tewasnya Dimas di atas, entah kenapa, justru tidak (mungkin saya tidak tahu atau terlewatkan ?) dimuat dalam surat kabar Surabaya. Padahal, dalam harian Jawapos (19/12) itu termuat berita mengenai rencana penyelenggaraan acara diskusi bertopik “Menuju Suporter Yang Tertib dan Simpatik” di Surabaya (19/12). Penyelenggaranya SIWO PWI Cabang Jawa Timur dan Persebaya. Akan tampil sebagai pembicara Walikota bBambang DH, Kapowiltabes Surabaya, Manajer Persebaya Saleh Ismail Mukadar dan Anwar Hudiyono, Pemred Harian Surya.

Di saat menjelang kompetisi LI 2004 bergulir, acara di atas yang menyangkut upaya perbaikan perangai sampai citra suporter sepakbola Indonesia umumnya, Bonek Surabaya khususnya, patutlah disyukuri. Semoga hal-hal positif dari Surabaya itu nantinya mampu menular, tidak hanya menyebar ke dua kota tetapi sampai lebih dari seribu kota di tanah air kita.

Yang menarik, di koran yang sama dimuat sebuah gagasan menarik dalam rangka memperbaiki perilaku dan citra Bonek Surabaya. Saya sebagai seorang epistoholik (pencandu menulis surat-surat pembaca ke pelbagai media massa), menemui gagasan di atas dari kolom surat pembaca, rubriknya disebut “Gagasan” dalam koran Jawapos (19/12/2003).

Penulisnya Ari Budi S. (Gading Fajar A 2-46, Buduran, Sidoarjo 61252), mengusulkan agar suporter Persebaya itu dibuatkan kartu keanggotaan khusus. Bekerjasama dengan fihak bank, sehingga kartu anggota itu sekaligus pula sebagai ATM. Secara lebih detil, selain diminta membayar, para calon anggota itu diseyogyakan menyertakan surat bersih diri pula ketika menyodorkan aplikasinya.

Gagasan yang hebat. Bagaimana pendapat Anda ? Apakah Anda langsung merasa gatal untuk menvonis sebagai hal yang tidak mungkin ? Radio BBC (21/12/2003) menceritakan pertaruhan perusahaan film kecil New Line Cinema, juga sutradara Peter Jackson, dalam menggarap novelya JRR Tolkien, The Lord of the Rings. Sebab ketika gagasan untuk menfilmkan novel ini, dalam bentuk 3 film sekuel yang digarap sekaligus, banyak major studio (perusahaan film besar) memberikan reaksi yang tipikal :

“Ini tidak mungkin “
“Ini gila-gilaan !”
“Anda semua akan mampus !”

Sebagai seseorang yang getol sebagai ideabreeder, penangkar gagasan, saya menyukai ajaran pakar kreativitas Roger von Oech (bukunya, “A Whack On The Side Of The Head : How to Unlock Your Mind for Innovation”) yang menyarankan agar kita tak cepat-cepat menghakimi sesuatu gagasan. Sebab gagasan itu ibarat sebutir telur, sangat ringkih dan mudah pecah. Ia harus diperlakukan secara hati-hati. Dengan selalu memberinya kehangatan, mengeraminya, maka dari telur yang lemah itu akan hadir makhluk hidup yang baru. Kembali ke New Line Cinema dan Peter Jackson, perjudian dan keberanian mereka menantang resiko berbuah manis yang menggemparkan : sekuel film The Lord of The Rings meledak di dunia !

Sobat-sobat, itulah laporan saya ihwal suporter sepakbola yang pertama. Berupa cerita sedih dan cerita gembira, dari Surabaya. Itu kisah dari kota pertama. Kisah dari kota keduanya, adalah bersumber dari Semarang. Dari koran Radar Solo (19/12/2003) diwartakan bahwa kelompok suporter PSIS, Panser Biru, telah bertemu dengan Komisi E DPRD Kota Semarang.

Dalam acara silaturahmi itu, Andi Putra Alam yang Ketua Panser Biru, mengajukan permintaan agar Panser Biru memperoleh dana dari APBD. Besarnya untuk tahun 2004, sebesar Rp. 250 juta. Andi Putra Alam, entah dari sumber mana, mengajukan alasan yang melandasi permintaannya itu dengan merujuk bahwa Pasoepati dan Slemania juga mendapat beaya dari APBD kota setempat.

Presiden Pasoepati, Satryo Hadinegoro, ketika ditanyakan komentarnya mengenai hal di atas, ia tertawa. “Itu berita bagus. Tetapi berita bahwa Pasoepati mendapat dana APBD itu salah besar !”. Well, hallo Benny Hendityas atau Mas Pei, apakah Slemania benar telah mendapat dukungan APBD dari Pemkot Kota Sembada Anda ?


Berita agak terlambat saya laporkan, muncul dari Pasoepati.
Dari Harian Solopos (8/12/2003), dengan kepala berita “Pasoepati Ingin Kembali ke Khitah”, diungkapkan bahwa dalam acara Halal Bihalal Pasoepati dicetuskan keinginan Pasoepati ingin mengembalikan jati dirinya ke kelompok suporter yang tidak mengutamakan bisnis (profit-oriented). Pasoepati ingin menjadi kelompok suporter yang peduli pada perkembangan olahraga di Solo dan sekitarnya. Pasoepati ingin kembali ke khitah sebagai barisan suporter sejati.

Iqbal dari Semanggi (HP 08121525xxx) dalam kolom Solopos menulis : Ayo para simpatisan Pasoepati lama, kita rapatkan barisan untuk kembali ke khittah sebagai supporter. Kami rindu gegap gempita Pasoepati seperti waktu mendukung Pelita Solo !


Demikianlah, rupanya pada saat menjelang akhir tahun 2003 ini di tiga kota, Surabaya, Semarang dan Solo, tertabur peristiwa dan gagasan mengenai masa depan suporter sepakbola Indonesia. Semangat kembali ke khittah di Solo itu akan kita tunggu : kembali ke khittah seratus persen, 50 persen atau malah khittah bohongan bin palsu, semuanya pantas ditunggu tak perlu pakai nafsu.

Apa pendapat Anda mengenai gagasan menarik dari Surabaya, Semarang dan Solo di atas ? Saya tunggu. Yang pasti : Selamat Hari Natal 2003 dan Selamat Tahun Baru 2004 untuk Anda semua.


Sobat Anda,

Bambang Haryanto
Penulis HARI-HARI SEPAKBOLA INDONESIA MATI
Wonogiri 22/12/2003

P.S. Hello Gigi, apa bisa artikel ini kau e-mailkan untuk milis Solomania ? Thanks.






"All that I know most surely about morality and obligations I owe to football"



(Albert Camus, 1913-1960)

Salam Kenal Dari Saya


Image hosted by Photobucket.com

Bambang Haryanto



("A lone wolf who loves to blog, to dream and to joke about his imperfect life")

Genre Baru Humor Indonesia

Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau, Buku humor politik karya Bambang Haryanto, terbit 2012. Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau! Pengarang : Bambang Haryanto. Format : 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-97648-6-4. Jumlah halaman : 219. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : Februari 2012. Kategori : Humor Politik.

Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau ! Format: 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-96413-7-0. Halaman: xxxii + 205. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : 24 November 2010. Kategori : Humor Politik.

Komentar Dari Pasar

  • “HAHAHA…bukumu apik tenan, mas. Oia, bukumu tak beli 8 buat gift pembicara dan doorprize :-D.” (Widiaji Indonesia, Yogyakarta, 3 Desember 2010 : 21.13.48).
  • “Mas, buku Komedikus Erektus mas Bambang ternyata dijual di TB Gramedia Bogor dgn Rp. 39.000. Saya tahu sekarang saat ngantar Gladys beli buku di Bogor. Salam. Happy. “ (Broto Happy W, Bogor : Kamis, 23/12/2010 : 16.59.35).
  • "Mas BH, klo isu yg baik tak kan mengalahkan isu jahat/korupsi spt Gayus yg dpt hadiah menginap gratis 20 th di htl prodeo.Smg Komedikus Erektus laris manis. Spt yg di Gramedia Pondok Indah Jaksel......banyak yg ngintip isinya (terlihat dari bungkus plastiknya yg mengelupas lebih dari 5 buku). Catatan dibuat 22-12-10." (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :21.30.05-via Facebook).
  • “Semoga otakku sesuai standar Sarlito agar segera tertawa ! “ (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.50.05).
  • “Siang ini aku mau beli buku utk kado istri yg ber-Hari Ibu, eh ketemu buku Bambang Haryanto Dagelan Rep Kacau Balau, tp baru baca hlm 203, sukses utk Anda ! (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.22.28).
  • “Buku Komedikus Erektusnya sdh aku terima. Keren, mantabz, smg sukses…Insya Allah, suatu saat kita bisa bersama lg di karya yang lain.” (Harris Cinnamon, Jakarta : 15 Desember 2010 : 20.26.46).
  • “Pak Bambang. Saya sudah baca bukunya: luar biasa sekali !!! Saya tidak bisa bayangkan bagaimana kelanjutannya kalau masuk ke camp humor saya ? “ (Danny Septriadi,kolektor buku humor dan kartun manca negara, Jakarta, 11 Desember 2010, 09.25, via email).
  • “Mas, walau sdh tahu berita dari email, hari ini aq beli & baca buku Komedikus Erektus d Gramedia Solo. Selamat, mas ! Turut bangga, smoga ketularan nulis buku. Thx”. (Basnendar Heriprilosadoso, Solo, 9 Desember 2010 : 15.28.41).
  • Terima Kasih Untuk Atensi Anda

    Powered by Blogger
    and Blogger Templates