« Home | Useful Idiot Oleh : Bambang Haryanto Email : ... » | Indonesia dan Tiga Piala Dunia Oleh : Bambang Ha... » | Send Me An Angel, Mawar Bromley dan Mimpi Jerman J... » | Ronaldikinho Oleh : Bambang Haryanto Email : hum... » | Impian Kandas Di Highbury Dan Tujuh Mawar Mekar Di... » | Globalisasi dan Sepakbola Indonesia Oleh : Bamb... » | Budaya Jawa dan Kekerasan Sepakbola Oleh : Bamb... » | Barry Sihotang, Whistle Blower dan Sepakbola Indon... » | I Believe The Withe Magic Oleh : Bambang Harya... » | Go Where Love Goes dan Patah Hati Seorang Suporter... » 

Wednesday, November 08, 2006 

Reuni Piala Tiger 2005 dan Pasoepati di Stadion Manahan (1)


Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com




Footprint Ismed Sofyan.
Anda tahu, siapakah suporter sepakbola Indonesia yang memiliki koleksi cap kaki para pemain sepakbola terkemuka Indonesia ? Mayor Haristanto, pendiri kelompok suporter Pasoepati, Solo.

Ritus pengambilan cap kaki itu terjadi di tahun 2002. Ide awalnya adalah ketika kami mencari-cari atraksi unik yang layak untuk difilmkan, untuk menggambarkan hubungan unik dan erat antara suporter dengan tim yang didukungnya. Saya lalu ingat Walk of Fame di Hollywood sana. Lokasi ini sohor dijadikan lokasi syuting saat Julia Roberts menjadi pelacur untuk ketemu pria tampan superkaya Richard Gere dalam Pretty Woman (1990).

Dialog yang menarik dalam film ini adalah yang terjadi di gedung opera, saat seorang ibu tua bertanya kepada Julia Roberts sebagai Vivian Ward, “Did you like the opera, dear?” dan Vivian pun menjawab : “It was so good, I almost peed my pants!”

Tetapi yang mudah membekas adalah teriakan si Happy Man : “Welcome to Hollywood! What's your dream? Everybody comes here; this is Hollywood, land of dreams. Some dreams come true, some don't; but keep on dreamin' - this is Hollywood. Always time to dream, so keep on dreamin'.”

Tidak di Hollywood saja orang boleh memiliki impian. Tahun 2002, saya yang orang Wonogiri juga boleh melambungkan impian. Dengan mengikuti The Power of Dreams Contest 2002 yang diadakan Honda. Saya menulis esai berjudul, “The Power Of Dreams : Revolusi Mengubah Budaya Suporter Sepakbola Yang Destruktif Menjadi Penghibur Kolosal Yang Atraktif.”

Dalam kontes mengenai kedigdayaan impian itu saya menjual impian merevolusi perilaku suporter sepakbola kita yang destruktif dengan mengubahnya menjadi konser suporter yang menyajikan koor dan koreografi, sehingga menjadi atraksi menarik tersendiri dari totalitas pemanggungan teater sepakbola.

STOP PRESS SUPORTER INDONESIA : Teman-teman suporter Indonesia, dalam rangka menghadapi Piala Asia 2007 dan kita menjadi tuan rumah, atraksi dan kreativitas macam apa yang akan Anda “jual” kepada jutaan penggila bola di Asia ?

Kemenangan dalam kontes impian itu menjerumuskan saya ke “profesi” lain yang tidak terduga : menjadi bintang televisi. Profil diri saya sebagai suporter kemudian diangkat dalam sebuah dokudrama, dokumentasi merangkap drama. Syutingnya di rumah saya, Wonogiri, juga di Solo. Dokudrama tersebut telah ditayangkan di TransTV, 29 Juli 2002.

Salah satu adegan film itu adalah ritus pen-cap-an kaki-kaki para pemain sepakbola, yang dilakukan di mess pemain tim Persijatim Solo FC. Di tempat inilah, antara lain, saya mengobrol dengan Ismed Sofyan, pemain timnas kelahiran Tualang Cut, Aceh, 28 Agustus 1979. Dengan dia saya memiliki kemiripan, sama-sama berbintang Virgo, tetapi tanggal lahir saya 4 hari lebih awal. Ismed Sofyan kini, kita tahu, merupakan pemain sayap timnas yang terkemuka.

Prestasi Ismed itulah yang membuat saya senang ketika bisa menemuinya lagi, tiga tahun kemudian. Kali ini di Amara Hotel, Tanjong Pagar, Singapura. Saya dan Mayor sempat titip tas di kamarnya, nomor 707, dan sorenya ikut konvoi ke Stadion Kallang untuk menjadi saksi final Piala Tiger 2004/2005 melawan tim tuan rumah, Singapura.

Image hosted by Photobucket.com

Magis Putih Peter Withe. Mengapa magisnya Peter Withe mampu mengangkat Thailand tetapi belum berhasil mendongkrak prestasi timnas Indonesia ? Anda bisa memberikan jawaban ? Nampak di foto (ki-ka), saya, Mayor Haristanto dan Peter Withe di lobi Hotel Amara, Singapura, 16/1/2005.


Sayang, kita kembali kalah. Magisnya Peter Withe belum bertuah. Di Senayan kita sudah kalah, 1-3, dan di Kallang kita kembali kalah, 2-1. Ketika kami kembali ke kamar hotelnya, Ismed Sofyan sesekali bernostalgia tentang Solo. Ia pun mengeluarkan semua isi lemari es kamarnya untuk menjubeli tas kami, sementara ofisial memberi satu boks berisi puluhan botol minuman Gatorade (saya hanya ambil 3-4, sisanya ditinggal di lorong hotel), walau pun demikian obrolan memang terasa hambar adanya.

Ketika malam semakin merambat, saya dan Mayor minta pamit. Kami harus ke Hotel Quality di Baliester Road. Sambil menunggu antrian taksi, kami melihat Kurniawan, Hendro Kartiko dan teman-temannya juga keluar hotel. Pesona malam Singapura yang gemerlap memang pantas untuk mereka jelajahi. Untuk membuang frustrasi akibat kegagalan timnas kita kali ini ?

Hari Senin, 6 November 2006, saya bisa ketemu Ismed Sofyan lagi. Kali ini di Hotel Agas, Solo. Saya tinggal di Wonogiri, 32 km selatan Solo. Tetapi saya sangat jarang ke Solo. Gara-gara Internet yang mampu membuat Wonogiri hanya dipisahkan klik dan klik dengan Walikukun, Wamena, Westminster (UK), Wiesbaden (Jerman), Wisconsin (AS), Windhoek (Namibia) sampai Wyoming (AS), membuat saya jarang melakukan perjalanan secara fisik. Tetapi timnas PSSI Senior yang memutuskan berlatih di Solo, menggerakkan kaki saya untuk kembali ke kota kelahiran ini.


Kartu Merah Dari Ponaryo Astaman ? Saya tidak hanya be-reuni dengan Ismed Sofyan, tetapi juga alumnus Piala Tiger 2005 lainnya. Antara lain dengan Hendro Kartiko, Jendry Pitoy, Maman Abdurrachman, Ponaryo Astaman, Syamsul Haeruddin, sampai Zaenal Arief. Tentu saja, Peter Withe.

Image hosted by Photobucket.com

Tetap Optimis, Walau Kalah. Begitu Mayor dan saya memasuki tribun berisi suporter Indonesia di Stadion Kallang Singapura, segera merasakan “kimia” yang berubah. Spanduk “Bangkit Indonesia !” yang kami bawa, memicu seluruh tribun tergerak bersama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya merinding dan meneteskan air mata. Chan Yi Shen, wartawan olahraga koran utama Singapura, The Straits Times, tiba-tiba menggamit saya. Kami mengobrol di lorong gang menuju tribun. Esoknya, koran The Straits Times (17/1/2005) memuat pendapat saya. Sebelum saya menemui Peter Withe di Solo, foto ini juga saya emailkan kepadanya, juga kepada Ponaryo Astaman dkk. Di mana pun timnas berada, via teknologi informasi, saya berusaha menjangkau mereka : untuk memberikan dukungan kepada perjuangan mereka !


Di Singapura Peter Withe menandatangani kaosku di punggung, yang tertera slogan kreasiku : I Believe The Withe Magic ! Kali ini di Solo Withe menandatangani di sebalik poster, yaitu foto saat spanduk “Bangkit Indonesia !” yang menghiasi tribun Timur Laut Stadion Kallang Singapura dijepret di antara suporter-suporter Indonesia.

Sebenarnya aku pengin sedikit berdiskusi dengannya seputar buku tentang lanskap mutakhir dunia suporter sepakbola di Inggris, karya Mark Perryman, Ingerland : Travels With A Football Nation (2006). Buku itu aku peroleh dari kekasihku, Niniz, yang lebih dari 20 tahun (dan kini masih) sebagai warga London.

Aku pengin mendengar pendapat dia terbaru tentang suporter sepakbola Indonesia. Semoga ada pendapat Peter Withe yang lebih konstruktif, mengingat di final Piala Tiger leg I di Senayan, 8 Januari 2005, aku merekam suaranya yang sangat memprihatinkan kedewasaan dan rendahnya sportivitas suporter Indonesia.

Betul saja pendapat dia saat itu. Saat itu, di malam ketika Senayan begitu membara karena timnas kita kalah 1-3 dari Singapura, aku ikut kena getah. Tertimpuk botol air mineral yang berisi penuh amonia. Alias air kencing. Sokurlah, tutup botolnya rapat, sehingga tidak jadi membuncah untuk memandikan diri saya dengan cairan yang memabukkan itu !

Dengan Hendro Kartiko, yang dengan senang hati membawa pulang poster kreasi BioBanners, bergambar dirinya untuk menandai prestasinya sebagai kiper terbaik pilihan ANTeve Award 2005, aku tanyakan hal menarik. Sebagai selebriti sepakbola, apakah ia tidak tertarik untuk menulis buku ? Ia mungkin agak kaget dengan pertanyaan “sok intelektual” semacam itu. Aku memang tidak meminta jawaban tegasnya saat itu. Aku hanya berharap semoga “virusku” ini telah memasuki benaknya. Untuk menjadi pertimbangan yang semoga berguna.

Di hotel Agas, sesudah makan siang, saya juga menodong sang kapten, Ponaryo Astaman. Sekadar info : Radio BBC Siaran Indonesia pernah mengangkat tema hukum di seputar pertandingan sepakbola Indonesia. Karena teater sepakbola kita sarat dengan perkelahian antarpemain, juga suporter, memunculkan wacana : apakah tindakan brutal pemain yang menganiaya pemain lain atau wasit, dapat dipidanakan di luar lapangan hijau ?

Salah satu nara sumber dari siaran BBC Siaran Indonesia itu adalah Ponaryo Astaman. Ia mengeluhkan hal yang bagi saya sungguh sangat mengagetkan. Menurutnya, selama menjadi pemain sepakbola, ia TIDAK PERNAH diberikan bekal pengetahuan mengenai peraturan-peraturan dalam pertandingan sepakbola.

Selama ini, kata Ponaryo, pemain sepakbola Indonesia memahami peraturan yang ada hanya berdasarkan pengalaman empiris, learning by doing, naluri, mungkin seperti tikus-tikus dalam percobaan pemenang Nobel 1907 Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) asal Rusia yang terkenal itu. Kasarnya, kalau seseorang pemain melakukan satu kesalahan, lalu diganjar hukuman, ia akan meregisternya di benak untuk menjadi panduan pribadinya di masa depan.

Tetapi kita tahu, kesalahan dalam permainan sepakbola itu relatif banyak dan beragam. Agar mampu untuk selalu patuh peraturan, apakah kemudian setiap pemain Indonesia harus terlebih dulu melakukan SEMUA kesalahan dan memperoleh hukumannya pula ? Proses belajar yang sungguh-sungguh primitif.

Apakah hal memprihatinkan itu kini masih terjadi ? Ponaryo Astaman menjawab, dengan nada tak yakin, bahwa mungkin saja pemain-pemain yang muda-muda (di bawah generasinya) telah mendapatkan sosialisasi tentang peraturan itu. Kita akan mengetahui jawabnya yang pasti : apakah dalam pertandingan internasional masih banyak pemain Indonesia diganjar kartu kuning atau kartu merah, tetapi mereka tetap saja selalu merasa tidak bersalah ?


Pulang Kampung : Stadion Manahan ! Sebelum berangkat ke Solo, ada acara penting bagiku di pagi itu : mendengarkan program “Saga” dari Kantor Berita Radio 68H, Jakarta. Menurut reporternya, Tatik Yuniarti, untuk Solo KBR Radio 68H punya afiliasi, Radio PTPN dan di Wonogiri adalah Radio GIS.

Tatik Yuniarti pada tanggal 30 Oktober 2006 telah mewawancaraiku dalam kapasitas sebagai penggagas dan pendiri Epistoholik Indonesia (EI), yaitu komunitas penulis surat-surat pembaca di media massa. Keinginan menggebu untuk mendengar suaraku sendiri, juga teman-teman se-visi, misi dan “seprofesi,”, baik yang tinggal di Jakarta (Budi Purnomo, Dr. F. Pudiyanto Suradibroto, Dharmawan Sucipto, Asrie M. Iman) dan Solo (antara lain FX Triyas Hadi Prihantoro, guru SMA St. Joseph, Bapak Soeroyo atau Bapak H. Erlangga Chandra), ternyata gagal.

Radio PTPN Solo dan radio GIS tidak merelai acara yang berlangsung jam 07.45 – 08.00 itu. Sudahlah – aku anggap saja, masih ada puluhan radio dari Sabang sampai Merauke, terutama di Jakarta sendiri, yang telah mengudarakan kiprahku dan teman-temanku sebagai pencandu penulisan surat-surat pembaca selama ini.

Dalam wawancara dengan Tatik Yuniarti, juga terungkap sisi hidupku yang lain, sebagai suporter sepakbola. “Tetapi saya sudah pensiun dari aktivitas di Pasoepati,” kataku. Walau pun demikian, sebagai suporter dan pencinta sepakbola diriku masih mencurahkan pikiran dan perhatian, baik sebagai kontributor untuk majalah sepakbola Freekick (Jakarta) dan mengelola blog Suporter Indonesia ini.

Mendudukkan diri sebagai “pensiunan” Pasoepati itulah yang membuat langkahku terasa ringan memasuki Stadion Manahan. Senin sore itu akan dilangsungkan pertandingan persahabatan, antara tim tuan rumah Persis Solo yang baru saja naik ke Divisi Utama melawan anak-anak asuhnya Peter Withe. Penonton memenuhi tribun Barat dan pinggir lapangan.

Aku hanya ingin menikmati suasana, bukan semata ingin menonton pertandingan atau pun melihat hasilnya. (Bersambung).



Image hosted by Photobucket.com

Penulis (kaos kuning) bersama FX Triyas Hadi Prihantoro, guru SMA St. Joseph Solo yang sekolahnya mengadakan acara temu muka dengan Timnas Senior PSSI yang berlatih di Solo sebelum terjun dalam Turnamen BV Cup di Vietnam, dengan hasil tiga kali kalah. Foto diambil di Stadion Manahan Solo, 6 November 2006.

Wonogiri, 8 November 2006


si

Links to this post

Create a Link

"All that I know most surely about morality and obligations I owe to football"



(Albert Camus, 1913-1960)

Salam Kenal Dari Saya


Image hosted by Photobucket.com

Bambang Haryanto



("A lone wolf who loves to blog, to dream and to joke about his imperfect life")

Genre Baru Humor Indonesia

Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau, Buku humor politik karya Bambang Haryanto, terbit 2012. Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau! Pengarang : Bambang Haryanto. Format : 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-97648-6-4. Jumlah halaman : 219. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : Februari 2012. Kategori : Humor Politik.

Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau ! Format: 13 x 20,5 cm. ISBN : 978-602-96413-7-0. Halaman: xxxii + 205. Harga : Rp 39.000,- Soft cover. Terbit : 24 November 2010. Kategori : Humor Politik.

Komentar Dari Pasar

  • “HAHAHA…bukumu apik tenan, mas. Oia, bukumu tak beli 8 buat gift pembicara dan doorprize :-D.” (Widiaji Indonesia, Yogyakarta, 3 Desember 2010 : 21.13.48).
  • “Mas, buku Komedikus Erektus mas Bambang ternyata dijual di TB Gramedia Bogor dgn Rp. 39.000. Saya tahu sekarang saat ngantar Gladys beli buku di Bogor. Salam. Happy. “ (Broto Happy W, Bogor : Kamis, 23/12/2010 : 16.59.35).
  • "Mas BH, klo isu yg baik tak kan mengalahkan isu jahat/korupsi spt Gayus yg dpt hadiah menginap gratis 20 th di htl prodeo.Smg Komedikus Erektus laris manis. Spt yg di Gramedia Pondok Indah Jaksel......banyak yg ngintip isinya (terlihat dari bungkus plastiknya yg mengelupas lebih dari 5 buku). Catatan dibuat 22-12-10." (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :21.30.05-via Facebook).
  • “Semoga otakku sesuai standar Sarlito agar segera tertawa ! “ (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.50.05).
  • “Siang ini aku mau beli buku utk kado istri yg ber-Hari Ibu, eh ketemu buku Bambang Haryanto Dagelan Rep Kacau Balau, tp baru baca hlm 203, sukses utk Anda ! (Bakhuri Jamaluddin, Tangerang : Rabu, 22/12/2010 :14.22.28).
  • “Buku Komedikus Erektusnya sdh aku terima. Keren, mantabz, smg sukses…Insya Allah, suatu saat kita bisa bersama lg di karya yang lain.” (Harris Cinnamon, Jakarta : 15 Desember 2010 : 20.26.46).
  • “Pak Bambang. Saya sudah baca bukunya: luar biasa sekali !!! Saya tidak bisa bayangkan bagaimana kelanjutannya kalau masuk ke camp humor saya ? “ (Danny Septriadi,kolektor buku humor dan kartun manca negara, Jakarta, 11 Desember 2010, 09.25, via email).
  • “Mas, walau sdh tahu berita dari email, hari ini aq beli & baca buku Komedikus Erektus d Gramedia Solo. Selamat, mas ! Turut bangga, smoga ketularan nulis buku. Thx”. (Basnendar Heriprilosadoso, Solo, 9 Desember 2010 : 15.28.41).
  • Terima Kasih Untuk Atensi Anda

    Powered by Blogger
    and Blogger Templates