« Home | Otak Reptil, Suporter Blogger dan Sepakbola Indone... » | Blogger Pemberontak, Pasukan Brody dan Media Olahr... » | Perempuan Sidney Sheldon dan Impian Suporter Sepak... » | Paradoks Teknologi, Splendid Entrepreneur Dan Guga... » | Reuni Piala Tiger 2005 dan Pasoepati di Stadion Ma... » | Reuni Piala Tiger 2005 dan Pasoepati di Stadion Ma... » | Reuni Piala Tiger 2005 dan Pasoepati di Stadion Ma... » | Useful Idiot Oleh : Bambang Haryanto Email : ... » | Indonesia dan Tiga Piala Dunia Oleh : Bambang Ha... » | Send Me An Angel, Mawar Bromley dan Mimpi Jerman J... » 

Thursday, May 10, 2007 

ASSI, Suporter Teroris dan Kepala Ikan Sepakbola Kita


Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



"I will truly miss these people," begitu desah sedih Yoon Eun-Jung (20), mahasiswi cantik Korea Selatan, ketika Piala Dunia Korea-Jepang 2002 berakhir. Ia pantas merindukan sesama teman-teman barunya, sesama relawan dan sesama suporter, juga suasana negeri Ginseng dan timnas sepakbolanya ketika menjadi perhatian dunia.

Sepanjang penyelenggaraan pesta akbar sepakbola sejagat itu Yoon Eun-Jung merelakan kuliahnya ia liburkan selama satu semester. Kemudian menempuh perjalanan 300 km dari Pusan ke Seoul semata untuk menjadi relawan bagi Red Devils, organisasi payung kelompok suporter timnas Korea Selatan.

Wartawan kantor berita Reuters Oh Jung-hwa, seperti dikutip dalam situs FIFAworldcup.com, menggambarkan bagaimana kelompok suporter yang semuanya berseragam merah itu menguasai sebagian besar blok stadion ketika Song Chong-gug dan kawan-kawan bertanding untuk “menyajikan koor, mengibarkan bendera dan melambai-lambaikan kertas bertuliskan pesan untuk mendukung timnya dan mengejek tim lawan.”

Bagi saya pribadi, Red Devils nampak agung ketika mereka kompak menyanyikan nomor Simfoni No. 9 dari Beethoven, Song of Joy. Pasoepati Solo telah menyanyikannnya sebelum Red Devils itu bernyanyi.

Sosok dan keteladanan dari Yoon Eun-Jung itu berkelebat di benak saya ketika mendapati fakta bahwa di bulan Juli 2007 mendatang Indonesia menjadi salah satu tuan rumah Piala Asia 2007. Apakah di Senayan akan ada kesibukan seperti halnya yang terjadi di markas Red Devils di Seoul, diriuhkan hadirnya relawan-relawan suporter seperti Yoon Eun-Jung dan kawan-kawan ?


ASSI Seumur Jagung. Sebagai seseorang yang tinggal di Wonogiri, kiranya saya boleh memimpikan hal indah di atas terjadi. Persis seperti halnya sekitar 5 tahun lalu saya telah memimpikan hadirnya organisasi payung suporter sepakbola Indonesia : ASSI, Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia.

Silakan membolak-balik kenangan milik Sigit Nugroho (wartawan BOLA), Mayor Haristanto (Presiden Pasoepati, kini Presiden Republik Aeng-Aeng), Rudi Permadi (Aremania, Departemen Komunikasi ASSI), Haryanto (Bonekmania, guru SMPnya Sherina), Gugun Gondrong (Jakmania), Ferry Indrasjarief (Jakmania, kini wakil manager Persija), Herru Joko (Viking Persib), Agus Rahmat, Eri Hendrian serta Leo Nandang Rukaran (Viking Jabotabek), Robert Manurung (mengaku-aku sebagai wakil Kampak Medan), Panji Kartiko (Pasoepati Jakarta, CORNEL), Ryan Ardhianto (Pasoepati Jakarta, CORNEL), dan beberapa teman pentolan kelompok suporter lainnya.

Untuk kemajuan dunia sepakbola dan suporter kita, sudah saatnya mereka menulis dan bicara, mengapa gagasan dan daya hidup ASSI itu hanya mampu bernapas sepanjang umur jagung ?

Nama-nama di atas mungkin bermanfaat bagi Anung Handoko (anoeng_7r@yahoo.com), warga Slemania, yang baru-baru saja ini (5/5/2007) berkirim email kepada saya. Ia yang lulusan Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM, pernah menulis skripsi tentang sepakbola terkait politik (“hmm, saya pengin memiliki skripsinya juga”), kembali ingin menulis tentang sepakbola.

Lebih lanjut Anung Handoko menulis, “saat ini saya sedang melakukan penelitian tentang multikulturalisme dan nantinya akan dibukukan oleh (penerbit) Kanisius. Kebetulan saya mengambil suporter sepakbola sebagai bahan kajian dengan melakukan studi pada Slemania. Dalam gambaran saya, nantinya saya juga akan membahas tentang fenomena munculnya suporter kreatif dan tentu saja membahas juga ASSI. Oleh karena itu kalau boleh saya minta bantuan, mungkin Mas Bambang bisa menceritakan soal terbentuknya ASSI, dari sejarah, latar belakang, tujuan dan lain-lainnya.“ Fenomena ASSI itu, bagi saya, mengingatkan saya akan kata mutiara dari Sam Rayburn bahwa “Sepakan seekor keledai dapat mudah merubuhkan sebuah gudang, tetapi membutuhkan seorang tukang kayu yang andal untuk membangunnya.”


Filosofi Kepala Ikan. Email dari Anung itu membuat saya repot. Karena ASSI bagi saya adalah subjek campuran yang melibatkan cinta dan benci. Sebagaimana halnya hati saya terhadap sepakbola Indonesia selama ini. Tetapi merujuk pengalaman bergelut dalam dunia suporter sepakbola, mengelola suporter kita itu memang kadang seperti menggembala sekumpulan kucing. Sangat sulit sekali mengatur mereka. Tiap kepala memiliki pikirannya sendiri-sendiri.

Tak ada pula pendekatan meritokratis yang mudah “laku” di sana. Karena maaf, sebagian besar suporter sepakbola kita seperti sering saya sebut adalah para gerombolan, kumpulan useful idiots, himpunan kaum teroris yang dilegalkan untuk berhimpun di stadion-stadion yang tidak pernah ditangkap atau dihukum ketika melakukan keonaran atau pun pelanggaran hukum lainnya.

Tetapi mengapa di Korea Selatan Red Devils bisa terorganisasi, bahkan menjadi semacam ikon budaya ketika tampil di perhelatan pesta Piala Dunia ? Kaum sosiolog atau cendekiawan lainnya, mungkin bisa menjawab. Termasuk menjawab rasa jengkel dan penasaran sobat “Doni” yang nasionalis (walau ia fans Manchester United) di kotak teriak (shout box) alias boks bengok di blog ini.

Silakan cermati, betapa ia telah mempertanyakan fenomena kelompok suporter Persija Jakarta, The Jakmania, selalu saja memakai kaos oranye juga ketika mendukung tim nasional Indonesia. Sobat Weshley Hutagalung (wartawan BOLA), beberapa tahun lalu, juga pernah menyinggung hal “aneh” seperti ini kepada saya. Katanya, “Di Inggris tak ada di antara kerumunan suporter tim The Three Lions memakai seragam suporter Chelsea !”

Menjawab keluhan “Doni” itu, saya hanya menguak kembali inti artikel saya di blog ini sebelumnya yang mengupas fenomena penggunaan jargon “republik” dalam komunitas suporter sepakbola kita. Sebagai seorang epistoholik membuat topik yang sama juga saya tulis di kolom surat pembaca Harian Kompas Jawa Tengah :


Republik Suporter Sepakbola
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah
Kamis, 21 Desember 2006


“Sepakbola merupakan salah satu aktivitas yang paling mampu mempersatukan umat manusia,” demikian pendapat Nelson Mandela. Di tengah mabuk dan demam Piala Dunia 2006 saat ini, tentulah pendapat pejuang kemanusiaan asal Afrika Selatan yang sering berpakaian batik itu tentu tak bisa dipungkiri kebenarannya.

Tetapi di Indonesia, muncul gambar lain. Setiap kali mengamati siaran langsung pertandingan sepakbola lokal melalui televisi, saya mencatat spanduk-spanduk suporter sepakbola yang “memproklamasikan” kelompok mereka dengan sebutan republik. Hitung saja berapa banyak “negara suporter” yang mendukung timnya di divisi utama, divisi satu dan dua, yang ada di negara kesatuan RI ini.

Memproklamasikan kelompok suporternya dengan sebutan semacam itu mungkin bermaksud sebagai lelucon. Tetapi mungkin juga tidak. Apalagi bila dikaitkan dengan militansi buta kelompok-kelompok suporter di Tanah Air selama ini, terutama fenomena tawuran antarmereka, yang selalu merambah fihak-fihak lain di luar stadion pertandingan. Baik sebagai pelaku kerusuhan atau pun sebagai korban. Betapa mengerikan bahwa tawuran antarmereka kini telah diberi label baru, ibaratnya sebagai perang antar negara !

Fenomena maraknya label republik suporter dan potensinya yang semakin memicu sengitnya perang antarmereka, mengingatkan saya akan tesisnya Nicholas Negroponte tentang negara bangsa. Menurutnya, negara bangsa itu ibarat kapur barus, dari benda padat yang segera tergerus habis menjadi gas. Timor Leste yang kecil itu saja kini terbelah menjadi dua.

Lalu, bagaimana Indonesia kita ? Terserah kita. Melalui sepakbola kita bisa meneladani ucapan Nelson Mandela atau melalui sepakbola pula bisa kita tanamkan embrio militansi sampai fanatisme buta sehingga mampu menjurus kepada terpecah-belahnya bangsa ini pula.

Selamat nonton Piala Dunia 2006 dan jangan lupa, untuk memikirkan masa depan bangsa dan negara tercinta ini pula.

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612


The fish always stinks from the head downwards. Pembusukan ikan selalu dimulai dari kepala dan baru lalu turun ke bawah. Demikian kata pepatah. Maju-mundurnya negeri ini, walau sesudah terjadi reshuffle pun, akan ditentukan dari atas, dari “kepala” alias dari Istana. Demikian pula maju-mundurnya persepakbolaan nasional kita akan ditentukan oleh “kabinet” baru Nurdin Halid dan PSSInya. Lalu siapakah yang memulai proses pembusukan perilaku suporter sepakbola kita ?

Silakan Anda menjawabnya.


Wonogiri, 10 Mei 2007


si

Links to this post

Create a Link

"All that I know most surely about morality and obligations I owe to football"



(Albert Camus, 1913-1960)

Salam Kenal Dari Saya


Image hosted by Photobucket.com

Bambang Haryanto



("A lone wolf who loves to blog, to dream and to joke about his imperfect life")

Genre Baru Humor Indonesia

Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau, Buku humor politik karya Bambang Haryanto, terbit 2012. Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau! Pengarang : Bambang Haryanto. Format : 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-97648-6-4. Jumlah halaman : 219. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : Februari 2012. Kategori : Humor Politik.

Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau ! Format: 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-96413-7-0. Halaman: xxxii + 205. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : 24 November 2010. Kategori : Humor Politik.

Komentar Dari Pasar

  • “HAHAHA…bukumu apik tenan, mas. Oia, bukumu tak beli 8 buat gift pembicara dan doorprize :-D.” (Widiaji Indonesia, Yogyakarta, 3 Desember 2010 : 21.13.48).
  • “Mas, buku Komedikus Erektus mas Bambang ternyata dijual di TB Gramedia Bogor dgn Rp. 39.000. Saya tahu sekarang saat ngantar Gladys beli buku di Bogor. Salam. Happy. “ (Broto Happy W, Bogor : Kamis, 23/12/2010 : 16.59.35).
  • "Mas BH, klo isu yg baik tak kan mengalahkan isu jahat/korupsi spt Gayus yg dpt hadiah menginap gratis 20 th di htl prodeo.Smg Komedikus Erektus laris manis. Spt yg di Gramedia Pondok Indah Jaksel......banyak yg ngintip isinya (terlihat dari bungkus plastiknya yg mengelupas lebih dari 5 buku). Catatan dibuat 22-12-10." (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :21.30.05-via Facebook).
  • “Semoga otakku sesuai standar Sarlito agar segera tertawa ! “ (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.50.05).
  • “Siang ini aku mau beli buku utk kado istri yg ber-Hari Ibu, eh ketemu buku Bambang Haryanto Dagelan Rep Kacau Balau, tp baru baca hlm 203, sukses utk Anda ! (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.22.28).
  • “Buku Komedikus Erektusnya sdh aku terima. Keren, mantabz, smg sukses…Insya Allah, suatu saat kita bisa bersama lg di karya yang lain.” (Harris Cinnamon, Jakarta : 15 Desember 2010 : 20.26.46).
  • “Pak Bambang. Saya sudah baca bukunya: luar biasa sekali !!! Saya tidak bisa bayangkan bagaimana kelanjutannya kalau masuk ke camp humor saya ? “ (Danny Septriadi,kolektor buku humor dan kartun manca negara, Jakarta, 11 Desember 2010, 09.25, via email).
  • “Mas, walau sdh tahu berita dari email, hari ini aq beli & baca buku Komedikus Erektus d Gramedia Solo. Selamat, mas ! Turut bangga, smoga ketularan nulis buku. Thx”. (Basnendar Heriprilosadoso, Solo, 9 Desember 2010 : 15.28.41).
  • Terima Kasih Untuk Atensi Anda

    Powered by Blogger
    and Blogger Templates